
***
Thifa membuka mata nya perlahan, masih kabur pandangan nya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, guna memperjelas pandangan nya. Beberapa detik berlalu. Sedikit demi sedikit dengan kekuatan sepenuh nya, Thifa mulai mengumpulkan kesadaran nya.
Dimana Gue?
Batin nya. Ada yang aneh, ia merasa kedua pipinya seperti di tarik. Dan benar saja, sudah ada kain yang di ikat di wajah nya guna menyumpal mulut nya.
Bukan hanya itu, Thifa juga menyadari kedua tangan nya di ikat di belakang, kaki nya di ikat menyatu dengan kursi yang di duduki nya.
Refleks, gadis mungil itu meronta seketika. Tapi apa? Tentu hasil nya nihil. Thifa bukan gadis yany bisa bela diri , dia hanya pernah mengikuti Pengembangan diri Silat waktu SMP, dan itu pun hanya setahun. Jadi, dapat di kategorikan Thifa gadis biasa saja, yang tak kan mungkin melepas talinya. Dia bukan agen.
Meski begitu, ia tak menyerah. Ia masih berusaha melepas ikatan - ikatan itu.
Thifa kembali mengingat kejadian sebelum nya, Gadis mungil itu ingat. Dia di culik saat duduk manis di halte.
Siapa yang nyulik gue? Apa motif nya? Enggak mungkin kan buat di jual di luar Negri? Apalagi buat ambil organ tubuh? Sumpah gak lucu!
Pikir nya, ketakutan sudah ia rasakan. Apalagi jika kemungkinan dia di culik adalah untuk di ambil organ nya. Argumen Thifa yang itu semakin kuat, saat ia ingat pernah membaca artikel, atau berita di sosial media. Yang menceritakan Penculikan anak - anak yang kemudian di ambil organ nya.
Gue bukan anak - anak? Gak mungkin gitu kan!
__ADS_1
Dalam situasi apapun positif thingking adalah jalan nya. Namun, di keadaan Thifa saat ini. Sangat sulit bagi gadis itu untuk berfikir jernih. Ketakutan sudah menguasai diri nya. Badan nya sudah gemetar, fantasy aneh sudah terbayang di kepala nya.
Apapun itu, Gue gak boleh mati?! Gue harus bebas!
Gadis mungil itu mengedarkan pandangan nya, berharap ada sesuatu yang tajam, yang bisa ia gunakan untuk melepas tali nya.
Gak ada pisau? Gunting? Apa gitu yang tajam yang bisa buat gue motong tali? Biasa nya di film ada tuh pisau dekat sandra. Trus di ambil pake kaki si sandra, dan sandra pun bebas. Dimana sih pisau nya? Ayo dong ada.
Realita tak seindah Ekspetasi, itulah yang kini Thifa rasakan. Gadis mungil itu dengan sejuta rencana halu nya, harus mundur. Karna yah memang itu mustahil.
Okeh, ini Real life. Bukan kisah yang berdasar skenario semata. Ayo sadar Thifa! Pikirkan cara lain.
Ia menyemangati dirinya sendiri. Tapi, nyata nya tak berfungsi. Bukan nya semangat, ia malah mendadak begidik ngeri mengingat berita aneh soal penculikan.
***
Dimana lo sih Thif?! Gue udah keliling nyariin elo. Kenapa belum ketemu!! Kita belum nikah! Belum punya Anak!
Batin Arfen, terus melajukan mobil nya, sembari menatap jalanan itu. Berharap, gadis nya ada di sana. Tapi, nayatanya?
Arfen mengingat nya. Ketika ia mendengar bahwa Thifa hilang. Dengan gerakan kilat Arfen memanggil orang - orang nya untuk mencari keberadaan Thifa.
__ADS_1
Arfen terlihat sangat panik. Ari mulai mengambil kesimpulan, bahwa bukan Arfen lah yang menculik Thifa. Jika Arfen pelaku nya. Tak kan mungkin Arfen sepanik ini.
Bukan hanya Arfen. Presdir Besar Rei dan Nathan juga turut campur mencari keberadaan Thifa. Mereka menggunakan koneksi nya untuk mencari gadis mungil itu.
Arfen memijit tulang antara kedua alis nya, yang terasa cenat cenut. Yang ada di otak nya hanya Thifa dan Thifa. Arfen bahkan meminta bantuan Fandri, Hasan, dan Riyan.
Sudah tiga jam Arfen mencari Thifa, namun tak kunjung ada hasil. Menurut Informan Nathan, Thifa terakhir kali berada di halte. Dan seterus nya tak ada yang tau. Bahkan saat kejadian penculikan tak ada saksi.
Thifa!! Jawab Thif! Gue khawatir beneran nih ke elo!!
Arfen masih dengan resah menatap HP nya di depan. Dengan gambar sedang menelpon Thifa. Tapi, tak ada jawaban.
***
"Bu Layla tenang saja. Thifa akan di temukan. Percaya sama Anak saya. Oh yah, Suami dan kakak saya orang nya tegas. Mereka pasti akan menemukan anak ibu. " Hibur Sheryl, yang menatap sendu ke arah Bu Layla yang tengah lesu.
"Iyah, ibu tenang saja. Jaga kesehatan, jangan terlalu di pikirkan. Mereka akan menemukan Thifa, Thifa Anak yang baik. Allah akan selalu lindungi orang yang baik. " timpal Aisyah yang ikut mencoba menenangkan seorang ibu yang tengah kehilangan putri tunggal nya. Cahaya nya.
Layla tak mampu bersuara, ia hanya mampu menganggukkan kepala nya.
***
__ADS_1
Nextttt??
Lanjuuttt??