My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
Episode 24


__ADS_3

***


Untuk yang minta terus up. Nih Author kasih. Hehe. Niat nya sih Author enggak pengen up hari ini yah. Eh,  ternyata level Author naik. Jadi makin semangat buat up. Makanya,  terus like,  komen di setiap Chapter,  dan jangan lupa untuk rate,  vote,  dan Favorit yah. ^^


love yuuu


***


Cuppp


Satu kecupan singkat Arfen daratkan di kening Thifa. Thifa tertegun. Membuat Anggi dan Melia tertegun. Meski duta gosip,  mereka baru pertama kalinya melihat adegan live seperti ini. Membuat hati mereka berdebar.


"Ar--fen?  Elo? "


"Gue sayang ke elo Thif... Berapa  kali pun lo nyakitin gue,  gue bakal tetep sayang ke elo. " Seru Arfen,  sekali lagi mendarat kan kecupan manis nya di pucuk kepapa Thifa.


"Thif,  Thif,  buruan kesempatan nih... " Heboh Anggi,  menyenggol - nyenggol lengan Thifa. Membuat Gadis mungil itu berdecak kesal.


"Arfen... Sebenarnya Thifa it--"


"Diem deh!  Rese!! " Bentak Thifa memotong ucapan Melia.


"Janhan kasar dong Thif,  Calon gue nih " bela Fandri,  merangkul Melia.


Anggi dan Thifa melotot tak percaya. Sejak kapan mereka menjadi sedekat itu.


"Oh pantes Melia dukung keras Thifa jadian sama Arfen. Ternyata oh ternyata,  ada main sama temen nya Arfen. " celetuk Anggi, tentu ia kesal.


"Lah,  lo Nggi?  Ngomong kayak lo jomblo aja. " sambar Hasan.


"Gue emang Jomblo yah. But,  gue itu jomblo terhormat. "


"Lo jomblo? Gue jomblo? Gimana kalau kita melebur menjadi satu. Mengurangi populasi manusia Jomblo di indonesia. " tawar Hasan,  menatap penuh makna Anggi. Bukan nya baper,  Anggi malah bergidik ngeri.

__ADS_1


Tawa mereka semua pecah seketika.


***


"Jadi,  Elo enggak marah sama gue? " tanya Thifa,  sesaat setelah Arfen melajukan mobil nya.


"Gue enggak marah. Cuma gue kecewa. Kecewa aja lo enggak percaya sama gue. " sahut Arfen,  tak karuan rasa hati nya. Bahagia atau sedih?


"Gue bukan nya enggak percaya sama lo. Cuman,  Gue sadar diri. Kita emang gak pacaran. Gue enggak ada hak buat curiga,  Cemburu,  apalagi ngelarang lo deket sama siapa aja. Itu hak elo,  bukan kewajiban gue."


"Jadi karna itu semua,  bukan karna lo masih ngehargai perasaan Zefan? "


" lo kok mikirnya gitu sih Fen?  Okeh,  Gue akui. Emang gue dulu suka banget sama Zefan. Tapi itu dulu, Sekarang gue sama sekali enggak ngerasain apapun ke Zefan. Gue serius" terang Thifa serius. Membuat Arfen sedikit tertegun, ia berusaha keras menutupi senyuman tipis nya.


"Kalo ke gue. Perasaan lo gimana? "


"Perasaan Lo ke Gue gimana? " sahut Thifa, ia membalikkak pertanyaan Arfen.


"Gue ke elo,  namanya cinta. Enggak usah tanya sejak kapan? itu gak penting. Atau jangan tanya sebesar apa?  Lo gak bakal pernah bisa ukur. Yang jelas harus lo tau. Gue cinta elo,  hari ini ... Besok...  Dan selamanya  ...." Alden menoleh seketika,  sekali lagi mengecup pucuk kepala Thifa sebentar,  di lanjutkan dengan mangacak gemas rambut gadis mungil itu.


Apa ini waktunya?


Batin Thifa,  ia mulai berpikir untuk menyatakan perasaan nya pada Arfen.


"Oh yah,  satu lagi Thif. Meski kita emang gak pacaran. Gue kasih lo hak penuh buat curiga sama gue,  cemburu, atau bahkan minta cewek lain jauhin gue. Itu semua hak dan kewajiban elo."


Deg.


Semakin cepat,  ini terasa sangat mendebarkan untuk Thifa sendiri.


***


Thifa membaringkan badan nya pelan,  mengelus Kening nya lembut. Ia ingat,  hari ini,  setidak nya Arfen sudah tiga kali mengecup lembut kening nya. Membuat jantung Thifa mau copot rasanya.

__ADS_1


Sekarang Gue sadar. Gue ke Zefan itu sayang,  dan karna gue udah terbiasa sama dia. Gue keliru, rasa itu bukan cinta. Tapi, rasa gue ke Arfen. Itu berbeda.


Batin Thifa,  ia tersenyum menatap langit - langit kamar nya. Ada rasa bahagia yang tak bisa ia suarakan lagi.


***


Bruakkkhh!! 


Bukhhhh!!


Zefan dengan penuh emosi memukul samsak yang menggantung di depan nya. Sorot matanya begitu tajam,  memancarkan aura kebencian. Ia terus memukuli samsak nya dengan brutal. Keringat mengucur deras dari badan kekar milik nya.


Tendangan demi tendangan,  terus Zefan layangkan.


"Arrghhhhh!!!  Arfen sialan!!! " Frustasi Zefan. Ia memukul brutal samsak nya setelah menyebut nama Arfen.


"Thifa!!  Lo juga kenapa?! Kenapa lebih milih Arfen!  Lo juga kenapa mau balik sama Arfen!  Kenapa lo gak mau balik  sama gue!! Kenapa Arfen!  Arfen!  Arfen!! "


Teriak Zefan keras. Sembari masih terus memukul samsak nya. Membayangkan bahwa yang ada di hadapan nya adalah Arfenik Arkasa.


Zefan ingat,  ia menunggu Thifa untuk pulang bersama tadi. Tapi,  tiba - tiba Arfen datang, mengacaukan segala rencana Zefan.


Bukhhh!!!


Kemarah Zefan memuncak, saat ia mengingat. Arfen dua kali mengecup kening Thifa lembut.


"Kenapa Thif?!  Kenapa lo mau dekat sama dia!  Tapi,  sama gue enggak!!! "


"terus lo sendiri? Lo enggak sadar diri. Kenapa lo marah?  Bukan nya lo suka nya ke Raisa?  Lo bilang gitu kan ie Thifa?? "


Zefan tertegun. Matanya membulat.


***

__ADS_1


Nexttt??


Lanjuuttt??


__ADS_2