My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
Episode 21


__ADS_3

***


Itu yang dari tadi komen minta up. Ayoo sini sini kita merapat. Kalian minta up, Author kabulin. Author minta vote. Kalian?? 😂


***


"Lo cinta kan Thif,  sama Arfen? Lo sayang kan sama dia? " tanya Raisa lagi.


Thifa diam,  jantung nya berdegub begitu kencang. Ia sendiri juga tidak tau,  apa maksud nya itu. Yang jelas Thifa sadar bahwa tenggorokan nya sesak. Badan nya kaku,  ia tak mampu bersuara lagi. Terlalu rumit pertanyaan yang Raisa berikan.


"Gue,  Gu--"


"Thifa!! " seru Anggi dan Melia. Mereka berdua segera menghampiri Thifa dan Raisa.


"Balik gih ke kelas. Belum istirahat nih. Mau bolos lo yah? " Ledek Anggi,  merangkul sahabat nya ini. Yah faktanya, Thifa lah yang paling pendek diantara Melia dan Anggi.


"Sa,  entar aja yah ngobrol nya. Soal nya kita lagi Ulangan. Kalo enggak ada Thifa,  alamat jelas. Enggak palsu,  tuh kertas kami kosong melompong,  bersih Sa" Celetuk Anggi,  ia kemudian menarik tangan Thifa.


"Raisa,  gue duluan yah. " pamit Thifa,  tak lupa ia meninggalkan Senyuman manis untuk Raisa.


"iyah,  lain kali aja lo jawab pertanyaan gue" Sahut Raisa,  ikut tersenyum.


"Lathifa Kenneira?  Murid teladan dari IPS Satu?  Berhasil menarik perhatian dari Arfenik Arkasa?  Hem hem ..., Heyy Thifa,  lo itu cewek paling beruntung. Karna Arfen jatuh hati ke elo. Jadi, Tolong jangan  sakitin Arfen. Dia serius ke elo.  Arfen itu spesial, lo beruntung. Di sukain sama sepupu gue" Gumam Raisa, setelah memastikan bahwa Thifa dan teman - teman nya tak kan mendengar nya.


Gue tau lo bingung sekarang. Tapi, cepat atau lambat. Lo juga bakal jatuh hati sama Arfen. Zefan? Haha! Enggak deh~


Batin Raisa, melenggang pergi. Ia tertawa sendiri. Bagi Raisa, Zefan tidak ada apa - apanya dibanding Arfen, sepupu nya.

__ADS_1


***


"Open the sesi Gosip girls" celetuk Anggi,  baru saja duduk meminum kopi kemasan nya.


"Halah,  elo mah kagak bisa hidup tanpa Gosip" Ledek Thifa yang ikut duduk di sebelah Anggi.


"Eittsss...  Gue inget nih. Euy,  Thif,  cerita lo yang kemarin nanggung,  sumpah. Sekarang lo ceritain dah. Kok bisa sih Raisa sama Arfen sepupuan? "


"Gue setuju,  ceritain deh Thif. Gue udah dengar dari Melia. Gimana bisa mereka sepupuan? Arfen Arkasa,  Raisa Ardinanta. Terus?  Sepupuan nya gimana?"


"Jadi Raisa itu,  anak nya Reihan Wijaya. Jangan tanya gue kenapa namanya Ardinanta. Gue gak tau,  Arfen juga gak tau. Yang jelas dia ponakan nya mamah Nathan. " terang Thifa.


Kedua sahabat nya hanya mengangguk - angguk mengerti. Mereka tak begitu tertarik dengan nama Raisa,  yang penting Raisa punya nama.


"Berarti lo mesti akrab - akrab deh sama Raisa. Entar kan dia jadi sepupu lo juga" ceeltuk Melia mengambil kesimpulan sendiri.


"Mau gue tampol atau gue tabok tuh mulut? " ketus Thifa, tapi Thifa memikirkan nya lagi. Melia benar, Thifa harus akrab dengan Raisa.


"Gue sebagai sahabat lo,  setuju dan sangat setuju lo sama Arfen. Arfen, ganteng, Baik, lumayan lah Thif. "


"Kita gak pacaran. Lagian kenapa sih lo pada rese amat nanyain mulu. Rese tau gak! " kilah Thifa.


"yee elo sih,  Lo kan tau kita berdua Duta Gosip. Banyak nih yang nanya sama kita,  kalian pacaran atau enggak. Kami kan bingung jawab nya. Sebagai Duta Gosip yang baik,  kita kan harus tau" sahut Melia,  yang dingguki mantap oleh Anggi.


Thifa memutar bola matanya jengah,  ia bergeas pergi meninggalkan kedua sahabat nya, yang lagi dalam mode rese.


***

__ADS_1


"Dimana Thifa?! " tanya Arfen mengedar kan pandangan nya.


"Kak Arfen!! Nanti Aurel nebeng kaka yah? Supir Aurel enggak jemput soal nya" Rengek Aurel manja di depan Arfen. Mengabaikan pertanyaan Arfen.


Arfen menaikkan sebelah alis nya.


"Lo tau gak rasanya tenggelam di laut. Lo mau coba?! " Sinis Arfen,  tatapan matanya sangat dingin. Ia sudah merasa jijik dengan Aurel.


Arfen ingat bagaimana mereka bisa ada di sini. Yah,  Di halaman belakang sekolah. Itu semua karna Aurel,  Kata Aurel Thifa lagi nungguin Arfen di sini. Membuat Arfen dengan senang hati,  mengikuti Aurel. Tapi,  Fakta nya? Itu semua hanya akal - akalan Aurel.


"Kak Arfen!  Aurel udah suka sama kakak!  Bisa enggak sih!  Hargain Aurel dikit aja!! Hargain perjuangan Aurel!  Hargain kak!! " teriak Aurel keras.


"Emang elo berharga? gimana gue mau ngehargain elo. saat elo sendiri enggak menghargai diri lo"


"kakak salah!! ini semua karna Aurel Suka sama kakak! Ngerti dong kak! Kak!  Apa perasaan Aurel enggak ada artinya sama kakak?! Kakak enggak pernah hargain perasaan Aurel!! "


"Elo? Udah ngaca belum? Layak gak lo di hargain, dengan sikap lo yang gini? pake acara nipuin gue segala! Gue udah nolak lo secara halus . Tapi elo nya masih terus ngintilin gue. Risih tau gak! Gue itu gak suka sama lo! Lo jauh - jauh deh!! " Teriak Arfen keras. Berharap dengan teriakan nya ini Aurel sadar diri.


---


Thifa menghentikan langkah nya, ia menyipitkan matanya. Ada sepasang orang yang berbeda jenis kelamin di sana. Thifa mengenali kedua nya, Tampak Arfen dan Aurel sedang berbicara di sana.


"Thif, kan gue udah bilang. Arfen bukan cowok baik - baik. Dia itu playboy. Sadar dong" seru seseorang dari sebelah Thifa. Thifa agak familiar dengan suara orang itu. Namun, Thifa snediri tidak jelas. Siapa orang itu. Thifa menoleh.


"Zefan?! Ngapain lo di sini?! "


***

__ADS_1


Nexttt??


Lanjuuutttt??


__ADS_2