My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
S2 Bab 2


__ADS_3

***


Author : Guys,  Like dan komen nya jangan lupa yah~ biar Author semangat. Hehe ^^ . kalau ada salah penulisan,  atau alur rada menyimpang Kritik aja Guys. Tapi,  jan pake bahasa yang pedes - pedes. Akunya baperan soalnya. Pokoknya,  Lov yu~


***


Thifa menghela napasa lega,  setelah dia melewati gerbang sekolah itu dengan aman dan selamat. Pasalnya,  yang tugas piket hari ini tuh Pak Bram. Satu dari banyaknya guru killer. Setiap masuk gerbang,  dia bakal cek kelengkapam atribut. Mulai dari Dasi,  ikat pinggang,  Nama,  Sepatu musti warna hitam. Enggak boleh cat rambut. Bla bla bla deh,  masih banyak lagi.


Bahkan,  panjang kuku juga di batesin loh ~ parahnya. Joinnya pak Bram tuh bu Yuna,  yang hobinya bawa jepitan kuku kemana aja. Beneran hari piket yang menyialkan.


Meskipun Thifa anak yang patuh dengan aturan,  pakaian dan segalanya lengkap. Tetap saja deg degan melewati pemeriksaan itu. Mungkin,  emang nuansa killer nya itu. Syukurlah semua sudah selesai~


Thifa melalui koridor sekolah yang belum terlalu ramai,  karna masih ada setengah jam lagi sebelum bel.  Soal Arfen. Hari ini Arfen memang tidak menjemput Thifa,  ada urusan mendadak sih katanya.


"Wuaahhhh!! Kuku gue! Kuku gue yang cantik pink pink!! Baru di potong sama bu Yuna!! Huwaaa!! " Teriakan dengan suara cempreng itu menggema di kelas 12 IPS SATU.


Belum juga Thifa sampai di kelas. Namun,  suara yang terdengar familiar itu sudah menyambut hangat dirinya.


"Apa lagi sih Mel? Teriakan lo udah kaya toa tau gak?! Kedengaran noh sampai ujung. Berisik bener. Sakit tau kuping orang. Gendang telinga gue bisa - bisa pecah. " Protes Thifa yang baru saja datang. Mendekat ke arah Dua sahabatnya itu.


"Ini semua karna bu Yuna! Kuku gue di potong! Padahal gue sengaja cuman nyisahin jari manis,  sama jentik. Cuma dua itu doang. Tetap aja di potong. Huhu... " adu Melia,  dengan mengusung wajah yang membuat orang lain iba.


"lebay amat sih lo. Itu cuma kuku loh,  entar kan bisa numbuh lagi. " Sambar Anggi enteng.

__ADS_1


"Bagi lo mungkin cuma kuku,  tapi bagi gue beda. Memiliki kuku jari manis dan jentik yang panjang itu suatu kesenangan tersendiri bagi pecinta kuku. " Terang Melia tak mau kalah.


"Halah udah Nggi,  enggak usah di tanggepin. Ngaco nih anak. Belum bangun. Biarin aja. Masih di awang - awang otaknya. " Tambah Thifa tertawa geli sendiri.


"Kalian ishhhh!!! "


***


Jam pelajaran pertama sudah selesai. Seperti biasa,  Thifa sering di panggil oleh guru di sela - sela pergantian pelajaran itu. Seperti kali ini,  Thifa di panggil oleh pak Ghani. Entah apa  maksud dan tidak tujuannya.


Saat melewati koridor,  Pandangan Thifa jatuh pada Satu dari empat cowok yang berbaris rapi dengan tangan terangkat menghormat bendera.


Baik satu,  ataupun tiga orang lainnya. Thifa sangat mengenal orang itu. Orang  - orang yang menjadi bahan haluannya ciwi - ciwi,  karna emang mereka terlalu tampan.


Kaki Thifa gatal rasanya ingin melangkah mendekat ke arah sana. Jika dia tidak melangkah,  dia akan menyesalinya.


"biasa dong~ habis mabar di pagi hari. Sekali - sekali lah. Lama juga udah gak mabar. " Sahut Arfen enteng. Menatap nakal gadis impiannya itu.


"Mabar kan bisa di sekolah Fen. Enggak perlu lah telat dan sampai di hukum gini. "


"Itu dia masalahnya Thif. Mabar maksud Arfen tuh,  bukan main bareng. Tapi,. Makan bareng sama anak yang punya kedai. Anak nya sih kata mereka cantik. " Sambar Riyan enteng. Entah tidak sadar atau sengaja untuk mengundang kemarahan Thifa. Perkataan itu keluar begitu saja dari mulut Riyan.


"Oh jadi gitu~ cuma mau liat dan makan sama cewek cantik. Makanya ke sana. " Respon Thifa menatap tajam Arfen. Berharap tatapan itu akan menusuk tulang - tulanh cowok tengil itu.

__ADS_1


"Enggak gitu yang~ kita kesana emang Mabar,  Main bareng. " kekeuh Arfen.


" Mabar kan bisa di kelas?! "


"Di kelas gak ada wifi yank. Kebetulan kuota di hp sekarat. Jadi cari yang gratisan aja. hehe. " masih menjawab dengan cengiran manis khas Arfen. Berharap,  Thifa luluh dengan wajah manisnya.


"Bokap lo kan kaya! Lo anak konglomerat loh Fen! Gimana mungkin kehabisan kuota!! "


"Uang jajan gue tabung buat kita nikah Thif. Gue orang nya bertanggung jawab,  memikirkan masa depan lo. Di mana lagi coba lo dapat suami kaya gue. "


"Serah akh!! " Kesal Thifa,  ia pergi dengan menghentakkan kasar kakinya. Pertanda,  gadis manis itu tengah marah.


"Oi,  Hasan. Kira - kira Thifa bakal ngasih tau Melia enggak yah? Kalo Melia tau, gimana nasib guu? Habislah ~ " Celetuk Fandri,  tatapan matanya kosong.


"Kalo Anggi tau. Uhhh,  sial!! " Sambut Hasan ikut pusing.


"hadeuh... Nih karna lo sih Yan! Parah lo! " Ujar Arfen.


"Salah sendiri,  udah tau punya pacar. Rayuin anak orang belagak bebas. " sahut Riyan enteng.


"Halah elo mah iri,  karna jomboo sendiri! Wooo!! Makanya cari pacar sono!!" ledek Fandri tak mau kalah. Yang di sambung gelak tawa oleh Arfen dan Hasan. Menyisahkan Riyan yang hanya bisa menghela napas.


Bukannya gue gak mau pacaran. Cumanya aja,  gue masih nunggu dia.

__ADS_1


Batin Riyan.


***


__ADS_2