
***
"Lo gak terlambat, tapi di hukum hormat, lo bener - bener ketua kelas lucknut!! " Cibir Riyan santai, duduk di atas meja, bersandar di dinding.
Arfen memilih mengabaikan cibiran Riyan. Yah memang, mulut Riyan itu pedes juga.
"Thea! Minjem kaca dong. " pinta Arfen mengulurkan tangan nya.
"Tenang Fen. Lo masih ganteng, muka lo itu masih bisa kok mengukir sejarah ketampanan. " sahut Thea, yang memang sudah hapal jelas dialog Arfen ini. Gadis biasa itu memberikan Kaca nya pada Arfen.
"Bukan gitu Thea, Ada manusia yang di sodorin kaca dulu baru ngerti. " Sahut Arfen santai, mengambil cermin nya. Meletakkan nya di depan wajah Riyan.
"Udah sadar belom Yan? Gue kasih tau ke elo yah. Gue ini ganteng, jadi orang ganteng mah bebas. Kalo iri, makanya jadi ganteng sono. " Cibir Halus Arfen. Yah masalah cibir - mencibir memang mereka ahlinya. Kan masuk kesatuan Lambe Turah.
"oik, Arfen! Tuh bocah jangan di gangguin. Ngenes dia nya. Kita mah punya gebetan. Elo sama Thifa, Gue sama Melia, si Hasan sama Anggi. Lah Riyan? Sama mbak kunkun? "ledek Fandri, ingin sekali Riyan menampol sahabat - sahabat nya itu. Jiwa nya meronta gemas ingin melakban tuh mulut punya Fandri.
Sayang, Hp Gue mahal.
Di urungkan nya Niat Riyan. Hp nya memang terlalu berharga.
"Ohh, Ngenes karna Jomblo? Miris Gue tuh. "
"Katanya Ganteng, tapi nyatanya satu cewek pun enggak ada yang Gandeng " Sambar Arfen, benar - benar ahlinya memanasi suasana.
Ukhh, Panas sekali rasa hati Riyan.
"Lo pada Gak diam, gue tabok - tabok lo pada!! " Ancam Riyan. Saat ini jiwa ketampanan nya meronta. Ia memang di kategorikan sangat tampan, tapi apalah daya guna tampan nya kalau tak menggandeng seorang gadis?
***
Bruakkkk!!!
__ADS_1
Thifa yang membawa banyak buku mendadak jatuh, karna ia baru saja menabrak seseorang.
"Maaf... Maaf... " lirih Thifa, sembari membereskan beberapa buku yang berserakan.
"Eh Thif? Lo kok gak mau sih di jemput sama gue tadi pagi?" tanya cowok itu. Suara nya tak asing di telinga Thifa. Thifa mendongak.
"Nando?! Elo ngapain di sini?!"
"Gue kan udah pindah sekolah di sini. Jadi, apa yang aneh kalo gue ada di sini? "
Thifa diam, ia baru sadar bahwa memang Nando sudah mulai masuk sekolah ini.
"oh iyah, sorry Nan. Gue lupa"
"oh yah udah gak papa Thif. Btw, lo bisa gak ajak gue keliling sekolah elo? Gue mau lihat? "
"Maaf yah Nan. Bukan nya gue gak mau, cuma Gue banyak urusan jadi beneran maaf. Bye~" Thifa sudah selesai membereskan bukunya. Gadis mungil itu bangkit berdiri. Dan segera berjalan pergi.
Thifa diam sebentar. Pertanyaan Frontal yang begini, cukup menyulitkan. Apalagi, soal perasaan.
"Gue gak tau Nan. Maafin Gue. " Thifa melanjutkan lagi jalan nya, meninggalkan Nando yang terpaku di sana.
***
"Oik MuSem! Muka Asem! " Sapa Arfen menepuk pundak gadis itu, yang tak lain adalah sepupu nya sendiri.
"Ada apa sih Musuk? Muka Busuk? " sahut Raisa ceplos, Soal ketajaman Lidah. Raisa juga tak kan kalah.
"Lemes bener tuh mulut! Untung sepupu! Kalau enggak, --"
"Diem deh. Udah muka lo jelek! Napas lo bau! Jauh gih dari gue! jijik gue nya!! " pekik Raisa mengibaskan tangan nya mencoba mengusir Arfen jauh - jauh.
__ADS_1
"Asem bener tuh mulut! Udah, gue mau damai. Gini deh Eis, Gua mau nanya. Tuh si Fernando ada gangguin elo gak?! "
"Untuk sekarang sih gak ada. Tapi, beberapa hari lagi dia juga bakal Gangguin gue. Tujuan dia masuk ke kelas gue kan pingin nyiksa gue. " sahut Raisa santai, tanpa ada rasa takut sedikitpun.
"bagus deh, tapi lo tetap hati - hati yah. Ingat, jaga jarak dari dia. Lo yang luka, gue yang tersiksa. " peringat Arfen, cowok tengil itu sadar. Sebagaimana cerdik nya Raisa, ia harus tetap jaga - jaga.
"Iyah, oh yah. Hubungan lo sama Thifa gimana kelanjutan nya? Kan bokap nya Thifa udah tau, lo keturunan kelurga Arkasa sama Wijaya? Ye kan? "
"Yah hubungan Gue sama Thifa baik lah. Kelas Dua belas nanti, Dia gue lamar. Gimana? "
"Oik Gesrek! Restu bokap nya giamana? "
"Tenang, Gue gak hobi kawin lari, jadi santai aja. Gue bakal berjuang dapetin restu bokap Thifa. Udah lah lo santuy aja. "
"Santuy pala lo! Hati - hati sama Nando. Dia juga suka Thifa, kalo Thifa nya kepincut. Nyokkk! Lo yang susah! "
"Enggak akan. Gue yakin, percaya sama Gue. Thifa cintanya cuman ke gue. "
"Arfen, sebagai sepupu lo yang paling baik nih yah. Gue kasih tau ke elo. Pede bagus. Tapi, kalo kepedean takut nya lo jadi gilak beneran! "
"Gak masalah, Asal yang ngerawat itu Thfia, cewek paling cantik. Yah gue ikhlas lah lahir batin. "
Raisa memutar bola matanya jengah. Harusnya, ia sudah menduga ini akan keluar dari mulut sepupu resenya.
"Terserah deh. Oh yah, gue mau nanya? Kenapa kok pak Ari sensi bener sama keluarga Arkasa?! "
"---"
***
Nexttt?? Lanjuttt??
__ADS_1