My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
Episode 37


__ADS_3

***


Maaf yah, Kemarin aku enggak up. Huhu.. Maap


***


"Tinggal Dua lagi. Udah lah,  besok aja. Selesai Subuh di kerjain. " Ujar Gadis mungil itu,  menutup buku nya,  melangkah gontai ke arah kasur nya.


Bukkhhhh


Gadis mungil itu membantingkan badan nya,  matanya lekat menatap atap rumah nya, yang berdominasi putih itu.


Kata - kata Aurel bergema nyaring di kepala Thifa,  faktanya memang Thifa dari keluarga Menengah,  dan  Arfen dari keluarga kelas atas.


Tidur! Halusinasi ini menyiksa!


Batin Thifa. Ia mengambil earphone nya,  menyalakan music Relaksasi hujan lebat. Yah memang suasana Hujan lebat mampu menambah tidur lebih cepat.


***


"Pagi mah,  pagi pah,  eh papah?  Tumben belum ke kantor? " Sapa Manis Thifa yang baru turun, melangkah kan kaki nya ke arah Meja Makan.


"Iyah,  Papah mau sarapan bareng kalian. Yah,  soal nya kata mamah kamu tiap hari di antar jemput sama Pacar kamu. Papah mau lihat, siapa pacar kamu? " ujar santai papah Thifa,  Ari.


Ucapan Ari sukses membuat Thifa terbelalak.


Bentar,  Pacar?  Thifa sama Arfen belum pacaran!!


Batin Thifa, yah,  hanya membatin yang sanggup gadis mungil itu lakukan.


Lumayan,  berani datang kerumah,  enggak main kucing - kucingan. Anak Jaman sekarang jarang sekali ada yang begitu. Memang menantu yang di butuh kan.


Batin Ari,  ada sedikit rasa bangga pada Arfen. Keberanian langsung datang ke rumah. Jarang sekali ada cowok yang seberani itu, pikir Ari.


"Pah, Jangan galak - galak yah. Kasian,  Anak nya baik soal nya. Jangan keras. Entar kalo dia takut,  susah cari menantu yang begitu pah. Jarang ada." peringat Nayla halus. Ini semua demi keamanan Menantu nya.

__ADS_1


Emang mamah yang dekat sama Arfen?  Atau Arfen nya nyari perhatian mulu ke mamah?  Sejak kapan mamah sepeduli ini sama Arfen? 


Batin Thifa,  tak dapat bersuara.


"Assalamualaikum,  Mamah Calon mertua? " Sapa Arfen yang baru masuk dari pintu depan.


"Wa'alaikumussalam" sahut ketiga nya.


"Nah Pah,  ini Arfen. Calon mantu yang mamah bilang. Nah,  Arfen. Ini Om Ari papah nya Thifa. " ujar Layla Memperkenal kan.


"Eh Hallo om?  Apa kabar? Tumben lihat om bareng? " Sapa Arfen,  yang bahkan enggak ada terbata atau pun gagu.


Tingkat ke pedean anak ini di acungkan jempol. Bisa - bisa nya se santai itu ngehadepin bokap gue?!


"Saya baik. Silahkan kamu duduk,  ada hal -hal yang ingin saya tanyakan ke kamu. " Sahut Ari,  dengan wajah datar dan suara berat nya yang khas. Layak nya Bapak - bapak yang kejam.


"Wah makasih om,  jarang - jarang loh bisa Sarapan bareng om. " Sahut Arfen santai,  duduk di tempat yang diminta.


Ari sedikit tertegun,  melihat ketenangan Arfen.


"Uhuk!!!! "


Thifa terbatuk seketika mendengar pertanyaan Frontal Papah nya.


"Enggak ketiga nya Om. Soal nya,  saya mau jadi calon suami nya. Saya juga mau tanya  sama om. "


"Tanya apa kamu? "


"Saya mau nanya,  cara dapetin restu om gimana?  Terus,  caranya jadi suami yang baik gimana?  Saya kan mau jadi suami terbaik untuk anak om nanti. "


"Hahaha!!  Lumayan!  Kamu lumayan!! Yah udah,  Sekarang kalian pergi sekolah. Tapi kalo mau belajar,  boleh juga ada jadwal nya. "


Thifa melotot tak percaya, Papah nya yang berperawakan begitu seram,  mampu tertawa mengerikan itu. Dan apa?!  Bahkan akan mengajari Arfen menjadi menantu yang baik?!


"Pah, Thifa masih sekolah. Mau fokus sekolah. "

__ADS_1


"Heyy,  Nak. Kamu denger apa kata Thifa. Dia masih mau fokus sekolah,  jadi jangan di ajak pacaran dulu. "


"Oh siapp Om,  paling entar pacaran nya pas kelas Dua belas. Yah udah, kami ke sekolah dulu yah om. " Pamit Arfen, dengan sopan mencium punggung tangan, calon mertua nya.


"Thifa berangkat yah pah, mah. " Sambung Thifa yang ikut menyalami tangan orang tua nya.


"Iyah hati - hati yah"


***


"Mah, siapa tadi nama anak itu, temen nya Thifa? " tanya Ari. Ia ingat, lupa menanyakan nama nya.


"Oh nama nya Arfenik Arkasa pah. Dari Keluarga Arkasa"


Apa?! Dari keluarga Arkasa!! Enggak! Thifa anak ku tidak bisa berdekatan dengan keluarga Arkasa maupun Wijaya!!!


Batin Ari. Raut wajah nya berubah seketika. Ia mulai menegang.


"Pah, kenapa? Papah sakit? "


"Enggak! Mah! Jangan pernah biarin Thifa deket lagi sama anak itu. Jangan biarin dia antar jemput Thifa lagi!! "


"Kenapa pah?! Anak nya juga baik kok. Papah tadi malah muji dia!"


"Enggak ada tapi tapian. Ini semua demi Kebaikan Thifa dan keluarga kita!! "


"Tapi pah, anak nya baik loh! "


"Dia bukan orang baik! Keluarga nya juga Bukan!!! "


***


"Thif,  kata - kata Aurel yang kemarin jangan di tanggepin. Lo tau kan nyokap,  bokap,  adik,  seluruh keluarga gue udah setuju sama lo. Jadi sans aja." Ucap Arfen membuka pembicaraan,  selama beberapa saat hening,  sejak mereka berangkat dari rumah Thifa.


"Iyah Gue tau kok. Enggak bakal gue pikirin juga, " sahut Thifa,  mengusung wajah biasa aja.

__ADS_1


***


__ADS_2