My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
S2 Bab 15


__ADS_3

***


Raeders :Kak up lagi


Author :Up? okeh~


***


Pagi telah berganti siang, Matahari kini sudah ada di tengah - tengah. Dan, Rombongan Sekolah Merah Putih itu sudah ada di depan Beberapa tanda kemah sederhana. Enggak ada Wifi, Sinyal ilang timbul, Listrik seadanya.


Tenda Regu Thifa dan yang lainnya sudah berdiri tegak. Tentu para gadis manis itu di bantu oleh Arfen dan yang lainnya. Ke empat gadis itu ada dalam satu tenda besar yang sama.


"Wah, Cocok nih. Andai kita kesini nya udah halal. Jelas satu tenda kita Thif, Kenapa gak gue halalin dulu kemaren. " Rutuk Arfen dengan nada penyesalannya. Menggelengkan kepalanya pelan, untuk meyakinkan aktingnya.


"Andai Thifa Nolak Arfen. Fix, Anak ini gila nya gak ketulungan. " Sambar Raisa menepuk bahu sepupu tengil nya.


Plakkk!!!


Arfen memukul nyamuk di sebelah Thifa.


"Enggak bisa nolak dong. Dia harus terima, Gue bakal Musnahin satu persatu orang yang berani rebut Thifa nya gue dari Arfen!" Ujar Arfen serius, menatap serius Thifa. Seketika aura suram. Arfen mengeluarkan aura yang menyeramkan.


"Cewek lo takut tuh. Simpan dulu dong Aura Seram nya. " saran Hasan menepuk bahu Arfen.


"Maksud kalian apa? " Heran Thifa menatap Arfen cs bergantian.


"Lo gak tau Thif? Ega? Ega yang coba deketin lo, dan berani godain lo di kantin. Dia udah Krekkk! Tangannya di patahin sama Arfen. " Sambar Fandri dengan nada Provokator nya.

__ADS_1


Seketika Tubuh Thifa diam tak bergeming, dia ingat memang Ega si playboy sekolah berani menggodanya, yang sudah seantero sekolah tau bahwa Thifa milik Arfen. Arfen juga bilang akan mematahkan tangan orang itu. Namun, Thifa tidak pernah tau bahwa itu benar - benar terjadi. Sampai Fandri memberitahukannya hari ini.


Tukhhh!!


Arfen memukul pelan kepala si mulut bocor itu.


"Thif, takut sama gue? " Tanya Arfen, menatap makna mata gadisnya. Thifa diam, namun kedua tangannya terlihat agak gemetar. "Ikut gue, biar gue kasih tau satu Rahasia. " Arfen manarik tangan gadisnya.


***


Ada beberapa tenda yang sudah mereka susun, dan ada yang


belum. Contoh yang belum adalah Tenda Vania.


Vania beserta Dua orang temannya, yang mencoba membangun tenda sederhana masih belum selesai juga.


Vania menoleh, lalu tersenyum menatap cowok itu. "Belum nih Rehan, Susah banget berdiriinnya. " Keluhnya lagi.


Yah, cowok itu adalah Rehan Hardi, Si Ketos yang jadi Asumsi parameter orang ganteng punya Vania.


"Jangan cuma nanya dong Re, bantuin kek. Kita udah dalam usaha yang maksimal nih. " Keluh salah satu teman Vania, Nana namanya.


"Iya Nana iya, gue kesini emang mau bantuin kalian kok. Santuy kali. "


"Emang Tenda kalian udah selesai?" Tanya Vania.


"Udah dong, gue kan cowok. Cocok kan jadi calon imam. "

__ADS_1


"Cocok banget, apalagi jadi tukang sapu jalanan. " Kekeh Nana,


Di ujung Perkemahan itu, ada yang berapi api mendengar tawa pecah mereka.


"Kalo gue punya nuklir sekarang. Gue seret tuh bocah ke pulau pribadi gue. Gue luncurkan Nuklir pas di badan bocah itu! " Geram Riyan, menatap sinis Rehan.


Riyan tetaplah Riyan. Meskipun dia dingin dan arogan, dia tetaplah siswa yang mendapat gelar satu dari empat orang gesrek di sekolahnya.


"Vania Keylan, dari kelas Sembilan lima, di panggil sama Pak Ghani guru SMA. " Seru Riyan, dengan enteng datang ke rombongan Anak SMP itu. Bentar, Kapan Pak Ghani ngomong gitu?


"Oh Hai Kak. Kakak ini? Riyan Adijaya kan? Anak tunggal Presdir Agung? " terka gadis itu, Nana. Matanya langsung berbinar menatap Riyan. "Wah, Gantengan Aslinya daripada yang di foto. Uwu~ boleh minta tanda tangan Kak? Nanti Nana masuk ke SMA itu deh, " antusias Nana.


"Telat setahun lo. Dia udah kelas Tiga. Percuma lo masuk di sana. Dia udah Tamat. " Ketus Vania menghampiri Riyan, menarik lengan kekar cowok itu.


Iyah iyah Aku tau Om Galak ini Ganteng! Tapi, dia itu galak tau. Nana pasti kesal liat tingkah galaknya nanti! Humph! Aku cepat harus bawa om Galak pergi dari sini, Atau Nana akan terkontaminasi sama orang super galak ini. Nana, Ingatlah Vania sahabatmu menyelamatkan mu.


Batin Vania, dia yakin bahwa rasa kesalnya itu datang dari Dia yang ingin melindungi Nana dari kegalakan Riyan, bukan karna Vania cemburu atau semacamnya, kan?


"Tapi, tetap aja kan ada Bangku bekas peninggalan kakak ganteng ini. " Kekeuh Nana yang sudah jatuh hati di pandangan pertamanya.


Nana bodoh! Aku menyelamatkam mu tau!


Vania dengan kesal menarik Riyan jauh, sejauhnya. Sedangkan yang di tarik merasa begitu bahagia karna Riyan yakin, Vania tengan cemburu, kan?


Manisnya. Haruskah sering - sering buat dia cemburu gini?


Batin Riyan tersenyum puas. Puas sekali rasanya.

__ADS_1


***


__ADS_2