
***
Dari pagi hingga siang ini Thifa masih ngambek loh dengan Arfen. Siapa yang tidak ngambek oke. Jadi, apa yang Thifa lakukan itu wajar.
Thifa sengaja tetap di kelasnya, tidak ke kantin. Karna tidak ingin melihat Arfen.
"Oi, Lo kenapa? Gak ke kantin? Gak laper? " tanya Anggi menatap aneh sahabatnya itu.
"Enggak deh, kalian aja. Males gue kantin. Gue nitip aja. " sahut Thifa lesu, menempelkan salah satu pipinya ke meja.
"Kenapa lagi sih? " Sambung Melia ikut heran.
Yah, memang Thifa sengaja tidak memberi tahu Anggi ataupun Melia. Kalo yang dua ini ngambek, lebih parah dari Thifa.
"Gue males liat Arfen. Lagi ngambek gue. Ogah liat dia! "
"Ngambek kenapa lagi sih? Jangan ngambekkan mulu dong. Entar dianya pergi loh " ledek Anggi menahan tawanya.
"Biarin aja dia pergi, Bodoamat! "
"Mulut mah bodoamat, di hati juga cenat cenut!! " Tambah Melia yang tak tahan untuk tak mengganggu Si gadis patuh aturan itu.
"Mending kalian ke kantin deh, atau gak, gue timpuk sekarang juga! "
Dengan secepat kilat, kedua orang itu langsung pergi meninggalkan Thifa sendirian di kelas.
Gadis manis itu hanya bisa menghela napas kasar. Matanya terpejam, membayangkan sosok seperti apa sih yang membuat Arfen betah ada di warung itu.
__ADS_1
Apakah sosok manis, imut, atau yang lainnya? Dasar Arfen!! Liat aja nanti!!
Seperti nya Thifa sudah mulai possesif. Wajar sih, orang cowonya ganteng kaya Arfen. Yah jadi, apapan yang terjadi gak boleh lepas. Kumpulan pelakor harus di hempas.
Thifa menghembuskan napas kasar lagi. Ini semua demi menenangkan hatinya yang panas.
Apa gue cari tau aja yah? Jenis cewek apa yang ada di warung itu? Siapa sih!! Kok bisa - bisanya Arfen kecantol gitu!!! Apa dia?!! Arhh!! Arfen sialan!!
Gerutu Thifa di dalam hatinya.
"Sayang~ Kenapa gak ke kantin? Tadi gue nyariin lo loh di kantin. " suara itu, suara yang paling Thifa kenal. Suara orang yang sedari tadi ada dalam pikiran nya.
Thifa mengenal suara itu, dan memilih mengabaikan nya. Ingat, siapa yang sebelumnya ngambek. Ngambek yah ngambek, dan itu harus di pertahanin. Jangan mudah luluh, oke.
"Gue minta maaf. Iyah gue tau gue salah. Tapi, sumpah Thif, gue gak ada tertarik sedikitpun sama anak tukang warung itu. Gue cuma suka Mie ayam baksonya, enak~" Kata Arfen yang entah jujur atau rayuan semata.
"Gue ngantuk, mau tidur. Lo pergi deh. " lirih Thifa membalikkan wajahnya, membelakangi Arfen.
"Lo marah sama gue? "
Tak ada jawaban dari Thifa.
"Lo beneran tidur Thif? Yah udah gue juga~"
Seperti yang Arfen ucapkan, dia menutup mata dan berusaha murni untuk tidur.
-
__ADS_1
-
-
Lima belas menit berlalu, dan keduanya memang murni sedang tidur, baik Thifa maupun Arfen. Tidur di lantai yang sama biasa. Tidur semeja bersama? Hanya murid legend yang pernah.
"Oh pantas dua - duanya gak nyusulin ke kantin. Ternyata oh ternyata sedang bertemu di alam mimpi ~ " Celetuk Regata pelan.
Kejadian sebelum nya adalah, Dua pasang insan ini, dan seorang jomblo, yah maksud nya Riyan, tengah asyik makan di kantin. Namun, ada yang mengganjal di hati mereka. Kenapa Arfen dan Thifa tidak muncul?
Hal itu mengundang mereka berlima untuk menjemput dua orang ini di kelasnya. Dan benar saja, Thifa dan Arfen ada di kelas dengan keadaan tidur yang kelihatan cukup nyenyak.
"Ntar kalo udah bel, bangunin gue yah? " Kata Riyan santai, duduk di salah satu kursi dan ikut tidur dengan posisi yang sama.
"Enaknya dua insan ini di apain yah? " Gumam Fandri berjalan mendekat ke arah Arfen.
"Coret aja tuh mukanya pake spidol, terus bangunin deh. Dan dia bakal keliling sekolah dengan muka penuh coretan spidolnya. Ilang deh harga diri orang ganteng nya. "sahut Melia enteng, seakan itu hal biasa.
Tapi, melihat kesongongan Arfen. Terkadang bocah ini juga perlu di kasih pelajaran.
"Jangan gitu lah~ kasian loh. Dianya masih tidur. " Suara Lirih Thifa terdengar. Ternyata sedari tadi Thifa hanya berpura - pura tidur.
"Loh, lo udah gak marah sana Arfen? Kalian udah baikan? " tanya Hasan, tak bahagia kalo ketinggalan informasi sedikit pun.
"Masih ngambek sih. Tapi kan, dia juga cowok gue. Jangan gitu lah. Gini - gini, gue sayang sama dia. " kata Thifa menatap lekat wajah Arfen.
"Iyah gue tau, Gue juga sayang banget kok ke elo. " Sambar seseorang. Asal suaranya dari manusia yang barusan ingin di coret mukanya, artinya dia pura - pura tidur.
__ADS_1
***