My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
Episode 76


__ADS_3

***


"Riyan? Menurut lo,  aneh gak kalau gue suka sama Nando? " tanya Raisa pada Riyan, yang hanya tinggal mereka berdua di ruangan itu. Tanpa ada siapapun lagi.


Deg.


Krekkk


Bukan tulang, tapi ada hati yang retak. Retak? Akh mungkin itu sudah terpecah menjadi banyak nya serpihan yang tak mungkin menyatu lagi.


Pertanyaan yang Raisa lontarkan itu. Sukses sangat sukses memberik pukulan hebat pada Riyan. Riyan diam mematung, beku tak bergeming. Badan nya bahkan tak kuasa untuk bergetar menahan amarah.


Amarah? Apa Riyan berhak marah? Ia bukan siapa - siapa nya Raisa. Riyan enggak berhak marah. Tapi, sakit? Tak kan pernah ada yang mengerti perasaaan Riyan kali ini.


Hancur! Harapan gue hancur! Raisa udah suka ke Nando! Gue tertambat!


Batin Riyan, ingin sekali ia menangis karna ucapan perempuan yang di cintai nya sejak awal masuk SMA ini. Namun, melihat ekspresi Tersipu Raisa, Riyan mengurungkan niatnya.


Untuk pertama kalinya, Raisa si gadis dingin mengeluarkan ekspresi tersipu dengan kedua pipinya memerah.

__ADS_1


Eskpresi bahagia Raisa menambah kesakitan Riyan berkali - kali lipat. Jangan kan marah. Untuk berkata - kata saja Riyan tak kuasa lagi. Dadanya begitu sesak, ini bagai banyak jutaan jarum yang menusuk hatinya secara bersamaan. Hati? Hati yang mana? Itu bahkan sudah berubah menjadi percikan.


Awan putih, langit biru cerah. Seakan mengejek Riyan kali ini. Untuk pertama kalinya. Dia, Riyan Adijaya merasakan perih nya sakit hati. Tragisnya cinta tak terbalas.


"Gue gak tau Yan. Entah sejak kapan, gue mulai tertarik sama Nando. Bahkan saat pertama kali dia datang ke sekolah kita. Gue suka ngisengin dia. Ngerasa bahagia liat ekspresi datarnya berubah jadi Ekspresi kesal. " Riyan kehabisan kata - kata. Namun ia masih menatap biasa ke arah Raisa. Memanggut - manggutkan kepalanya. Seakan mengerti akan situasinya.


Melihat respon Riyan. Raisa memutuskan untuk melanjutkan ceritanya.


"Gue gak tau, gue ngerasa senang wakti dia ada di dekat gue. Dia mau anterin gue pulang. Dia mau nemenin gue ke kantor guru. Dia mau nemenin gue ke kantin. Dia juga sering belajar bareng gue. Gue menghabiskan banyak waktu bareng sama Nando. Gue nyaman sama Nando Yan. " Lanjut Raisa antusias.


"Oh? Jadi soal permasalahan bokap lo sama bokap dia gimana Sa? " tanya Riyan. Ia mengumpulkan keberanian nya. Menguatkan tenggorokan nya untuk bicara sewajar mungkin.


"Itu dia masalahnya. Gue pikir gue sama dia gak akan bisa bersama karna yah, itu-. Bokap kita musuhan. Gue pikir dia juga kayak bokapnya. Nyatanya enggak Yan. Dia bahkan mau bantuin gue sama Thifa kabur. Sejak itu, gue yakin. Nando orang yang baik. Menurut elo gimana? "


"Yah, tapi gue takut juga. Bokap gue gak restu. Lo tau kan, se sarkas apa bokap gue itu. "


"Yah kalo emang Nandonya serius sama elo. Yah dia harus berjuang dapetin restu bokap lo lah. Kalo Cintanya besar, yah dia bakal berusaha sekuat mungkin buat dapet restunya om Rei. "


"Makasih yah Yan. Karna cerita ke elo. Ada beban gue yang berkurang. " Raisa tersenyum manis ke arah Riyan. Awalnya Riyan mengutuk dirinya sendiri karna segala ucapan nya. Melihat senyuman Raisa yang begitu manis, Riyan tak menyesalinya sedikit pun. Dia malah bahagia, bisa melihat senyuman Raisa semanis ini.

__ADS_1


Makasih Yan. Karna beban hati gue sebelum nya itu elo. Gue selalu ngerasa selama ini lo suka ke gue. Nyatanya enggak. Gue lega. Lo nanggepin pertanyaan ini dengan santai. Gue bahagia lo gak suka gue yan. Karna, yah yang memang gue suka itu Nando. Jadinya, elo gak harus patah hati.


Batin Raisa. Selama ini, gadis manis ini selalu curiga bahwa Riyan menyukainya. Tapi, Faktanya?


Gue bahagia, kalo lo bahagia Sa... Haha


Batin Riyan, ia mencoba mengatur detak jantungnya, yang sempat tak beraturan.


***


"Yank, mau singgah KUA enggak? " tanya Arfen enteng. Kayak nya Arfen beneran kebelet Nikah deh. Pembicaraan nya selalu aja tentang KUA.


"Singgah di Rumah Sakit Jiwa depan aja deh Fen. Duit gue masih cukup kok buat biayaain elo. " Sahut Thifa tak kalah enteng.


Arfen terkekeh lepas. Ia selalu bahagia melihat ekspresi yang selalu berubah - ubah di wajah manis, calon istrinya ini.


"Oh yah Fen. Gue mau nanya nih. Lo kan sepupunya Raisa. Si Raisa sama Nando cocok gak? " tanya Thifa.


Arfen sepupunya Raisa. Kalo Nando dapat dukungan Arfen. Mungkin aja Nando beneran bisa dapetin Raisa. Mereka cocok soalnya.

__ADS_1


Batin Thifa,


***


__ADS_2