My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
S2 Bab 18


__ADS_3

***


Hampir setengah jam mereka berceloteh, arhh berdebat maksudnya. Dan hanya tenda mereka yang berisik dan tak pernah tenang atau hening. Suara jangkrik pun tak terdengar.


"Vania yah? Ayok kakak antar ke Tendanya. Soalnya Bu Ima udah antar temen mu tadi ke tenda. Kakak baru dapat WA dari pak Ghani, supaya antar kamu. " Kata Thifa ramah dan lembut, berjalan ke arah Vania.


"Gue aja yang antar Thif. Lo kan cewek. " Usul Riyan membuka suara. Dia bangkit berdiri bersiap mengantar Thifa.


"Kejab wei,  Modus baru iyah? Incaran baru bre? " Tanya Hasan enteng. "Imut sih,  cuma cewek seimut itu mau sama Cowok se amit Lo! " tambah Hasan lagi.


Bukhhh!!


Sepatu hitam Riyan sudah melayang akurat di kepala Hasan.


"Cowok di kasih otot kuat,  bukan lambe Turah. " Cibir Riyan sinis. Ia membuka sepatu satunya lagi, dan berganti memakai sandal.


"Vania gak masalah sama Kak Riyan? " Tanya Thifa memastikan. Bagaimanapun, ini adalah tanggung jawab Thifa mengantar Vania dengan selamat.


Riyan melirik Vania. Mengintimidasi anak itu untuk mengatakan sesuatu.


"Enggak papa kok kak, udah kenal juga sama Kakak ini. " Sahut Vania dengan cengiran manisnya.


"Oh yah udah, hati - hati yah Yan. Jagain, imut soalnya. Takutnya kalo dia kenapa - napa, stok cewek imut habis nanti. "


"Makasih kakak, Selain cantik, kakak juga baik. Calon suami kakak pasto beruntung. "


"Sangat! " Sahut Arfen enteng.


"Hati hati yah dik, Kakak itu pedofil soalnya. " Tambah Fandri yang tak puas meledek.


"Udah ayo! " Ketus Riyan menarik tangan mungil Vania. Meninggalkan segerombolan orang yang tertawa Ria di belakang.

__ADS_1


"Wah, Om Galak beruntung tau. Om ini galak, pake banget lagi. Tapi, malah dapat sahabat sebaik mereka. Vania iri, hum~" Oceh Vania membuka pembicaraan.


"Emang lo gak punya sahabat? "


"Punya sih, tapi cuma Nana. Nana doang yang ngertiin Aku. "


"makanya kalau gue ajak datang dong. Biar lo gabung sama kita. "


"Tapi kan Om, di antara mereka cuma om sendiri yang gak ada pasangan. " Ucapan Frontal bin ceplos Vania ini, sukses menghentkan langkah Tegap Riyan.


"Gue enggak sendiri. Gue ada lo sebagai pasangan. Makanya, Sering ikut gue. Biar gue gak keliatan sendiri. " Sahut Riyan, menoleh ke arah Vania. Menatap penuh makna Mata indah gadis imut itu.


Buh! Vania berhenti, bahkan otak kecilnnya juga berhenti. Apa tadi? Apa otak Riyan rusak? Atau ada yang aneh? Atau bahkan Riyan hanya mengisengi Vania saja. Begitulah kira - kira yang bisa di tebak dari ekspresi wajah Vania saat ini.


"Om, Om ngaco iyah? " Tanya Vania gagu.


"Gue gak ngaco,"


Riyan diam, entah apa yang dipikirkan cowok Dingin itu.


"Sebentar lagi sampai, " kata Riyan. Dia berhenti lagi, menoleh kanan kiri memastikan.


Chup


Riyan mencium manis kening mungil gadis kecil itu.


"Tidur yang nyenyak. Mimpi indah, arh Ralat. Itu bakal indah kalo cuma ada gue di dalam mimpi lo. " Bisik Riyan menggelikan telinga Vania.


Vania masih diam tak bergeming, tapi wajahnya sudah merah merona. Dia benar - benar malu.


"Jaga diri lo, besok kita ketemu lagi. "

__ADS_1


Chup


Riyan meninggalkan kecupan singkatnya di pipi kanan Vania. Dan melenggang pergi begitu saja. Meninggalkan Vania dengan segala pikiran nya yang beradu argumen.


***


Malam hari itu akhirnya Semakin larut. Sisa tiga orang yang tinggal menjaga Malam, Ada Arfen, Riyan, dan Nando.


"Woi, Kalian entar Kuliah di mana? " Tanya Arfen membuka pembicaraan.


"Yang jelas gue sama Raisa. Dimana pun itu. " Sahut Nando enteng, melempar kayu ke dalam api.


"Lo Yan? Kuliah di mana? "


"Universitas dekat sini aja. "


"Oh, biar gak jauh - jauh dari bocah itu. Eh, siapa namanya. Vania yah? " Celetuk Arfen menatao santai Riyan.


"Lo seriusan Yan suka sama cewek itu? Udah gak suka lagi sama Riyan? Jujur, Gue juga agak risih kalo berdua sama Raisa terus di liat lo. Serasa gue yang jahat. " Sambar Nando, menatap serius Riyan.


"Gue emang pernah punya perasaan sama Raisa. Tapi itu dulu. Dan sekarang, Kalian bener. Gue cuma suka sama Vania. Andai gue bisa tetap di SMA, gue bakal milih di SMA bareng dia. "


Uhuk!


Uhuk!


Arfen dan Nando kompak terbatuk. Apa yang Riyan makan sebelumnya? Kepalanya terbentur kah? Kenapa dengan pikirannya?


"Kalo lo bisa, lo milih gak lulus biar satu sekolah sama Vania? Sadar bre! Yang ada tuh bocah malah malu liat lo! " tukas Arfen geleng - geleng kepala. Dia pikir sebelum nya, hanya dia yang terkena Virus bucin akut. Ternyata Riyan juga.


"Makanya Gue milih Universitas yang dekat, biar gak perlu gak lulus. Gue juga sadar, kalo gue gak lulus Vania bakal jauh dari gue. "

__ADS_1


***


__ADS_2