
Yang minta up banyak banyak dari tadi pagi. nih Author kabulin. kalian jangan Lupa Vote yah. biar Authornya juga rajin up^^
***
***
"Oh yah Fen. Gue mau nanya nih. Lo kan sepupunya Raisa. Si Raisa sama Nando cocok gak? " tanya Thifa.
Arfen sepupunya Raisa. Kalo Nando dapat dukungan Arfen. Mungkin aja Nando beneran bisa dapetin Raisa. Mereka cocok soalnya.
Batin Thifa, Ia berharap Arfen mengatakan iyah.
"Enggak sih. Gue lebih ngerasa si Raisa lebih cocok sama Riyan. " Sahut Arfen enteng. Bagaimanapun juga. Dia akan membela sahabatnya kan?
"Lah? Emang Riyan juga suka sama Raisa? " Heran Thifa. Sangat tidak terbaca jika Riyan juga menyukai Raisa. Aneh, itulah Yang Thifa pikirkan.
"Juga? Maksud Lo, si Nando suka beneran sama Raisa? "
Thifa mengangguk pasti. Arfen menghela napasnya kasar.
"Tapi kan Fen, Gue ngerasa kalau Raisa lebih cocok sama Nando. Soalnya Raisa kayaknya ada perasaan sama Nando. Nando gitu juga kan." Bela Thifa. Ia tak mau lagi, Sahabat nya sakit hati.
Namun, di satu sisi Thifa juga merasa bersalah. Jika sahabatnya tidak sakit hati. Maka, sahabat Arfen lah yang sakit hati.
Gue egois. Apa yang harus gue lakuin. Gue bingung.
Arfen mengingat lagi. Yah, Arfen sadar. Bahwa ada yang berubah dari Raisa. Cowok tengil itu semakin yakin, karna Sikap Raisa sangat berbeda pada Nando. Ada yang aneh.
__ADS_1
Mungkin, Raisa emang?
Batin Arfen. Ia tak kuasa membayangkan jika Raisa benar - benar menyukai Nando. Lalu, bagaimana dengan Riyan dan apa kabar dengan perasaan nya?
Arfen juga ikut merasakan sakit.
"Fen, maafin gue. Jangan dengerin ucapan gue barusan. Udah lah, gimana kalau kita enggak usah ikut campur. Biarin mereka yang nentuin jalan mereka sendiri. Oke? Gue gak mau karna masalah ini, kita jadi jauh. Jadi, biarin mereka? " Lirih Thifa menatap binar Arfen yang tengah kebingungan.
Thifa bisa melihat betapa sedihnya Arfen saat ini. Itu terpancar jelas dari mata Arfen.
Meski Thifa sangat menyayangi Nando sebagai sahabatnya. Namun, gadis mungil itu tak ingin mengambil resiko kandasnya hubungan nya dengan orang yang sangat dicintainya.
Ia memilih diam dan tak ikut campur. Jika Thifa terus mendukung Nando. Ada harga yang sangat mahal harus dibayarnya. Ia masih tak kuasa untuk kehilangan Arfen.
Sosok seperti Arfen hanya ada satu di dunia ini. Maafin gue Nan. Gue gak bisa korbanin hubungan gue. Lagian, semuanya Raisa lah penentunya.
Tring! Tring!
Handphone Arfen berbunyi, membuyarkan lamunan cowok tengil itu.
Riyan?
Batin Arfen melihat Nama orang yang menghubunginya. Dan orang itu orang yang sama penyebab termenung nya Arfen. Cowok tengil itu sangat tak tega jika harus melihat sahabatnya sakit dan menderita. Apalagi, diantara yang lain. Arfen memang paling dekat dengan Riyan.
"Ap--? "
"Gue gagal Fen. Gue telat. Gue kalah. Raisa udah cerita ke gue. Dia sukanya sama Nando. Jadi, Udahlah. Gue udah putusin buat Ngalah. Raisa bahagia sama Nando. Gue gak mau hancurin itu. Gue bahagia kalo Raisa bahagia. Jadi, berhenti usahain hubungan gue sama Raisa. Oke? " Lirih pelan Riyan. Entah lah, cowok katanya kuat dan gak pernah nangia. Tapi, dari suara serak Riyan. Seperti nya ia memang tengah menahan perih hati.
__ADS_1
"Oh yah, Lo antar Thifa dulu gih sampai Rumah. Trus balik ke Rumag sakit. Gue mau ngamuk plus ngomel - ngomel nih. Kayaknya gue juga bakal nangis seenggaknya setetes dua tetes lah. Haha " Tambah Riyan, dia agak tertawa bercanda. Namun, Arfen tau jelas. Bahwa saat ini Riyan tengah menutupi kesedihan nya.
"Lo kena tembak aja gak nangis. Masa ginian doang lo nangis, parah men. Haha" Sahut Arfen mecoba tertawa juga. meski itu hanya Palsu, mungkin?
"Luka fisik enggak sesakit luka hati Fen. Haha. Yah cowok kan gitu emang. Di luar aja pura - pura tegar. Enggak akan ada yang tau, bahwa faktanya dia nangis juga karna cewek yang di cintainya pergi. Lo aja gitu, waktu Thifa katanya Ninggal. "
"Karna cinta kita tulus Yan. "
"Udah lo buruan kesini. Bawak makanan yah sama minuman. Gue butuh. Dan yah, berhubung si Raisanya suka sama Nando. Lo bantuin mereka jadian gih. Bantuin Nando buat dapetin Restunya Om Rei. Gue juga entar bantuin kalo udah baikan. " Riyan mematikan ponsel nya.
Tes! Tes?
Cowok enggak akan pernah nangis karna cewek? Itu salah! Cowok lah yang akan sangat terpukul saat cewek yang di cintainya bersama orang lain. Yah, itu emang kewajiban cowok, buat pura - pura tegar dan Enggak nangis. Kalo cowok nangis di depan cewek? Terus sandaran nya cewek buat nangis siapa?
"Arfen, Janga--" uacapan Thifa terpotong.
"Kita bakal dukung Nando dan Raisa Thif. Elo bener mereka emang cocok. Lo emang calon binik yang paling pengertian deh pokok nya. " Arfen menghentikan mobil nya. Ia memeluk Erat Thifa dalam dekapan nya.
Tes!
Gue gak bakal bisa setegar Riyan. Saat gue kehilangan elo Thif. Jadi, tetap di sisi gue. Gue bisa gila kehilangan elo.
Batin Arfen.
Tanpa Thifa sadari. Setetes Air mata dari Mata Arfen sudah jatuh menyapa rambut wangi Thifa.
***
__ADS_1
Yang dukung Riyan X Raisa. Maaf yah. T. T