
***
Matahari terik perlahan bergeser, berganti dengan Cahaya bulan yang sederhana.
Kini seluruh murid, dan guru, baik SMP maupun SMA, semuanya berada di luar tenda. Masing - masing membuat kelompok api unggun sendiri.
Tentu Sembilan manusia itu menjadi satu, kali ini dengan Pak Ghani pembimbingnya. Ada juga beberapa bocah SMP lainnya. Usul siapa gabung sama anak SMP? Riyan dong.
Ada Vania dan Nana, hanya mereka berdua bocah SMPnya. Entah cara apa yang Riyan gunakan sampai Rehan tidak ikut.
"Pak, Anak bapak sekarang SMP atau SMA? " tanya Arfen membuka pembicaraan. Belum sempat pak Ghani menjawab,
"Bentar Pak, Kasihan my wife, kedinginan. " kata Arfen menghentikan gerak bibir pak Ghani. Nih anak beneran minta di totok.
Arfen segera membuka jaketnya, untuk dipakikan ke Thifa. "Ada wangi tubuh gue nih, cium aja. Bawa tidur buat di peluk juga boleh, " bisik Arfen saat memakaikannya. Blush! Thifa langsung merona. Terlihat sederhana, namun sangat kena di hati.
"Ekhmm ekhmmm, Arfen sadar diri sadar tempat itu penting! " pekik pak Ghani.
Cowok lambe turah ini hanya bisa menampilkan cengiran manisnya, dan duduk di sebelah Thifa.
"Anak saya Sudah kuliah, memangnya kenapa? "
"Oh gitu pak, it--" Sambar Hasan tak sabar.
"Auuuuuuuuuuuuu!! Auuuuuuu!!!" tiba - tiba suara itu memotong ucapan Hasan. Seketika seluruh pandangan tertuju pada asal suara, dan pandangan mereka semua jatuh pada, Ar-Fen? Arfen yang ngaum.
__ADS_1
"Woik! Arfen, lo waras gak sih? Stok obat dirumah abis? " Komen Riyan santai.
Hanya Riyan yang santai, yang lainnya memasang wajah tegang dan ketakutan. Takut bahwa ternyata Arfen adalah srigala jadi - jadian.
"Cowok lo Srigala Thif! " Seru Melia dan Anggi bersamaan.
"Woik Fen! Kenapa lo? Kena sawan Srigala? Sri nya ada? Gala nya gak ada. " Sambung Raisa datar. Bukannya apa, Raisa juga bingung. Sejak kecil Raisa mengenal Arfen sebagai manusia biasa. Eh, enggak juga deh. Arfen emang gak waras dari dulu.
"Arfen? Lo? " Kini Thifa yang berlirih, dia bahkan berani mendekat dengan Arfen. Di saat yang lainnya menjauh.
"Santai Yank, ini gue oke? Tadi tuh efek bulan purnama aja. Maklum, dari kecil sering Nonton Werewolf. " Sahut Arfen enteng tanpa beban ataupun dosa, menarik tangan Thifa lebih dekat dengannya.
"Maaf yah semua!! " Serunya menggema di hutan itu.
Para murid SMA dan Guru SMA, Hanya bisa menggelengkan kepala, soalnya mereka udah biasa melihat tingkah Arfen yang jauh dari kata normal.
Semua orang kembali ke tempat nya semula.
Bughhh!!!
"Lain kali jangan jadi werewolf. Jadi pocong aja lompat - lompat! " ketus Thifa memukul perut cowok tengil nya ini. Bayangkan saja kalian menjadi Thifa, setiap hari, arhh bukan. Setiap bersama Arfen ada saja tingkah dan celotehan gilanya. Mungkin kalian akan Migrane berat.
"Arhh gak seru, masa judul Ftv kita nantinya, 'Ku melompat meraih cintamu' "
Thifa menghela napasnya, mencoba menahan sumpah serapahnya. Bagaimanapun juga, cowok ini adalah calon suami masa depannya.
__ADS_1
"Hukuman buat Arfen, malam ini jaga malam, pilih teman mu! " titah pak Ghani sudah jatuh, mana bisa diangkat lagi.
"Oke sip pak. Ngecek satu - satu tanda masuk dalam tugas jaga malam gak pak? "
"Halus banget bahasa lo! Bilang aja kali,. Ngintipin satu - satu tenda masuk gak pak? " Sambar Fandri, biasa mulut lemes.
"Kalian jaga di luar bukan di dalam. Awas aja kalo ada kasus aneh - aneh. Bapak jodohin Thifa sama anak bapak! " Ancam pak Ghani.
"Ampun pak, Demi Thifa saya rela jaga mata jaga hati!!!"
Pak Ghani tersenyum puas. Guru tua ini tentu hapal gelagat Arfen, setidaknya sebelas duabelas sama bapaknya. Kalo Nathan, ancam menggunakan Nama Sheryl. Kalo Arfen, tinggal gunakan nama Thifa.
"Riyan! Nando! Bertiga yah bre! Ogah gue ajak Hasan sama Fandri. Kucur! Dahan kena angin aja udah merinding! " Seru Nathan mengangkat tangan menatap Riyan dan Nando bergantian.
Hasan dengan Fandri langsung melotot.
"Yah udah, Bapak balik ke tenda dulu yah. Udah malam, oh yah. Kamu Nana kan? Ponakan nya bu Ima? Ikut bapak yuk, Tadi buk Ima WA bapak, minta bawa kamu kesana. " kata pak Ghani menatap Nana. Nana mengangguk, dia berpamitan pada Vania sebentar.
Akhirnya, Pak Ghani dan Nana berjalan ke arah tenda guru. Mata Vania terus mengawasi sampai Nana memang benar - benar di antar ke Bu Ima.
Hampir setengah jam mereka berceloteh, arhh berdebat maksudnya. Dan hanya tenda mereka yang berisik dan tak pernah tenang atau hening. Suara jangkrik pun tak terdengar.
"Vania yah? Ayok kakak antar ke Tendanya. Soalnya Bu Ima udah antar temen mu tadi ke tenda. Kakak baru dapat WA dari pak Ghani, supaya antar kamu. " Kata Thifa ramah dan lembut, berjalan ke arah Vania.
"Gue aja yang antar Thif. Lo kan cewek. " Usul Riyan membuka suara.
__ADS_1
***