My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
Episode Tambahan #1


__ADS_3

***


Assalamualaikum Guys!


Jadi Author bakal buat Dua Ekstra Part yah!


Dan dua duanya tentang Riyan dan Vania. Juga Nando dan Raisa.


Bagi kalian penggemar nya Riyan. Selamat! Karna Aku lagi buatin Novel buat Riyan. Karna emang ini niatan aku dari awal, buat Novel tentang Riyan. Makanya Riyan aku buat jomblo. W


Wkwk.


Dan Untuk info S2 entar ada Bab pengumuman yah. Tunggu aja. Aku gak bisa pastiin S2 nya ada di Novel ini, atau Novel baru. Entar aku infoin. Makanya masuk ke Grub yah^^


***


"Assalamualaikum Om!" Sapa bocah manis itu,  membuka pintu kamar Riyan.


Riyan hanya bisa mendengus kasar. Ini sudah hampir tiga hari berturut - turut gadis kecil itu datang mengunjunginya.


"Om? Ini ada buah dari Kakek aku. Katanya di bagiin ke tetangga ruangan. Baik kan Aku om. Mau berbagi sama om? Apalagi om ini galak. " Lanjut gadis itu,  tanpa permisi atau apapun ia meletakaan Parsel berisi buah di meja.


Berjalan semangat ke arah Riyan yang sudah duduk bersandar.


"Om,-"


"Jangan panggil gue om! "


"Om! Om~ om!! "


Semakin di larang oleh Riyan. Semakin keras pula Vania memanggil Riyan om.


"serah lo deh. Udah antar kan? Pulang gih. Eneg gue liat lo. "


"Tapi Aku mau liat Om. Soalnya om ganteng,  nambah semangat jalani hidup. " Sahut Vania santai,  menampilkan cengiran manisnya.

__ADS_1


"Tapi lo jelek. Gue males liat lo! " Ketus Riyan.


"Yah udah deh. Aku pergi. Dah om Kasar! Jelek! Galak! "


Vania berbalik,  sebenar nya bukan karna dia tersinggung oleh ucapan Riyan. Hanya saja,  kedua orang tuanya masih di rawat di sana. Ia khawatir, apalagi katanya Keadaannya semakin buruk.


Dih! Bocah ini pergi beneran? Enggak kayak biasanya. Biasa mah diomelin kayak apapun tetep di samping gue nyerocos gak jelas.


Batin Riyan. Ada rasa tak ikhlas di hatinya, apalagi karna kehadiran Vian lah dia tidak merasa sepi, dan bisa sedikit melupakan masalah Raisa.


"Euy! Cewek rempong! Sini deh Gue bilangin! " panggil Riyan, ia sudah kalah akan egonya. Hatinya tak rela Vania pergi.


"Ogah! Bilangin enggak! Ngatain iyah! Malas di sini! Tiap hari om bilangin Vania jelek! Jelek! Dan jelek!! Hunph! " Vania membanting kasar pintunya.


Deg.


Riyan semakin merasa kehilangan, entah lah. Hanya seminggu sejak ia mengenal Vania. Tapi, dia sudah merasa akrab dengan celotehan gadis itu.


Riyan melepas selang infusnya, berjalan ke arah pintu. Tak sengaja kakinya mengijak benda.


Riyan kembali ke kasurnya. Dirinya sadar dia salah. Untuk itu dia akan meminta maaf pada Vania nanti.


***


"Sa? Balik bareng gue yah? " Tawar Nando, Raisa tampak berpikir.


"Kelamaan deh Sa! Udah ikut gue!" Nando langsung menarik tangan Raisa. Raisa hanya mengikuti arah langkah kaki Nando yang jenjang.


"Mau kemana sih Nan? " Tanya Raisa yang sudah duduk di kursi mobil Nando.


"Gue mau ke Rumah lo. Mau minta restu bokap lo. Gue gak mau kita jalin hubungan kucing - kucingan." Terang Nando.


Raisa melotot tak percaya. Nando berani datang ke Rumah keluarga Wijaya? Minta restunya Rei? Apa Nando kehilangan akal sehatnya.


"Gak! Gue gak setuju! Lagian sejak kapan kita punya hubungan! " kilah Raisa. Dia hanya was was jika Nando datang, kemungkinan besar nyawanya itu melayang.

__ADS_1


"Kita. Hubungan Tunangan biar resmi. Makanya gue mau minta restu bokap lo. Sekarang kita ke sana. "


"Gue gak setuju Nan! "


"Gue mau! Apa lo mau hubungan kita gak di restui! "


"Siapa yang mau berhubungan sama lo?! "


"Yah elo lah. Raisa Ardinanta. Udah lah Sa"


***


"Nan? Lo yakin mau ngomong sama bokap gue? Gue gak yakin nyawa lo selamat. " Celetuk Raisa ceplos. Yah, itu karna Raisa tau jelas seperti apa papahnya.


"Gue yakin Thif. Udah lah, Gak akan melayang. Nyokap lo kan baik. Jadi, hari ini mau ambil hati nyokap lo dulu. Baru bokap lo. "


Mereka berdua tengah asyik mengobrol di depan pintu. Asyik? Ralat deh, kayaknya mereka lagi debat.


"oh iyah yah. Lo nyari muka aja di depan nyokap gue. Soalnya bokap gue tuh orang nya patuh kalu uda urusan nya sama mamah. Apapun keinginan mamah, papah pasti turutin. Bucin nya papah akut, walaupun udah tua. " Saran Raisa. Kali ini seperti nya ia menemukan jalan keluarnya.


"Nah kan, akhirnya lo ngaku. Kalo lo emang mau jalanin hubungan sama gue. Lo dukung kan. "


"Bodoamat!! " Raisa mendengus kasar. Ia langsung berjalan masuk ke Rumahnya.


Nando tersenyum menang. Ia mengikuti langkah Raisa masuk ke rumah mewah nan megah milik keluarga Wijaya itu.


"Mau manfaatin mamah buat dapet restu papah? Kamu pikir bisa bodohin papah. Kamu cuma bocah kemarin sore. Jangan sok mau ngibulin papah. Kamu belum sanggup nak. " Suara berat khas milik Rei terdengar dari arah belakang mereka.


Entah kenapa, seketika Nuansa mencekam hadir menerpa punggung kedua remaja ini. Sontak, mereka membalikkan badan nya.


Empat bola mata terbelalak kaget. Ternyata sudah ada Reihan Wijaya yang tengah memergoki mereka menyusun rencana itu.


"Papah udah dengar obrolan kalian di pintu depan tadi. Bagus juga, cuma terlalu Naif. Kamu pikir papah akan kasih restu gitu aja sama bocah ini. " lanjut Rei Sarkas.


***

__ADS_1


__ADS_2