My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
S2 Bab 5


__ADS_3

***


"Gue balik luan juga yah~" Kata Fandri ingin melangkah keluar kelas.


Bukhhh!!


"Lambe kalo ngomong gak ada rem nya. Woi,  ini hari Selasa! Kita piket bersihin Kelas! Enak aja lo mau cabut!! " Kata Arfen sembari melemparkan penghapus papan tulis yang ada di sebelah nya. Tentu saja,  lemparan sang master mengenai kepala sang korban.


"O.. Iya.. Gue lupa... " Ngeles Fandri mengusung senyuman semanis mungkin. Yah biar di maafin. Soalnya, siapa yang tidak tau bahwa Fandri sengaja ingin kabur.


Sejak kelas sepuluh mereka memang gitu, kalau jadwal piket kelas selalu bareng. Awalnya mau di masukin cewek, tapi Arfen nolak mentah - mentah. Jadilah empat tuan muda itu piket di satu hari yang sama.


Bukannya mereka gak mau piket pagi. Hanya saja, Nafsu tertambat begitu menggebu. Hingga mereka memutuskan untuk piket pulang sekolah di hari selasa. Sebenarnya mereka piket di hari Rabu nya.


"Gue angkat bangku Semuanya. Lo Fan, Bersihin kaca jendela. Hasan sama lo Fen. Nyapu kayak biasa. " Kata Agung menginstruksikan.


Semuanya mengangguk mengerti. Arfen berjalan ke belakang dan mengambil satu sapu nya.


Krekkkk


Takkkk


Belum lagi Arfen memegang sapu itu semenit. Sapu itu telah terbelah menjadi dua. Yang artinya patah.


"Kita kemarin beli sapu terakhir kali kapan sih? Kok sapu nya lapuk gini? Emang itu si Sinta beli harga berapa sih?! Gampang amat patahnya! " Gerutu Arfen menunjukkan Kedua batang sapunya.


"Hahaha!! Hayoo loh Fen! Di marahin pak Ghani lagi!! "


Tawa Hasan dan Fandri pecah begitu saja. Mereka terkikik ngeri sampai memegangi perutnya.


"Bukan sapu nya yang lapuk. Lo nya aja kelewatan. Bukannya tuh sapu langganan lo mukul - mukul meja. " pekik Riyan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Oh iyah lupa gue. Udah lah nanti gue ganti. Gue nyari pinjeman sapu dulu yah di kelas sebelah. Dah~" Cowok tengil itu pun melambaikan tangannya, melenggang keluar kelas.


Bukannya nyari sapu terdekat, Arfen malah berencana meminjam di kelasnya Thifa. Menyadari bahwa Thifa pasti masih ada di kelasnya. Karna Jadwal Piket Arfen dan Thifa itu sama loh.


"Hai! Sayang~ Masih nyapu? " Sapa Arfen dari pintu. Menatap Thifa yang lagi bersesin meja Guru. Tentu masih ada Melia yang Charger HP sambil di mainin, nengkereng nyaman di atas meja. Dan Anggi yang juga main Hp.


Jadwal Piket mereka sama. Hanya saja, Mereka bertiga sudah lebih dulu membersihkan kelasnya.


"Kalian udah selesai nyapu Fen? Fandri udah pulang? " tanya Melia, terkesiap mendengar suara Arfen.


"Enggak tuh. Masih di kelas. Masih nyapu. " sahut Arfen berjalan duduk di kursi guru dekat Thifa.


"Lah, lo ngapain ke sini? " Tanya Anggi heran.


"Minjem sapu. Sapu kami satu sudah terbelah dua. Sadis euy. "


Thifa masih menunduk, fokus memperbaiki Bunga yang ada di vas itu.


"Oh yah udah. Gue nyusulin Fandri dulu yah. Mau gue kasih semangat, biar nyapunya bersih. " Celetuk Melia memcabut Chargernya. Lompat ke bawah.


"Gue ikut deh Mel, daripada jadi nyamuk di sini. " Sambung Anggi ikut berjalan.


Jika Melia dan Anggi ke sana. Sudah jelas, yang jadi nyamuk, Riyan, kan? (Malang nya Riyan~)


"Malang nya Riyan. Anak itu buruan di cariin pacar deh. Kasian gitu gue liatnya. Setuju kan yank? " Tanya Arfen menatap Thifa.


Thifa hanya menunduk dan mengabaikan segala celotehan Arfen. Seperti nya kali ini Thifa benar - benar marah.


"Thif... Gue cinta ke elo. "Kata Arfen, menarik tangan Thifa dan langsung menjatuhkan kecupannya di kening gadis mungil itu.


Sontak, Thifa menjadi gagu sendiri, dia berusaha menutupi pipinya yang kian merona.

__ADS_1


"Percaya sama gue, oke? Mereka semua jelek Thif. Enggak ada yang secantik lo. Dan gue gak akan berpaling. " Lanjut Arfen, memegang kedua pipi Thifa. Menatap lekat mata gadis mungil itu.


"Sapunya di sana. Lo mau sapu kan? " Kata Thifa mengalihkan pembicaraan, dia sudah terlalu gugup untuk melanjutkan percakapan yang membuat hatinya hampir meledak ini.


"Gue gak butuh sapu. Gue butuhnya elo. "


Chupp


Kecupan singkat Arfen berikan di pelipis Thifa.


"Gue udah maafin lo. Jadi cukup, jangan yang aneh - aneh. Itu sapunya, dan ayo ke kelas lo. Mereka semua pasti nunggu. " kata Thifa gagu. Arfen yang menyadari itu tersenyum puas.


Ngambek aja terus


Biar gue cium terus ...


Batin Arfen tersenyum menang.


***


Arfen dan Thifa berjalan kembali ke kelas 12 IPA LIMA. dengn oleh - oleh sebuah sapu.


"Pacaran aja terus. Sampai entar Adzan subuh lagi! Katanya minjam sapu! Nyatanya sampai kelas bersih gak balik - balik. " Omel Fandri untuk menyambut Arfen dan sapunya.


Arfen hanya bisa menampilkan cengiran manisnya, menatap teman - teman dan kelasnya yang sudah bersih .


"Maaf kelamaan. " kata Arfen.


Entah memang enggak di sengaja. Atau sudah di rencanakan, Arfen dan tuhan lah yang tau.


***

__ADS_1


__ADS_2