My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
Episode 20


__ADS_3

***


itu, yang dari tadi komen minta lanjut, sini sini. kita merapat lagi.


kalo. komenan nya seru dan menarik lagi. ada kemungkinan Author bakal up lagi loh yah^^


***


Thifa berjalan menyusuri koridor,  ia ingin mencari,  dimana Bu Vina. Sebagai murid yang patuh akan aturan dan nasihat guru, Thifa selalu saja di mintai tolong.


Mata Thifa membulat tak percaya,  melihat Arfen menjelaskan Materi Matematika di depan,  Kata yang di lafalkan tidak salah,  tak ada kecanggungan.


Pantas saja,  para Guru meski pun kesal,  namun tak pernah memarahi Arfen. Arfen cukup pintar.


Batin Thifa,  yang melihat Arfen dari kaca jendela kelas nya. Thifa segera menundukkan kepala nya,  saat ia yakin jelas. Bahwa Arfen juga menatap nya. Thifa segera pergi.


"Pak,  Saya permisi dong. Bentaran aja,  entar saya janji deh jawab soal No empat dan lima" rengek Arfen,  mengulum senyuman semanis mungkin.


"Mau kemana kamu?  Mau nyuri Zat Kimia lagi? " sinis Pak Ghani,  menatap buku nya tanpa menoleh pada anak didik nya ini.


"Dih,  saya tuh gak nyuri pak. Itu namanya saya belajar Kimia,  Belajar itu lebih gampang kalo di praktekin langsung."


"Halah,  kamu mah ngeles aja tau nya."


"wialah pak,  Bapak bebas deh nuduhin saya. Tapi, kali ini aja Pak. Izinin saya keluar yah"

__ADS_1


"Mau kemana kamu? "


"Mau nemun calon mantu nya papah saya pak. Izinin lah pak. Saya janji bakal siapin soal 5,6,7 sama 8 deh. Janji saya"


Pak Ghani mencoba memasang wajah sedatar mungkin,  padahal bibirnya sudah hampir ingin terbuka lebar untuk tertawa. Pasal nya,  Anak dari Nathan ini benar -benar tidak ada aksi habis nya.


"Cepetan balik. Waktu kamu gak lama"


"Wess,  makaseh bapak Gue yang tercinta. Duh,  Andai Wali kelas saya orang nya kayak bapak dari Sd. Okeh,  saya izin yah pak. Mau oleh - oleh apa pak? Assalamualaikum "


"wa'alaikumussalam oleh - oleh nya,  kalo kamu sudah waras,  saya sudah sangat senang. "


"Tapi sayang nya saya sulit waras pak,  faktor orang ganteng. Mau gimanapun tetep laku " Arfen dengan cepat berlari keluar kelas nya,  meninggal kan pak Ghani yang berusaha menahan tawa nya.


Anak sama Bapak Gini amat?! Tapi,  yah seenggak nya, lumayan. Itung - itung kenangan jadi Guru, punya murid kayak mereka.


Sudah bertahun - tahun lamanya,  pak Ghani terlihat kesepian. Tak pernah ada lagi murid seperti Nathan di sekolah Merah Putih. Sampai akhirnya,  Arfen datang. Arfen yang potensi kegilaan nya cukup untuk mengimbangi Nathan. Adanya Arfen dan teman - teman nya,  Pak Ghani merasa lebih baik.


***


Arfen mengejar Thifa bukan tanpa alasan. Itu semua karna centang dua biru yang selalu Arfen tunggu,  yang tak kunjung mendapatkan sebuah pesan baru.


Arfen menepuk jidat nya pelan,  saat ia menyadari. Mengapa baru menanyakan nya sekarang. Dari tadi pagi sepanjang jalan di mobil. Kenapa Arfen tidak menanyakan nya saja.


Kata orang karna cinta orang jadi bodoh. Kata Gue karna cinta,  Gue jadi pelupa. Iyah,  lupa sama seluruh kehidupan gue. Dan hanya fokus di Thifa.

__ADS_1


Batin nya,  Arfen mempercepat larinya,  saat mata berkharisma nya menangkap sosok mungil yang selalu ada di pikiran nya.


"Euy,  Cewek Pendek,  ta--" seruan Arfen terhenti,  saat ia melihat Thifa sedang berbicara dengan Raisa,  yang sudah masuk sekolah.


Arfen memundurkam langkah nya,  ia mengurung niat nya. Lebih baik memberikam waktu pada Raisa dan Thifa. Bagaimana pun,  mereka nantinya akan menjadi Saudara sepupu?


Emang gitu,  Saudara itu harus akur. Kan kalo akur gini, gue seneng liat nya.


Batin Arfen, berjalan kembali ke kelas nya. Senyuman terlukis jelas di sana.


***


"Thifa,  Arfen tuh cinta banget sama elo. Di Rumah Sakit,  dia selalu cerita tentang elo yang luar biasa ke Tante Sheryl " Ujar Raisa,  memulai pembicaraan nya. Setelah Raisa meminta Thifa untuk duduk dengan nya.


Thifa terkesiap, ia bahagia. Jika tidak ada Raisa di sini, mungkin Thifa sudah berteriak heboh. Arfen begitu serius pada Thifa,  bahkan sampai menceritakan soal Thifa pada Sheryl.


"Dia sayang banget ke elo. Dan gue harap lo cinta dan sayang ke dia. Gue denger lo pernah suka sama cowok lain. Gue saranin elo jauhin dia,  dan tetap sama Arfen. Soalnya,  Arfen udah terlalu sayang ke elo" lanjut Raisa,  bukan Raisa kejam. Hanya saja,  Raisa ingin melihat sepupu tengil nya selalu bahagia.


Thifa terkesiap seketika,  Ucapan Forntal Raisa sukses besar membuat Thifa membatu.


"Lo cinta kan Thif,  sama Arfen? Lo sayang kan sama dia? " tanya Raisa lagi.


Thifa diam,  jantung nya berdegub begitu kencang. Ia sendiri juga tidak tau,  apa maksud nya itu. Yang jelas Thifa sadari bahwa tenggorokan nya sesak. Badan nya kaku,  ia tak mampu bersuara lagi. Terlalu rumit pertanyaan yang Raisa berikan.


***

__ADS_1


Next?


Lanjuuttt??


__ADS_2