
***
"Pak Ari, menurut anda. Bagaimana soal putra saya? Maksud saya Arfen. " tanya Nathan santai, menatap lurus ke depan. Ari menoleh ke arah Nathan. Yah, mereka kan satu mobil.
"Anak yang baik, konyol, payah, petakilan, imbang berat sama papah nya. "Sahut Ari jujur.
"Dia juga tampan kan, seperti saya? "
"Heh. Anda terlalu percaya diri. "
"Konyol? Saya rasa Anda tidak bisa melihat sisi keseriusan nya? "
"Baru saja aku melihatnya. Cukup menarik. "
"Saya tipe orang tua yang snagat peduli dengan isi dan keinginan anak saya. Saya akan membantunya dalam meraih kebahagiaan nya. Jadi, Bagaimana tipe menantu anda? "
Deg.
Nathan memang seorang Ayah yang sangat perduli pada putra nya.
"Tipe menantu saya, hampir mirip dengan Arfenik Arkasa. Apa anak bapak mampu menyainginya?? " sahut Ari menatap penuh makna.
Nathan tersenyum puas, seperti nya Arfen sudah dapat restu Ari?
***
"Enggak Thif sumpah! Gue gak ada niatan gitu! Gue ngajak lo kesini tulus mau nyatain perasaan gue yang serius. Ogah gue. Gue udah janji sama bokap elo. Enggak bakal sentuh sebelum halal. " Seru Arfen dengan nada beruntun. Mencoba lebih meyakinkan Thifa.
Tawa Thifa pecah begitu saja. Rasa takutnya yang selama berhari - hari merayapi tubuhnya hilang begitu saja. Thifa pikir, ia butuh banyak waktu untuk menenangkan diri dari beberapa kejadian beruntun ini. Tapi, faktanya, hanya karna ada Arfen semua selesai. Thifa tidak begitu Trauma lagi?
__ADS_1
"Jadi mau ngomong apa? "
"Gue cinta ke elo. "
"Gue udah tau. Kelihatan dari muka lo yang tiap hari selalu gangguin gue. "
"Thif, bisa gak kolaborasi sama gue, agak romantisan dikit, gitu?? "
"Oh terus gue harus apa?? "
"Gue cinta ke elo Thif. Sayang banget ke elo. Gue hampir gila kalo kehilangan elo. Jadi, gue mohon tetap sama gue. " Arfen menunduk seketika, berlutut dengan sebuah kotak kecil di tangan nya. Menatap lekat Thifa di sana.
"Gue tau kita masih muda. Tapi, gue tetep mau jalin komitmen sama elo. Yah, gue egois. Gue emang mau ngikat elo di kehidupan gue. " Lanjut Arfen, masih mencoba meyakinkan Thifa.
"Fen, gue... "
"Thif. Please, iyain aja. Gue bisa stres kalo lo nolak. Apa sih yang buat lo ragu. Gue ganteng? Iyah. Warisan udah banyak? Iyah. Jadi, kurang jaminan apa coba? "
"Udah sangat serius yank. Kurang apa coba? Udah iyain aja. "
"Gue gak setuju sama acara lamaran lo kali ini. Gak seru. Gak spesial! " Gerutu Thifa kesal.
Arfen mengernyitkan dahinya heran, melihat tingkah gadisnya ini.
Maunya nih cewek apa sih? Kurang romantisan apa gue coba? Ya allah, untung gue cinta ke elo Thif. Kalo enggak. Uhhh
Batin Arfen, ia mencoba bersabar menghadapi Thifa.
"Arfenik Arkasa. Gue Lathifa Kanneira mau bilang cinta ke elo. Gue mau, gue yang bilang gue cinta ke elo lebih dulu. " Ujar Thifa, ia mengenggam erat tangan Arfen. Menatap indah mata Arfen, tepat di retinanya.
__ADS_1
"Thifa cinta nya Arfen. Arfen punya nya Thifa. Enggak boleh diambil. "
Arfen tersenyum miring. Celetukan Thifa kali ini sukses besar menambah cintanya Arfen.
"Gue Arfenik Arkasa, cowok pengukir sejarah kegantengan menerima cinta nya Lathifa Kanneira. Mulai hari ini, kita bakal sama - sama berjuang, dapetin Restu papah elo. Dan menjauhkan segala jenis spesies pelakor, atau peninor yang mau hancurin hubungan kita. " sahut Arfen.
Cowok tengil itu segera memakaikan cincin perak yang begitu indah. Tanpa ada berlian di sana. Arfen itu kan miskin? Cuma ngarepin Warisan papah nya. Tapi, itu enggak selamanya. Ada masanya ketika Arfen akan memiliki kekayaan dan kuasaan..
Sekarang yang penting, dapetin calon istri dulu. Biar jiwa raga tenang dan damai.
Batin nya, memeluk erat Thfia. Membenamkan wajah manis gadisnya, dalam dada bidangnya.
***
"Dari kejadian ini gue sadar. Gue cuma di manfaatin sama bokap angkat gue! Menjijikan!!" maki Nando, ia membanting Vas bunga yang ada di depan nya.
Ia begitu tak menyangka. Sosok pahlawan yang ada di benaknya selama ini, itu hanya sosok ilusi belaka. Faktanya, pria itu, Stiven jauh lebih kejam. Tanpa perasaan, ia memanfaatkan banyak kasih sayang orang lain. Termasuk papah Thifa.
"Dan dari kejadian ini gue juga sadar, bahwa gue ke Thifa sayang sebagai kakak. Itu karena gue enggak begitu sesak liat Thifa jalan sama Arfen. Tapi, gue ngerasa panas dan emosi yang membara, waktu Raisa jalan sama Riyan!! "
"Apa gue beneran cinta ke Raisa? Bukan ke Thifa? "
Nando tengah di kerubungi oleh asap ketidakjelasan. Ia merasa belum bisa mengambil benang kesimpulan. Siapa yang sebenarnya dia cintai?
Namun, Nando ingat dengan jelas, Tubuh nya bergetar, emosi nya memuncak, panas dalam hati yang kian membara, tatkala melihat Raisa bersama Riyan.
***
Nexttt??
__ADS_1
Lanjutt?