
***
Entah kenapa, seketika Nuansa mencekam hadir menerpa punggung kedua remaja ini. Sontak, mereka membalikkan badan nya.
Empat bola mata terbelalak kaget. Ternyata sudah ada Reihan Wijaya yang tengah memergoki mereka menyusun rencana itu.
"Papah udah dengar obrolan kalian di pintu depan tadi. Bagus juga, cuma terlalu Naif. Kamu pikir papah akan kasih restu gitu aja sama bocah ini. " lanjut Rei Sarkas.
"Pah? Tadi kita cuma iseng. Jangan di ambil hati dong. " Rengek Raisa manja, ia bergelayut di lengan papah kesayangan nya.
"Assalamualaikum Om. Apa kabar? " sapa Nando ingin bersalaman dengan Rei.
"Kabar saya baik kalau gak liat kamu. " ketus Rei.
Akhirnya Nando tau, ternyata sifat dingin Raisa ini berasal dari Papahnya.
"Pah, jangan gitu lah. Teman Raisa loh. "
"Masih mau belain dia? Enggak minta maaf ke papah. Karna udah mau ngibulin papah dengan membawa nama mamah Aisyah? " Pekik Halus Rei, menatap datar putri manjanya.
"Ini salah saya om. Jangan marahin Raisa. Yah udah om, Saya pamit. "
"Bagus kalau kamu sadar diri. Pulang sana. Saya gak ingin liat kamu."
"Pamit kemana nak? Makan dulu gih. Tante udah masak makan siang. Kita makan siang bareng. Rei, kamu juga udah pulang? " Sambar Aisyah yang menuruni tangga.
huh.. akhirnya Bidadari sang penyelamat datang... Mamah penyelamat Raisa.
"Mamah!! " Teriak manja Raisa. Ia memeluk erat tubuh mamahnya.
__ADS_1
"Assalamualaikum tante. " Sapa Nando manis, mencium punggung tangan Aisyah.
"Baik kok Nak. Yah udah makan dulu gih. Baru pulang. "
Nando menebarkan senyum semanis mungkin. Ia mengangguk patuh.
"Rei, jangan galak dong. Dia temen nya Raisa loh. Harusnya, kamu itu suruh dia makan. Jangan di usir gitu. " Omel Aisyah. Ia mengambil jas suaminya yang tampan itu.
"Dia payah. Gak cocok jadi teman Raisa. "
"Rei, udah lah. Jangan ikut campur. Mereka masih muda, kamu udah tua. Kamu gak bakal ngerti. Udah deh, sana makan siang. Jas nya mau aku cuci. " Aisyah mengambil Jas nya dan pergi.
"Raisa ganti baju dulu yah mah pah. Nan, makan aja. Enggak usah gagu. " Timpal Raisa, ia berjalan ke atas menuju kamarnya.
Sekarang hanya tinggal dua orang itu. Dua manusia yang sama - sama berkepribadian Dingin dan Angkuh. Apalagi sikap Arogan yang tak pernah lepas dari mereka.
"Om tenang aja. Cepat atau lambat. Restu om akan ada di tangan saya. Tunggu aja waktunya~" sahut Nando tak kalah mengerikan.
***
"Bocah itu kemana sih?! Udah hampir seminggu gak liat dia. Gue udah mau keluar rumah sakit hari ini. Biasanya mah rempong, Absen muka liat gue. Sekarang hilang entah kenapa! " Celoteh Riyan. Seluruh alat - alat rumah sakit sudah lepas dari tubuhnya. Bahu nya yang terkena tembak sudah sembuh dan bisa di gerakkan bebas.
Aryani dan Agung sedang mengurus administrasi nya, Membuat Riyan masih menunggu mereka.
Apa gue datangin aja ke kamar sebelah yah? Kayak nya gue juga salah sih sama dia. Gue jahat banget ngomong dia jelek tiap hari. Padahal sih, kalo di ingat dan diliat - liat. Dia imut juga.
Riyan memutuskan untuk pergi ke kamar sebelah. Kamar 73 tempat dimana orang Tua bocah mungil itu di rawat.
Riyan membuka pintu kamarnya. Kosong? Tak ada siapapun. Sepi dan senyap, bahkan dua ranjang kecil itu sudah terlihat rapi.
__ADS_1
Kenapa? Apa gue salah kamar? Tapi, kayak nya kata tuh bocah dia dari kamar 73 deh.
Arfen keluat dari kamar kosong itu.
"Suster? Tau dimana pasien di kamar ini? " Tanya Riyan pada suster yang baru lewat.
"Maaf pak, Kedua pasien di kamar ini yang sepasang suami istri sudah meninggal Sekitar Lima hari lalu. Jenazahnya sudah di kirim ke Rumah duka. " jawab suster itu.
"Memangnya mereka sakit apa? "
"Mereka kecelakaan pak. Sangat parah, tidak bisa di selamatkan lagi. "
Deg.
Riyan terdiam mematung. Suster itu pergi begitu saja meninggalkan Riyan di sana.
Brukkk
Riyan terduduk di salah satu kursi Rumah sakit. Ia menutup wajahnya dengan tangan nya. Mengacak rambutnya frustasi.
Orang tua bocah itu udah ninggal? Karna itu dia gak pernah kelihatan lagi?
Batin Riyan. Entah lah ia tak tahu. Yaang Riyan rasakan adalah sakit menyayat hatinya. Membayangkan wajah penuh senyuman dari bocah itu, terganti akan air matanya. Suara nyaring yang membangkit kan semangat, terganti dengan lirihan isak tangis.
Bocah imut dengan senyuman manis menenangkan hati, harus mengeluarkan air mata?
Gimana perasaan bocah itu? Kenapa lo gak bilang kalo orang tua lo ninggal? Kenapa gak datang ke gue?!!
***
__ADS_1