
***
"Jadi hari ini Fandri sama Melia, jadian nih? " Celetuk Arfen merangkul sahabatnya itu.
"Jadi, Makanan hari ini. Fandri yang bayar. " Sahut Thifa.
"Memang pasangan yang ini kompak banget. Eh bentar, bukan pasangan yah. Mereka aja belum jadian dan gak ada status apapun." Sambar Raisa santai. Bodoamat mah, jika perkataan nya menyinggung Arfen.
Yah, Siang ini Istirahat kedua. Mereka semua lengkap berkumpul di kantin sekolah, bahkan ada Nando, kecuali Riyan yang hampir setiap hari di ganggu oleh Vania yang rempong.
"Santai dong. Ada waktunya hubungan kita Resmi. Udah deh, lo mikirin aja hubungan lo sama Nando. Enggak jelas juga kan? " Sindir balik Arfen. Yah, ini juga upaya untuk mendekatkan Nando dan Raisa.
"Lo salah Fen. Gue bukan gak usaha buat resmiin hubungan gue sama Raisa. Gue cuma belum dapat restu aja. Dan, gue juga gak tau hati dia buat siapa. " Timpal Nando datar.
Tiba - tiba wajah Raisa memerah, namun ia masih bisa mengatur situasi nya.
Obrolan nyaring dan santai terdengar dari meja mereka. Apalagi karna sekarang Fandri dan Melia sudah jadian, membuat Arfen puas menggoda pasangan baru ini.
Bergitu juga dengan Hasan dan Anggi, yang kian dekat. Apalagi Nando yang kini mulai berani merayu Raisa terang - terangan. Dan, jangan tanya Arfen. Ia bahkan tak pernah melepas genggaman tangan nya dengan Thifa sedari tadi. Mereka aman, karna tangan nya ada di bawah meja.
"Permisi, Kakak--" Lirih seorang gadis, datang ke arah Arfen. Semua orang menatap sinis gadis itu. Yah dia adalah Aurel yang selalu ingin merebut Arfen dari Thifa. Yang katanya tergila - gila akan sosok manusia tampan itu.
"Mau apa lo?! Ganggu kita?! Lo harusnya sadar dan makasih karna gue cuma bocorin ke Thifa. Enggak yang lain. " Sinis Raisa. Ia langsung ingat bahwa insiden pertama kali Thifa di culik itu karna ulah Aurel.
__ADS_1
Oh iyah? Yang nyulik gue awalnya kan Aurel. Hemm, mau apa dia?
Batin Thifa, matanya lekat tak lepas dari wajah sendu Aurel.
"Karna itu, Aurel di sini mau minta maaf ke kak Thifa sama kak Arfen. Dan juga, Aurel mau mengakui semua kesalahan Aurel. " Lirihnya, ia masih menatap ke bawah. Tak ada kuasa untuk mendongak kan pandangan nya.
"Apa maksud lo? " Pekik Arfen. Ia mencium gelagat mencurigakan.
"Maaf kak. Aurel udah bohongin kakak. Sebenarnya, orang yang nyulik kak Thifa pertama kali itu Aurel. Dan Aurel yang sekap kak Thifa di gudang. Dan Aurel juga yang mau jual kak Thifa jadi budak ke luar Negri. Maafin Aurel... Aurel tau kalian enggak bakal maafin Aurel semudah itu. " Lanjut nya. Matanya yang tertunduk sudah menjatuhkan Tetesan air hangat itu.
Semuanya geram atas pengakuan Aurel. Terutama Arfen, ia di tipu mentah - mentah oleh Aurel. Bahkan, Aurel lah yang hampir menyebabkan Thifa tiada. Bagaimana mungkin Arfen memaafkannya begitu saja?
"Terus kenapa lo bohongin gue?! "
"Jawab Gue!! "
"Maaf kak, Aurel salah. Aurel salah. " Tangisnya mulai pecah.
Thifa yang awalnya geram, namun ia juga tak ingin bersuara apapun.
"Maaf kak. Aurel udah hampir nyelakain kak Thifa. "
Aurel awalnya tak ingin mengakuinnya. Tapi, beban rasa bersalah nya menghantui hidupnya selama ini. Ia benar - benar menyesal dengan apa yang di lakukan.
__ADS_1
"Yah udah lah, udah berlalu. Mending lo balik. Jangan ulangin hal itu lagi. " saran Thifa. Lagian udah terjadi. Thifa juga sudah memaafkannya, yah meski ada rasa emosi sedikit.
"Balik?! Enggak Thif! Gue gak bisa biarin dia gitu aja! Siapapun yang coba nyakitin elo! Harus terima akibatnya! Enggak terkecuali cewek ini! Dia juga berani bohongin gue!! " Bentak Arfen. Ia sudah tersulut emosi. Tak ada yang tau, betapa hampir gilanya Arfen karna kehilangan Thifa.
Rasanya Arfen benar - benar ingin mencabik orang itu.
"Arfen, Udah lah. Apa yang di bilang Thifa bener. Biarin aja dia. " Timpal Raisa. Meski dingin dan agak kejam, tapi Raisa tak sekejam itu.
"Maafin Aurel kak... "
Thifa menatap Arfen, menggenggam erat tangan Arfen. Tatapan Thifa memberikan pengertian, agar Arfen memaafkan Aurel.
"Gue maafin! Tapi elo juga harus di hukum! Gue gak mau liat lo masih ada di sekolah ini! Cepetan lo pindah dari sekolah ini! Enyah dari hadapan gue! Atau gue bakal hancurin keluarga lo! "
Thifa langsung berdiri di sebelah Aurel. Dan berbisik sebentar.
"Lo tau Arfen gila? Dia lebih dari kata gila. Gue setuju sama keputusan Arfen, buat lo pindah dari sekolah ini. Kalo lo masih ada di sini--" bisikan Thifa terpotong.
"Aurel juga tau kak, Kalo Aurel masih di sini. Aurel gak bakal tahan liat kakak sama kak Arfen. Dan itu, bakal buat Aurel makin jahat... makanya Aurel mau pindah, tanpa Kak Arfen suruh. " Potong Aurel.
"Elo hebat. Membuat kesalahan adalah hal yang wajar. Tapi, mengakuinya? Hanya orang tertentu yang bisa melakukannya"
"Kakak juga luar biasa. Mau empati sama aku, yang udah. Henn, Kesalahan nya gak kerhitung sama kakak"
__ADS_1
***