
***
"Sejak kita masuk SMA. di situ gue baru sadar. Gue suka sama Raisa, waktu dia dekat sama Zefan. " terang Riyan. Arfen cukup terkejut, pasalnya Riyan selama ini tidak pernah menunjukkan tanda - tanda bahwa dirinya menyukai Raisa.
Apa ini yang disebut cinta dalam diam yang sesungguhnya? Sampai enggak ada yang tau? Riyan mengagumi Raisa diam - diam?
"Terus, kenapa lo gak coba deketin Raisa? "
"Gue udah coba, tapi gue gak bisa. Gue takut Raisa malah makin jauh. Gue sadar, gue udah kejebak di Zona Friendzone. " mata Riyan mendadak sendu seketika.
"Gue bahagia kok, Raisa disukai sama orang kayak elo. Gue sih dukung aja kalo emang kalian jadian. Toh lo gak buruk - buruk amat. " Seru Arfen, mereka masih berusaha mencari tahu.
***
Raisa? Lo beneran masih hidup kam. Thifa? Lo juga kan? Gue sadar, gue sayang kalian.
Batin Nando, entah sudah jalan apa saja yang ia selidiki, mulai dari jalan terpelosok maupun yang kota.
Nando mengacak rambutnya, ia sama sekali tak bisa menghilangkan jejak Raisa dari pikiran nya. Begitu juga senyuman Raisa yang ada di pikiran Nando.
Gue pastiin! Siapapun yang nyulik Raisa bakal nyesel nantinya!
Umpat Nando, Ia terus melajukan mobil nya. banyak cara sadis yang ia pikirkan untuk penculik nya. mulai dari patah kaki tangan? pecah kepala? dan lain nya yang menyiksa?
__ADS_1
***
"Menurut elo? Aurel bakal lakuin hal ini lagi gak Sa? " tanya Thifa, yang tangan dan kakinya masih terikat akurat.
" Gue gak tau, yang gue tau. Kalo gue berhasil keluar dari sini hidup - hidup, gue pengen banget jemur tuh anak. " Geram Raisa, membayangkan wajah Aurel menghancurkan moodnya seketika.
Krekkkk...
Pintu itu terbuka seketika. Ada orang yang berjalan ke arah Thifa dan Raisa. Dia mengenakan jubah. Membuat Thifa sama sekali tak bisa mengenalinya.
Ada juga beberapa orang serba hitam di belakang nya. Pasti anak buahnya?
"Apa mau mu?! Kenapa culik kita?! " Pekik Thifa yang langsung tersulut emosi, melihat orang yang menculiknya ada dihadapan nya.
"Tidak ada. Aku cuma mau melihat Reihan menderita. " Sahutnya santai, menatap miring Raisa.
"Stiven Taerin?!! " pekik Raisa seketika. Yah, yang ada dipikiran Raisa hanya Stiven.
"Benar sekali. Akulah Stiven Taerin. " Sahutnya. Ia membuka jubah yang sebelumnya menutupi wajah dan tubuh nya dengan sempurna.
Tampak, pria cukup usia di balik jubah itu. Setidaknya, seusia papah Thifa.
"Om Stiven?! Kenapa om culik Thifa?! Om gak kasihan sama papah Thifa. Papah Thifa pasti lagi nyariin Thifa! " Ronta Thifa, berharap orang yang dia panggil om ini mengerti.
__ADS_1
"Sebenarnya om gak nyulik kamu Thifa. Tapi, sayangnya kamu dan Raisa itu sepaket. Kalau saya culik Raisa, Rei akan gila. Kalau om culik kamu, Arfen akan gila. Dan Nathan akan menderita. Dengan begitu dendam om perlahan akan terbalaskan dengan menggila nya mereka berdua. " Sahut Stiven santai. Seakan - akan jawaban nya ini sangat logis.
"Terus gimana soal papah Ari!?! Bukan nya om sama papah itu sahabatan?! Kenapa nyulik Thifa, Om sadar gak sih?! Hilang nya Thifa pasti bakal buat papah sedih!!" Bentak Thifa lagi, ia masih yakin bahwa Stiven akan melepaskan nya dan Raisa. Dengan alasan persahabatan?
"Seperti nya kamu keliru Thifa. Di mata om, Sahabat hanya pion yang ada untuk om gunakan dan korbankan. Sahabat untuk om, tidak lebih dari pesuruh. " Sahutnya santai. Tanpa beban, Tanpa rasa bersalah seidkit pun.
Deg.
Thifa terdiam seketika. Bukan hatinya tersayat, tetapi hatinya menangis membayangkan bagaimana jika papah nya yang mendengar ucapan Stiven ini. Karna Thifa sendiri tau, betapa Ari sangat menghargai persahabatan mereka.
Bagaimana perasaan Ari, jika mengetahui sahabat yang sudah di anggap nya saudara itu, malah menganggap Ari sebagai pion, yang kapan pun siap untuk dikorban kan? Mungkin Ari akan membenci persahabatan nantinya?
"Om sadar dong! Kalau mau balas dendam langsung sana ke orang nya! Jangan pake acara nyandra kita gini! Om pengecut!! " pekik Thifa, ia geram sekali rasanya melihat pria yang berusia ini di hadapannya.
"Sadar apa?! Dengan begini, saya akan melihat mereka lebih merasa tersiksa. " katanya sembari menyeringai bangga.
"Sahabat adalah pion, menurut mu begitu? Kalau begitu artinya, Kau adalah sampah yang tak berharga. Sampah busuk yang tak dapat di daur ulang. Karna itu spesies gila seperti mu, harus di kembalikan ke habitat nya. " Sinis Raisa, menatap meremehkan pada Pria itu. Masih dengan sikap dan nada santai, khas nya Rei.
Apa Raisa bilang? Habitat? Bukan nya Habitat itu??
Mata Stiven membulat, ekspresi dan cara bicara Raisa sangat mirip dengan Rei. Mengingat kan kembali pada Reihan Wijaya, si Presdir Dingin yang angkuh dan arogan. Tak pernah menunduk pada siapapun.
Eh, Ralat. Rei sering nunduk kok sama Aisyah.
__ADS_1
***