My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
S2 Bab 4


__ADS_3

***


"Sa! Tungguin gue dong " Seru Nando, menghentikan langkah Raisa. Gadis manis itu berbalik, menatap Nando yang berjalan perlahan ke arahnya.


"Hem, apa? Ngapain? " tanya Raisa saat penhuni kelas sudah keluar semua.


Bel pulang sekolah sudah berbunyi Tujuh menit yang lalu.


"Lo balik bareng gue yah? " tawar Nando merangkul manis Bahu Raisa.


"Gue balik bareng Arfen. Tadi pagi papah gue pesen, buat balik bareng bocah itu. " Sahut Raisa lesu.


"Udah lah balik bareng gue aja. Gue anter deh lo sampai rumah. Janji deh gue. "


"Tapi, dirumah Gue masih ada bokap yang nungguin. Entar lo pulang tinggal nama mau? "


"Gak masalah, asal demi lo jangan kan pulang tinggal nama, tanpa jasad gue juga ikhlas. "


Bukhhhh!!!


Satu pukulan ringan sudah Raisa berikan untuk Nando. Masalah nya dia ngomong seceplos itu gimana orang gak marah.


"Kebanyakan ngegame bareng Arfen nih lo. Gedeg nya nular kan. " Raisa menggeleng tak percaya. Ternyata Arfen juga mampu mengeluarkan Virus - virus berbahaya.


"Bukan dari Arfen. Ini namanya panggilan hati buat lindungi lo. " Bela Nando. "Udah lah yuk balik. Entar lo di omelin bokap lo itu. " Ajak Nando, masih merangkul manis Raisa.

__ADS_1


Raisa hanya bisa menghela napas kasar, dan keluar mengikuti langkah Jenjang Nando.


"Hai Kak Nando? Mau pulang yah? Hati - hati yah~ " Sapa satu dari dua orang yang baru saja berpapasan dengan Nando dan Raisa.


Raisa hanya bisa memaksakan senyuman untuk dua perempuan yang menurut Raisa tak tau diri.


Apa mata mereka buta?! Ini Nando lagi rangkul gue loh. Artinya gue ini spesial buat Nando. Tapi mereka? Dengan santainya malah nyapa Nando dengan nada manja gitu!!! Uwhhh!! Awas aja! Ketemu lagi gue timpuk palanya pake sepatu.


Batin Raisa, Cukup emosi di rasanya. Karna, akhir - akhir ini banyak sekali yang menyapa Nando.


"Kak, kok diem aja sih? Enggak senyum, nyapa balik, nyaut kek. Udah kayak patung aja. " tanya satu dari dua orang itu.


Tentu dua gadis itu merasa kesal karna sapaan manja dari mereka sama sekali tak di gubris Oleh Nando.


"Gue cuma ngomong sama sesama manusia." Sahut Nando enteng, melanjutkan jalannya bersama Raisa.


"Maksud kak nando apa Tha? Apa dia bilangin kita bukan manusia?! Makanya dia gak mau ngomong sama kita!! " tanya satunya.


"Itu pasti bukan ulah kak Nando. Gue yakin, ini ulahnya kak Raisa! Dia yang hasut Kak Nando! Lo tau lah Raisa itu gimana! Dulu aja, wakttu Kak Arfen deket sama kak Thifa. Dia masih aja sempat - sempatnya godain kak Arfen! Emang gak ada otak tuh orang! Padahal satu sekolah udah tau gimana cintanya kak Arfen sama kak Thifa!! " Gerundel satunya, Litha namanya. Diabaikan oleh cowok ganteng, tentu gadis jenis Litha tak kan terima.


"Halah, lo mah beralih ke kak Nando karna cintanya kak Arfen gak bisa berpaling sama kak Thifa. Makanya lo incar yang lain. Tapi, emang sih Raisa itu. Kok ada sih jenis cewek gak tau malu kaya dia. Semua cowok di embat!! "


"Liat aja nanti. Tunggu, tunggu sampai kak Nando bakal bertekuk lutut sama gue. "


"Iyah iyah. Gue cuma bisa bantu doa. "

__ADS_1


Keduanya juga langsung melanjutkan perjalanan pulangnya.


***


"Nan, gue--" Ucapan Raisa terpotong.


"Nanti aja Sa, ngomong nya di mobil. Sekarang kita info ke Arfen dulu. Lo balik sama gue. " kata Nando langsung.


Mereka akhirnya berjalan ke arah kelas Arfen. Tepat sekali, di sana hanya tinggal mereka bertempat di kelas.


Gue pernah denger, cinta sejati gak akan hilang di telan waktu. Tapi, hari ini liat Nando jalan sama Raisa, gue gak masalah. Gak ada rasa sesak, kecewa, ataupun berapi - api. Gue kira gue cinta ke Raisa itu sejati, tapi hanya butuh waktu beberapa bulan. Dan gue udah gak suka lagi~ haha baguslah. Sekarang yang terpenting, tinggal nyari tuh bocah. Gue masih ingat jelas muka anak itu. Bahkan kalo udah gak ketemu bertahun - tahun.


Batin Riyan, ia dengn santainya menerima kedatangan Nando dan Raisa yang berrangkul mesra.


"Woi Fen. Raisa balik bareng gue yah. Gue yang antar dia. " kata Nando dari pintu kelas.


"Iyah deh serah kalian. Tapi, kalo Om Rei marah. Jangan bawa - bawa nama gue. " Sahut Arfen enteng, memasukkan buku - bukunya.


"Gue luan yah. Kirim salam sama Thifa. " Kata Raisa melambaikan tangannya.


Lalu keduanya dengan santai nya berjalan lagi.


"Gue balik luan juga yah~" Kata Fandri ingin melangkah keluar kelas.


Bukhhh!!

__ADS_1


"Lambe kalo ngomong gak ada rem nya. Woi, ini hari Selasa! Kita piket bersihin Kelas! Enak aja lo mau cabut!! " Kata Arfen sembari melemparkan penghapus papan tulis yang ada di sebelah nya. Tentu saja, lemparan sang master mengenai kepala sang korban.


***


__ADS_2