
***
Raisa? Apa elo juga mungkin suka ke gue? Gue harap meskipun elo gak suka sama gue. Tapi, elo gak lagi suka sama siapapun. Yah, agar gue bisa bebas deketin elo.
Batin Riyan, Senyum sumringah nya terpancar menatap foto Raisa yang tak kalah lebar senyumnya dengan Riyan.
"Hayyyy!!! Woiiii!! " Suara ricuh itu datang sesaat setelah pintu terbuka. Riyan kenal betul dengan banyak orang yang tengah mengunjungi nya saat ini. Yah, para sahabat nya. Riyan mengulum senyuman bahagia nya. Yah dia terlalu bahagia saat di kunjungi para sahabatnya ini Sahabat? Tapi ada satu orang yang Riyan tidak perkirakan dia akan datang.
Nando? Ngapain ke sini? Raisa kenapa?
Batin Riyan lagi, senyuman sumringah nya perlahan agak memudar saat melihat Raisa menggenggam tangan Nando.
Perasaan panas yang berapi - api, berkobar di dalam hati kecil Riyan. Ruang hatinya terlalu sempit untuk membagi Raisa. Ia tak bisa se ikhlas itu untuk melihat Raisa berpegangan dengan cowok lain. Selain dirinya.
"Hai Yan! " Sapa Raisa yang mendekat ke arah Riyan. "Lihat nih, siapa yang gue bawa. Jangan marah yah. Soal nya Nando enggak jahat. Dia baik kok, yah cuma bokap nya aja gitu. Elo enggak dendam ke dia kan Yan? " Tanya Raisa memperkenalkan Nando.
"Hai! Apa kabar? Maaf, semua ini karna ulah bokap gue. Gue minta maaf yah. " Kata Nando seraya mengulurkan tangan nya. Meski Nando tahu betul, bahwa orang yang tengah terbaring ini adalah saingan besarnya. Untuk mendapatkan Raisa.
"Gue baik. Iyah santai aja. Gue gak bakal perhitungan kok. Lagian apa yang Raisa bilang bener. Itu bukan salah elo. Itu salah bokap lo. Jadi jangan terlalu di pikirin. " Sahut Riyan, membalas uluran tangan nya. Ia menguatkan hati dan mental nya. Agar tak ketahuan bahwa dia tengah di ambang kecemburuan.
Bersalaman dengan saingan sendiri? Mungkin Riyan memang memiliki kemampuan kesabaran yang cukup.
"Kan udah gue bilang Nan. Riyan itu orang nya baik. Enggak usah tegang gitu. Tau gak Yan, tadi Nando agak ragu mau ketemu elo. Dia takut elo gak suka. "
__ADS_1
"Santai aja kali Nan. Gue biasa aja kali. " sahut Riyan santai, melemparkan senyuman pada Nando.
Riyan? Beneran enggak keganggu sama kehadiran gue? Bukan nya karna hadirnya gue. Waktu dia dan Raisa berkurang? Apa mungkin emang Riyan gak suka sama Raisa?
Batin Nando. Ia merasa lebih lega di banding sebelumnya. Seperti nya ia merasa datang Ke Rumah Sakit bukan hal yang buruk. Ini malah menyenangkan.
"Thanks, udah ngertiin"
"Apa sih kalian ini?! Yang lalu udah dong biar berlalu. Enggak usah sedih - sedihan. Gak suka gue sedih gitu. " Sambar Arfen dengan logat khas orang ganteng miliknya.
"Hai Bro?! Apa kabar?! Udah bisa main basket belum? " Sapa Arfen memeluk Riyan yang terbaring.
"Eh bentar. Gue ikut dong! " Teriak Hasan yang ikut memeluk Riyan.
"Eh kuntet! Awas lo pada. Calon binik gue bisa cemburu karna ulah kalian. Jangan nempel - nempel deh. Gue tau lo pada mau nyuri kegantengan gue kan. " Arfen segera melepaskan diri dari pelukan para fans fanatik nya.
Thifa memutar bola matanya jengah. Thifa selalu membayangkan. Apakah ada hari dimana ia bisa tidak mendengar celotehan gila Arfen.
"Riyan? Di sini ada psikiater gak? Gue mau bawa Arfen. Gue bingung kapan di waras. " Celetuk Thifa.
"Lah? Gue waras waktu udah nikah sama elo. Jadi, Ayo buruan nikah. " Sahut Arfen enteng. Se enteng dia yang mengecup pucuk kepala Thifa.
"Ingat tempat kalii!!! "
__ADS_1
Sore itu mereka habiskan dengan bercanda tawa layaknya anak remaja seusia Mereka. Perbincangan Ringan terdengar begitu lancar. Obrolan yang saling menyahut itu terdengar menghangatkan. Belum lagi, sesi gosip yang Hasan dan Fandri mulai. Maklum saja. Mereka kan emang Duta gosip.
"Kita balik yah~" Ujar Mereka semua melambaikan tangan nya pada Riyan yang terbaring.
"Semoga cepat sembuh yah Yan. Banyak tuh fans elo yang nungguin elo. " Ujar Thifa mendoakan Riyan.
"Dengerin Yan. Bangga lo kan dapat langsung doanya calon nyonya Arkasa. " timpal Arfen
Bukhh
Thifa memukul punggung Arfen. Terlalu berisik soalnya.
"Elo di sini Sa? Enggak balik? " Tanya Nando.
"Enggak. Gue masih jagain Riyan. Sampai om Agung atau Tante Aririn dateng. Kalian duluan aja. "Sahut Raisa.
Mereka melambaikan tangan tersenyum bahagia. Termasuk Nando. Ini kali pertama nya mendapatkan kehangatan persahabatan.
Tapi, ada rasa sesak di hati Nando. Kecemburuan menyelimuti badan nya. Saat menyadari, Raisa dan Riyan hanya berdua di sana.
***
"Riyan? Menurut lo, aneh gak kalau gue suka sama Nando? " tanya Raisa pada Riyan, yang hanya tinggal mereka berdua di ruangan itu. Tanpa ada siapapun lagi.
__ADS_1
***