My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
Episode 33


__ADS_3

***


up lagi akh, siapa tau ada yang mau Vote. hehe


***


Kalian emang sepupu!  Gue yakin itu!


Umpat Zefan, Arfen dan Raisa setidak nya memiliki kemiripan.


"Terus,  Lo kenapa Pindah Zef? "


"Gue cinta ke elo Thif"


Duarrr!!


Thifa tidak menyangka bahwa Zefan akan benar - benar mengatakan hal ini.


"Suka ke gue? Maksud lo apa Zef? "


"Iyah Thif. Gue suka ke elo dan juga Raisa. Iyah, gue emang sampah. Dengan rakusnya, gue suka ke elo dan Raisa bersamaan. Gue gak suka liat lo deket sama Arfen! "


"Ze-Fan? Lo kenapa? "


"Iyah Gue cinta sama elo Thif. Gue mau pindah sekolah karna gue gak tahan liat kalian bersama. Itu terlalu nyiksa gue. Jelas? " terang Zefan. Dirinya sendiri juga tak habis pikir, bagaimana dia bisa menceritakan itu pada Thifa.


"Maafin Gue. Gue ha--"


"Bukan salah elo Thif. Ini salah gue. Gue yang bodoh. Jadi, biarin gue pindah yah. Gue mau move on dari lo. Agar persahabatan kita baik - baik aja. " kekeuh Zefan.


"Gue gak bakal ngehalangin elo. Tapi, satu hal yang harus lo Ingat. Kita ini sahabat? Iyah kan? "


"Iyah Thif, kita sahabat. Jadi, biarin gue hilangin perasaan ini dulu yah. Gue pergi, takut nya ketinggalan Pesawat. " Zefan berjalan meninggalkan Thifa di sana.


"Gue titip Thifa Ke elo. Jaga dia, apapun taruhan nya. " Zefan menepuk keras pundak Arfen.

__ADS_1


Kini Zefan bergerak ke arah Raisa.


"Lo tetep harus Tau Raisa, Gue emang cinta Ke Thifa. Tapi, bukan berarti gue gak punya perasaan sama lo. Gue harap, jaga diri lo baik - baik. Gue juga sayang ke elo. " Zefan mengacak lembut rambut Raisa.


"Maafin gue yah. Karna gue lo gak jadian sama Thifa. Okeh, ini emang salah gue yang egois. " Raisa mengakui nya.


"Bukan salah elo. Ini salah gue. Gue yang salah karna suka ke kalian berdua. Udah lah, enggak usah di sesali. Gue pergi. Lo jaga diri "


"Okeh, Gue bisa jaga diri kok. Hati - Hati yah di sana. Semoga panjang umur " sahut Raisa santai. Benar - benar Acuh tak acuh.


Zefan menghela napas kasar. Raisa memang sulit di tebak. Ia berjalan meninggalkan tiga orang itu.


***


"Makasih yah Fen, Raisa. Kalian enggak mau mampir dulu? " tanya Thifa memastikan. Menatap keduanya secara bergantian.


"Okeh sama - sama. Oh yah maaf. Gue gak bisa mampir. Masih ada urusan." Tolak lembut Arfen.


Thifa yang lelah akan beban pikiran nya. Ia mengangguk mengerti. Yang ingin Thifa lakukan adalah mandi, entah lah. Dia selalu merasa segar setelah mandi.


***


"Gimana? Apa dia masih ganggu elo? " Tanya Arfen membuka pembicaraan nya.


"Masih, dia beberapa kali coba lukain gue. Dan beberapa kali ada yang mau culik gue. " sahut Raisa masih dengan nada santai.


"Lah lo bisa selamat? Tumben. Biasa nya lemah. "


"Mau gue bantuin Thifa jadian sama Zefan? Masih berani sama gue? "


Ancaman Raisa ini sukses membuat Arfen diam membatu. Ancaman itu terlalu menyayat hati jika menjadi fakta.


"Ucapan itu doa loh Ais. Jaga omongan lah. " peringat Arfen serius. Jika masalah nya soal Thifa. Arfen akan selalu serius.


"Sumpah Gue gak nyangka, sepupu gue bakal jadi sebucin ini. Lawak tau gak Fen. Haha!! " tawa Raisa seketika pecah. Bagaimana tidak, wajah Arfen terlalu lucu untuk diabaikan.

__ADS_1


"Udah lah, jangan bahas itu. Kita Bahas DIA aja. Oh yah, lo kok bisa selamat dari penculikan itu? "


"Lo lupa, gue Putri Silat? Kita udah belajar bela diri sejak kecil bareng - bareng. "


"Masuk akal. Lah terus? Kenapa waktu itu elo dengan gampang nya jatuh dari tangga?"


"Gue sengaja. Karna kejadian itu lah, gue tau. Kalo orang itu adalah Dia. "


"Bagus sih lo udah tau. Tapi, Gue udah tau lebih dulu dari elo. "


"Jadi mau ngejebak dia?" tanya Ais menatap penuh menantang ke arah Arfen. Fix, Raisa terlalu polos.


"Ais, tolong lah jangan naif. Kita ini keturunan keluarga Wijaya. Mana ada yang naif. Yang berurusan sama kita, minimal koma, maksimal Kuburan. Seenggak nya mendekap di penjara seumur hidup. Kalo ngejebak dia, paling cuma penjara 10 sampai 20 tahun. Gue sih gak puas. "


Arfen menatap payah sepupu perempuan nya ini. Bagaimana pun juga, meski keturunan Rei yang kejam. Raisa juga keturunan Aisyah yang hangat dan manis.


"Oh iyah. Gue lupa. Sorry, okeh gue akui gue naif. " Ais memukul jidat nya pelan. Ia dapat memastikan nya bahwa dia akan menyesal saat menyusun rencana penjebakan payah itu.


"Untung sepupu gue.. "


"Jadi, Dia mau kita apakan? "


"Tunggu. Dari hasil penyelidikan orang - orang gue. Dia punya rekan. Tunggu sampai rekan nya itu masuk. Kita jebak dua - dua. "


Arfen tersenyum menyeringai. Sangat mengerikan, Raisa bahkan bergidik.


***


Thifa memandang atap kamar nya. Dia merasa sedih Zefan pergi. Namun, ada rasa lega juga di hatinya. Setidak nya Zefan pergi dalam kejelasan.


Zefan... Maaf, ini tanda nya kita emang enggak jodoh. Kalau kita jodoh. Kita enggak bakal berakhir begini...


***


Nexttt??

__ADS_1


Lanjuuttt??


__ADS_2