
***
Sakit... Tangan gue sakit. Terikat lagi?
Batin Gadis mungil yang tengah terikat badan nya, menyatu dengan kursi. Hanya tangan, Kaki, dan badan nya yang terikat. Mulut nya tak di sumpal lagi.
Kapan scane menculik ini akan berakhir. Gue udah capek di ikat terus. Ngerti dong!
Racau nya dalam hati, antara sadar dan tidak. Karna matanya masih menutup rapat akurat. Hanya batin nya yang bersuara. Bukan karna bibir nya tak mampu bicara. Hanya saja, kali ini ia ingin mengumpat dalam hati.
Sudah cukup lama Thifa Mengumpat, akhirnya ia memutuskan untuk membuka matanya, secara perlahan.
Dimana gue? Gudang? Tempat gelap lagi?
Batin Thifa, yang masih mengumpulkan fokus matanya. Namun, apa yang dikatakan nya tak salah. Sepertinya ia memang berada di sebuah gudang dengan penerangan apa ada nya. Sangat sepi.
Ya Allah, Thifa capek selalu ada di ruangan begini. Tempat kayak gini.
Batin Thifa lagi, matanya kembali terpejam. Mengingat bagaimana ia bisa dipindahkan dari pabrik tua ke gudang tua.
Kenapa semuanya identik sama bangunan tua?
-
-
Tunggu! Gue ingat! Gue sempat mau kabur bareng Raisa di pabrik! Tapi, ada beberapa orang serba hitam yang halangin kita. Terus, Kita coba lakuin perlawanan. Akhirnya, kita yang di siksa.
Lanjut nya dalam hati. Kini, Thifa yakin betul akan rangkaian kejadian hari itu. Raisa yang memang melakukan perlawanan hingga mereka melukai Raisa, yah hanya goresan kecil.
Gue harus selametin Raisa! Raisa!
__ADS_1
Batin nya. Ia mulai meronta melepaskan diri dari kursinya.
"Raisa!! Raisa!! Lo dimana?! Gak boleh kejadian apa ala sama elo!! "
Racau Thifa, masih berusaha memberontak di kursi nya. Namun, ada yang aneh. Thifa merasa kursi nya di kaitkan dengan sesuatu di belakang nya sana. Thifa tidak perduli lagi. Yang ia pedulikan saat ini adalah bagaimana keadaan Raisa.
Tapi, Sesuatu yang menempel di kursi belakang itu sangat mengganggu, membuat Thifa dengan terpaksa menoleh. Sayang nya juga gagal. Ia tidak bisa menoleh sepenuh nya karna badan nya terikat.
Namun, Thifa bukan gadis yang mudah menyerah. Ia terus meronta di kursinya.
Semangat Thifa! Lo bisa!
Batin nya menyemangati dirinya sendiri.
"Ey Thifa! Bisa gak jangan berisik! Jangan goyang - goyang gitu. Gue mau tidur nih. Ngantuk, suer dah. " Celetuk seseorang, tepat berasal dari arah punggung Thifa. Thifa mengenali suara itu.
"Raisa?! " Pekik Thifa. Ia mencoba menoleh, namun hasil nya nihil. Thifa tidak bisa menoleh sepenuh nya.
"Alhamdulillah, Lo di sini bareng gue. Gue khawatir banget sama lo Thif. Kalo lo kenapa - napa. Arfen bisa gila. "
"Arfen gila kalau kehilangan gue. Tapi, Arfen bakal benci hidup nya kalau sampai kehilangan elo."
"Iyah, Gue tau kok. Jadi, kita harus kuat di sini. Enggak boleh nyerah, apalagi pasrah. "
"Gue sih pasrah nunggu bantuan aja. "
"Bantuan? Bantuan apa maksud lo Sa? Lo ada HP buat hubungi Polisi? "
"Bukan HP. Ada sesuatu yang lebih mendebarkan. " Ujar Raisa memasang senyuman menyeringai nya. Syukur, Thifa berada di belakang Raisa, dan bukan di depan nya. Kalau tidak, Thifa sudah jelas Akan bergidik ngeri.
***
__ADS_1
Arfen menatap benda yang baru saja di pijak oleh nya, hanya sebagian.
Ini kan? Jedai Raisa?
Arfen mulai mangambil benda yang di sebut Jedai itu.
Kok ada noda darah? Dan ada di luar pabrik? Tunggu... Mayat Raisa dan Thifa enggak di temukan. Kemungkinan besar, mereka enggak hangus terbakar kan? Tapi, udah di bawa lari sama penculik nya?!
Batin Arfen, ia segera menelpon Nando agar mengajak Ari dan Layla kerumah nya. Hati Arfen kuat sekali, meyakini Dua gadis kesayangan nya itu masih hidup dan baik - baik saja.
Bagus Raisa! Lo emang sepupu gue yang paling bisa di andalkan. Seenggak nya lo gak bodoh- bodoh amat.
Batin Arfen mulai melajukan mobilnya, keluar dari pekarangan pabrik itu.
Raisa... Andai lo tau, sekarang om Rei udah kayak orang gila karna kehilangan lo.
Tiba - tiba Arfen nelihat ke arah kaca yang ada di atas nya.
Oh Shit!
Umpat Arfen. Ia baru saja menyebutkan Rei seperti orang gila. Tapi, siapa yang seperti orang gila yang sesungguhnya.
Penampilan dengan baju kacau, mata sembab, Rambut Acak, kulit kusam akibat kepulan asap yang bahkan belum di cuci. Semua itu dapat Arfen lihat dari pantulan dirinya di cermin.
Mandi itu penting!
Lanjut nya. Seperti nya Gairah Arfen sudah kembali. Ia kembali bersemangat menemukan peluang besar kehidupan gadisnya.
***
Nexttt??
__ADS_1
Lanjut??