
***
itu yang tadi minta up lagi. nih nih untuk kalian.
jangan lupa like komen, Vote, and Rate yah gais^^
***
"Iyah pak maaf. Saya kesiangan bangun, maaf yah pak. Saya salah. " lesu Thifa, kali ini dia benar - benar merasa takut. Ini kali pertama Thifa terlambat, pasti sangat mendebarkan. Tapi, dia jauh lebih tenang karna ada Arfen di sisinya.
"Lah kamu juga Arfen? ! Bukan nya tadi udah datang?! Kok ada di luar lagi?! Kamu lompat tembok lagi?!!! "
Arfen tidak menjawab, pertama - tama, ia menampilkan cengiran manis tak berdosa nya dulu.
"Eh, Assalamualaikum pak, selamat pagi pak. Jangan marah gitu dong pak. Masih pagi nih, " Sahut Arfen meraih tangan pak Eky.
"Jangan mengelak! Arfen jawab! Kamu tadi pagi udah masuk Gerbang! Terus kenapa sekarang bisa keluar lagi, masuk lagi! Kamu pikir gerbang ini apa?!! " Tukas Pak Ghani.
"Gerbang yah tempat kita masuk pak. Yah maap pak, saya emang lompat Tembok. Habis nya, saya liat Thifa sendirian gak tega pak. Jadi saya temenin deh. " Sahut Arfen, masih setia dengan senyuman andalan nya.
Arfen, maaf... Karna gue, kan?
"Maaf pak, ini salah saya. Jangan hukum Arfen. Ini karna saya," lirih Thifa, ia menuduk lesu.
Pak Eky menghela napas berat.
"udah lah Thifa. Lagipula ini waktu pertama kali kamu terlambat. Bapak maklum, namanya juga manusia kan. Pasti pernah hilap. Enggak mungkin selama tiga tahun sekolah enggak pernah terlambat. Yah udah, kamu bapak hukum, hormat bendera setengah jam. " Ujar pak Eky, meski killer Pak Eky adalah orang yang baik, dan bijak. Yah dia pasti mengerti.
"Eh enggak perlu nunggu sampai Les Ke dua pak? " tanya Thifa memastikan.
__ADS_1
"Enggak perlu. Saya mengerti. "
"Kalo saya nasib nya gimana pak? Di hukum sama kayak Thifa dong pak? " rengek Arfen.
"Okeh, kamu saya hukum seperti Thifa hormat bendera, dan selama satu jam. "
"Lah pak kok gitu? Saya kan gak telat. Saya cuma mau nemenin Thifa jalan tadi. Kok sampai satu jam? "
"Katanya calon suami yang baik. Masa ambil alih hukuman Calon istrinya gak bisa. " Cibir Pak Eky.
Arfen langsung diam, mau tak mau ia harus mengikuti aturan nya pak Eky. Bukan karna apa, hanya saja ini menyangkut harga dirinya, sebagai calon imam yang baik dan bertanggung jawab.
"Eh pak, enggak usah gitu. Mending kita sama - sama Empat puluh lima menit. Biar selesai nya bareng? " bela Thifa.
Pak Eky menggeleng pasti,
"Kerjakan hukuman kalian, atau saya tambahi! " pekik pak Eky jalan ke arah kantor guru. Ada senyuman tipis di bibir nya. Yah, hampir semua guru memiliki kesan mendalam untuk Nathan, dan berlanjut pada Arfen.
***
"Jangan lo pikir gue masuk ke kelas IPA satu itu karna lo. Gue masuk sini karna gue mau satu sekolah sama Thifa! " pekik Nando kasar, matanya menatap Raisa.
Kini kedua orang itu tengah berjalan menyusuri koridor menuju kelas XI IPA Satu.
Raisa diam, dengan tenang menguatkan volume hp nta. Yah gadis santuy itu tengah dengan Asyik nya mendengar kan musik melalui Headset nya. Rambut nya yang panjang dan lebat, menutup telinga nya. Tak ada yang sadar gadis itu tengah mendengar musik.
Raisa melirik Nando sekilas.
Dia ngomong ke gue? halah Gak penting juga
__ADS_1
Batin Raisa, yang memang tak ingin meladeni orang di sebelah nya ini.
"Sumpah! Lo ini beneran mirip banget sama bokap lo yah! Pinter banget Akting! " lanjut Nando.
Syukur Raisa pakai Headset, kalay enggak. Ukh, habis tuh Nando. Seorang Raisa tak kan mungkin diam saja saat papah kebanggaan nya di hina.
Oh shit!! Cewek ini beneran nguji kesabaran gue banget!!
Umpat Nando, rasanya tak di gubris itu sangat menyakitkan.
"Hey, cewek Akting! " Nando menarik tangan Raisa,
Bluk
Salah satu Headset Raisa terlepas. Sontak Nando merasa sangat geram. Ternyata dia hanya berbicara sendiri. Karna, faktanya Raisa tak mendengarkan celotehan Nando.
"Apa sih lo?! Rese amat! Katanya gak mau ngomong sama gue! Apalagi Dekat! Nyatanya nih lo yang megang tangan gue!" pekik Raisa menatap sinis Nando. Nando meliirik ke arah tangan nya yang memang memegang tangan Raisa. Sontak Nando melepasnya begitu saja.
"Gak usah Ge-Er deh lo! Gue cuma mau nanya, kelas nya masih jauh gak?!! " kilah Nando.
"Kelas nya itu di depan. Biasa aja kali, enggak usah bentak - bentak. Kayak lagi salting Aja. " Raisa dengan santai memakai kembali Headset nya, berjalan santai ke arah kelas nya.
Deg.
Nando terdiam, Yah cowok jangkung itu menyadari fakta nya bahwa tadi dia sedikit salting.
"Awas Aja lo Raisa! Gue bakal balas elo! Gue gak bakal diam aja! Lo harus nerima akibat nya! Karna udah berani lawan gue!!! " desis Nando geran sekali rasanya.
***
__ADS_1
Nexttt??
lanjuutttt??