
***
Dorrrr!!
Ada suara tembakan dari arah belakang mereka. Sontak, ketiga nya membalikkan badan. Tembakan itu di arahkan ke udara, tidak mengenai siapapun.
"Usaha yang bagus. Namun sia - sia. Papah kecewa pada kamu Nando. Beraninya kamu membawa tawanan papah!!" pekik pria itu, yang berdiri dengan beberapa penjaga di belakang nya.
"Papah?!! " pekik Nando, menyadari orang yang memergoki mereka adalah papah nya sendiri.
"om Stiven?! " Sentak Thifa, matanya membulat tak percaya.
Ketahuan? Habislah kita...
Batin Thifa, pupus sudah harapan gadis itu.
"Oh Hai? Sampah? Muka gak berubah yah?! " Cibir Raisa santai, menatap remeh pria dengan beberapa penjaga di belakang nya itu.
Thifa dan Nando melotot tak percaya. Tapi, Thifa sepertinya harus terbiasa. Yah setidaknya Raisa dan Arfen itu mirip.
Cewek ini. Semakin lama semakin buat gue penasaran.
"mulut mu itu, membuat ku tak sabar untuk merobek nya. " Ancam Stiven. Ia sudah mengepalkan tangan nya kuat - kuat. Celetukan Raisa itu selalu sukses membuat Stiven panas.
__ADS_1
"Ah, itu pun jika kau punya kesempatan. " Sahut Raisa benar - benar santai.
"Pah! Kenapa papah nyulik Thifa?! Papah lupa, dia ini anak kandung om Ari! Yang udah papah anggap sebagai putri sendiri!! " Pekik Nando, berusaha melindungi Thifa dan Raisa layak nya pahlawan.
"Sahabat? Dengan Ari? Dia hanya pion buat papah. Dan kenapa papah tangkap Thifa? Itu karna dia sumber kebahagiaan si bocah Arkasa. Papah mau bocah Arkasa itu menderita sampai gila, dengan begitu Nathan juga akan stress. "
"Pah! Sadar!!! "
" Dan buat Raisa. Dia adalah putri nya Rei. Kehilangan dia, Rei akan seperti orang gila. " lanjut nya lagi.
"Nando, kembali lah ke kamar mu. Jangan ikut campur. Papah cukup menyayangi mu. Maka kembali lah. " Titah Stiven dengan suara dingin nya.
Nando mengepalkan tangan nya kuat, ia sendiri bingung, di pihak mana dia. Diam mematung, ia tak kuasa bergerak. Bahkan untuk melawan.
Nando ingat, ketika ia masih sangat kecil. Ia hanya tinggal di jalanan, di kolong jembatan. Hidupnya sangat menderita dan menyakitkan, ia harus bertarung dengan kejam nya dunia. Meringis di bawah kekejaman dunia. Selalu menerima pahitnya di pecundangi dunia. Yah, itulah Nando yang dulu. Hingga Stiven datang, mengangkatnya sebagai anak. Entah memang tulus atau niatnya hanya menjadikan Nando sebagai pion samata. Yang jelas, kehidupan Nando jauh lebih baik setelah masa itu.
"Apa kau ingin mengkhianati papah mu ini? Papah yang menyelamatkan mu? Papah yang kau kenal bertahun - tahun? Kau ingin hubungan kita retak karna mereka?!" Lanjut Stiven lagi, menatap mata Nando yang sudah Gagu kebingungan.
"Jangan dengarkan dia Nando! Dia cuma manfaatin elo aja! Elo cuma di anggap tangga sama dia. Tangga yang bakal dia pijak untuk dia naik ke atas. Kayak dia khianatin papah gue!! " Pekik Thifa, membuyarkan konsentrasi Nando.
Apa yang harus gue pilih? Gue sadar gue orang nya plin plan. Dan gak pernah bisa milih. Tapi, hari ini gue harus milih siapa. Siapa yang benar? Apa papah beneran sayang tulus ke gue?
Batin Nando, menatap Thifa dan Stiven bergantian. Tatapan mata Nando juga terarah ke Raisa. Entah tatapan jenis apa itu. Mungkin maksud Raisa adalah berharap bahwa Nando ada di pihak mereka.
__ADS_1
" Nando bakal ada di pihak papah. Tapi, Nando mau papah lepasin Thfia dan Raisa. " tawar Nando, menatap penuh harap ke arah retina papahnya.
"Lepasin mereka gitu aja? Nando, papah masih waras. Papah udah susah payah menangkap mereka. Tak kan mungkin papah lepaskan begitu saja. Mereka berharga dan sangat berperan dalam proses
Pembalasan dendam papah!! " kekeuh Stiven. Entah memang ambisi semata, atau ada maksud lain? Kenapa Stiven bersikeras untuk menahan Thifa dan Raisa.
Nando... Sadar! Elo cuma di manfaatin sama manusia itu!!
Batin Thifa, ia hanya mampu membatin. Situasinya tak mungkin kan untuk Thifa berteriak.
Fix, dia bukan manusia. Di hewan yang harus dimusnahkan kalo kata papah Rei mah.
Pikir Raisa. Agak bertolak belakang dengan Thifa, kah?
"Kau harus sadar Nando. Raisa dan Thifa harus tiada! Agar keluarga Arkasa dan Wijaya merasakan penderitaan nya!!" geram Stiven. Kenapa putra angkatnya itu tak mengerti apapun?!
"Raisa anak ku tak kan bisa di sentuh sembarangan, apalagi dia putri kecil ku. Yang mengganggunya bersiaplah kehilangan nyawa " celetuk pria itu, yang turun dengan gaya dari tangga helikopter itu.
Raisa mengenali suara dingin dan berat tak lupa, dengan nada angkuh dan songong nya yang khas.
"Papah Rei?!! "
***
__ADS_1
Vote vote vote 😶😶