My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
S2 Bab 12


__ADS_3

***


Mereka mengangguk mengerti,  mulai menyusun posisi. Hanya ada empat orang se tim dalam latihan pertama, harusnya itu ada 6.


Melia yang akan mengawali permainan. Bola sudah di lambungkan dan di baru saja melakukan Servis bawah.


Tapi sayang, Bola itu mengalami. Kemiringan yang fatal, mengakibatkan out. Poin ada di tim Thifa.


Kini. Thifa lah yang mulai melakukan Servis bolanya. Dia melambungkak bolanya pelan, dan melakukan Servis bawah. Pukulan yang indah, Bola itu masuk dengan sempurna ke daerah Lawan.


Bughhh!!


Melia memang tidak cakap dalam servis, namun dia sangat berbakat dalam passing. Melia membalikkan bola dengan teknik andalan nya.


Thifa ingin mengambil bolanya.


"Let me, Yang! " Tukas Arfen menghampiri bola. Namun, Thifa juga sudah ada di sana.


"Lain kali biar gue aja. Lo bagian belakang, oke? " Kata Arfen melakukan passing. Dengab posisi merangkul tubuh mungil Thifa.


"Woik!! Kita latihan nih, fokus dong. Pacaran mulu, gue seret juga kalian Ke KUA. " protes Hasan, dia menggelengkan pelan kepalanya.


Siapa yang tidak menggeleng jika melihat kelakuan narsis Arfen ini.


"Ekhmmm!! Ekhhmmm!! Modus lo Fen, gaya nya aja Passing. Nayatanya pengen meluk doang kan. Noh liat bolanya meper ke samping. " Omel Riyan berjalan menghampiri bolanya.


"Hah? " Sahut Arfen sok polos.


"Bolanya out *****!! " Geram Fandri, ingin sekali dia menotok kepala sahabatnya ini.


"Eh! " Kaget gadis itu, Tasya. Saat tangan nya tak sengaja bersentuhan dengan tangan Riyan.

__ADS_1


Wajah nya merona malu. Riyan sendiri langsung menarik tangannya cepat.


"Sorry, Gue gak suka sentuhan sama orang asing. " Kata Riyan sarkas.


"Eh iyah, gak masalah. Maaf. " katanya lirih. Namun, Riyan tidak perduli.


Bughhh!!


Dengan cepat Thifa menyikut Arfen. Menyingkirkan benalu yang menempel itu, waspada jika mereka masih dalam posisi itu, takutnya keduanya akan masuk ruang BK.


"Arfen!! Ini sekolah?! " pekik Thifa mundur dua langkah jauh dari Arfen.


"Emang ini sekolah. Yang bilang rumah siapa? " Sahut Arfen enteng, maju satu langkah memangkas jaraknya dengan Thifa.


"Ngomong satu kata lagi. Gue gak kau angkat telpon lo! " Ancam Thifa.


Sontak Arfen langsung mundur bebrapa langkah. Memang ancaman ini mujarab efeknya. Thfia sepertinya harus sering - sering mengucapkan kata ini.


***


"Bocil! Pesanan yang biasa yah. " Kata Riyan enteng, baru saja masuk ke Key'Cafe milik si bocah Rese.


"Sippp Om! " Sahutnya ceria. Entah ada apa dengan Vania kalo ini.


Enggak bisa di percaya! Tiap pulang sekolah gue mampir ke sini! Cuma pengen denger cerita bocah itu?! Shit! Riyan lo crazy! Yah kali Tiap hari lo datang ke Cafe ini!  Gila!


Umpat Riyan membuka Jaketnya, duduk di kursi tempat biasanya. Namun, dia juga tersenyum tipis. Fix, Riyan emang gak waras.


"Om~" Sapa Vania manis, membawa nampan berisi pesanan Riyan.


"Gimana sekolah lo bocah? Lancar? " Tanya Riyan mulai menyendok Cupcake nya.

__ADS_1


"Lancar sih om~ Nilai aku udah naik Lima. Huhu Kuis oh kuis~ Aku suka kamu karna menambah nilai ku. "sahut Vania antusias.


Wajah Riyan juga ikut tersenyum, mengikuti Alur tawa ria Gadis kecilnya.


"Sekolah om sendiri gimana, lancar? " Tanya Balik Vania.


"Yah lancar aja sih, Bentar lagi gue bakal ikut pertandingan Basket antar sekolah. " Kawab Riyan, menyodorkan sendok yang berisi Es krim itu ke arah Vania.


"Emang Om bisa main basket? " Vania tanpa sadar juga memakan Ice cream pemberian Riyan.


"Mau coba main? "


Thfia menggeleng. "Ogah, Dari Nadanya Om. Dan wajah yang menyeringai. Om persis kayak Om om mesum yang bertebaran di luaran sana. " lanjutnya enteng.


Tukkk


Sendok kosong itu sudah mendarat akurat di atas kepala Vania. Siapa pelakunya? Tentu Riyan.


"Sakit!! " ringis nya menyentuh bagian yang terasa nyut nyutan itu.


"Lain kali kalo ngomong itu di pikirin dulu. Untuk cuma gue tokok"


"Humph! Om mah mukanya aja yang tampan, kelakuannya enggak. Galak amat. Mending lagi Si Rehan Ketos sekolah aku. Udah ganteng, ramah, baik, sopan, lembut. Gak ada galak - galaknya. Apalagi mesumnya! " Oceh Vania asal ceplos. Tidak bisa di pungkiri bahwa Faktanya Vania memang sering menjadikan Rehan sebagai bahan cuci matanya, pengisi parameter orang ganteng miliknya.


Meski Rehan ganteng, tapi masih gantengan Om ini. Om Riyan, Oh Om~ kenapa galak sekali sih!


Batin Vania, merutuki nasibnya. Dia sudah sangat beruntung ketemu orang ganteng, tapi sialnya. Orang ganteng nya itu galak banget. Mengurangi potensi nya.


Tanpa Vania sadari, Ocehan asal ceplosya itu, mampu membangkitkan api yang membara. Ekspresi Riyan sudah berubah drastis. Tekanan di sana sudah tidak normal.


***

__ADS_1


__ADS_2