My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Pengumuman Karya Baru


__ADS_3

Judul : Tak Ingin Berpisah


Sinopsis :


Sebuah rahasia mengerikan terus menghantui Zefanya hingga dia meminta cerai dari suaminya.


Mendengar Zefanya berkata kalau dia sudah tak mencintai Ezra, laki - laki itu justru berjanji akan membuktikan kalau mereka masih dan akan terus saling mencintai. Sepasang bayi kembar membuktikan bahwa cinta mereka itu nyata.


Dilema itu semakin sulit dipecahkan. Apakah mereka akan mempertahankan pernikahan yang melanggar adat dan aturan agama? Atau bertahan demi cinta dan buah hati mereka?



Cuplikan Bab 1


VROOOOM...


Suara mobil menderu masuk ke dalam gereja tempat dimana Ezra dan Zefanya melakukan pemberkatan nikah. Zevanya panik, dia mencari Ezra tapi pria itu sudah tak ada disampingnya. Kemana dia? Mobil itu mendekat ke arah mereka. Tidak! Mobil itu menuju bukan ke arah mereka tapi datang ke arah Zefanya.


Gerakan mobil itu seperti film yang diputar slow motion. Zefanya ketakutan dan ingin menyelamatkan diri, tapi seluruh tubuhnya kaku, tak bisa bergerak. Sekuat apa pun Zefanya berusaha, seakan ada benda berat menindihnya. Dia tak bisa kemana - mana. Padahal mobil itu terus mendekat, rasa takut menyergapnya.


"EZRA!" teriaknya panik, berharap suaminya datang dan menyelamatkan dirinya. Keringat dingin menetes dari dari Zefanya saat menyadari yang keluar dari mulutnya lebih mirip dengan sebuah cicitan. Bagaimana mungkin Ezra bisa mendengarnya. Mata Zefanya mulai bergerak liar, mencari - cari sosok Ezra. Tidak biasanya Ezra meninggalkan dirinya seorang diri.


TIIIN!!!


CKIIIIITTT!!!


Suara klakson mobil menyakitkan telinga dan bunyi decitan ban mobil bergesekan dengan lantai yang keras memekakkan telinga. Mobil itu berhenti hanya tepat di depan hidung Zefanya, tubuhnya tak berjarak dengan mobil kurang ajar itu. Zefanya heran, bagaimana mungkin tak seorang pun protes terhadap pengemudinya. Ini gereja! Dan bukan jalan raya.


"Kamu tidak bisa bersama Ezra lagi, Zie." suara berat seorang laki - laki bergema di gereja. Zefanya gelagapan dan melihat ke sekelilingnya, seketika dia menyadari kalau dirinya ternyata tidak ada di gereja. Tempat ini terasa asing bagi Zefanya dan tak ada siapa pun di sekitarnya. Tak ada karangan bunga dan tamu undangan yang akan menyaksikan pernikahannya dengan Ezra. Dan dimana mereka semua? Aunty Emma dan Gabriella pun tak ada. Dan yang menyedihkan adalah Ezra juga tak ada.


Mendadak Zefanya lelah sekali. Mata dan tubuhnya terasa lemas dan tak bertenaga. Dia jatuh terduduk di sebuah ruangan luas dan asing mulai memejamkan mata dan memeluk dirinya sendiri.

__ADS_1


SLAP!


Sosok mengerikan itu muncul lagi, berdiri di antara mereka berdua. "Kalian tak bisa bersatu." suara itu bergaung, membuat gentar hati Zefanya. Wanita muda itu diam di tempatnya, melihat bagaimana sosok mengerikan itu menutup tubuh laki - laki tercintanya dengan tubuhnya yang jauh lebih besar dari Ezra. Dan tiba - tiba saja sosok itu menghilang bersama Ezra-nya.


Zefanya kembali sendiri, tersungkur dan kehabisan tenaga. Berusaha menguatkan hati tapi tubuhnya lemas tak berdaya. Tak ada kuasa. Dia kalah. Menyadari Ezra tak bisa lagi menjadi miliknya, bahu Zefanya bergetar dan mulai menangisi nasibnya. Di lubuk hatinya yang terdalam, dia berharap ini semua hanyalah sebuah mimpi buruk. Dan akan segera berakhir.


"Ezra, ini hanya mimpi kan? Saat aku bangun nanti, aku masih boleh bersamamu kan?" lirih Zefanya pilu. Air mata meleleh di pipinya. Zeus, kekasih, suami, cinta dalam hidup Zefanya. Satu - satunya orang yang selalu ada dalam rencana masa depannya, kini mereka tak bisa lagi saling mencintai. Tidak boleh!


Saat kesadarannya pulih, Zefanya menyadari kalau ternyata dirinya sedang berada di sebuah ruangan dengan dinding ber-wallpaper warna soft. Ada sofa dan meja untuk menerima tamu di dekat pintu masuk. Lalu sebuah pantry dengan design minimalis di sudut ruangan. Tempat ini terasa jauh lebih nyaman dari ruangan gelap yang ada di dalam mimpinya.


Perlahan - lahan napas Zefanya mulai teratur, degup jantungnya pun jauh lebih tenang. Dia menghembuskan napas lega.


"Selamat pagi, Nyonya Halley. Bagaimana kabar pasienku yang paling cantik ini?"


"Selamat pagi, Dokter Sandra. Aku baik - baik saja." Zefanya tak menoleh, dia menatap jendela kamar yang menampakkan taman diluar sana. Bunga warna warni dan hijaunya daun - daunan membuat hatinya terasa sejuk dan tenang.


Degup jantung Zefanya bergema di gendang telinganya sendiri, dia mer-em-as tangannya cemas. Menundukkan kepala sedalam mungkin supaya tak bertemu mata pandang dengan Ezra. Telinganya mendengar suara langkah mendekat.


'Please, menjauhlah dariku. Kita tak bisa lagi saling mencintai.'


Ugh! Jantung Zefanya terasa seperti direm.as - rem.as begitu mendengar suara yang dari orang yang begitu dirindukannya.


"Jangan sentuh aku."


"Jangan sentuh aku."


"Menjauhlah dariku, Ez."


Zefanya menutup mulutnya rapat - rapat, berulang kali mengerjapkan mata. Susah payah menahan emosi yang memaksa keluar dalam bentuk tetesan air mata yang kini sudah berkumpul di pelupuk matanya. Seandainya saja dia bisa berubah menjadi kasat mata saat ini.


'Jangan menangis. Jangan menangis. Ini demi kebaikan semuanya, terutama Ezra. Dia tak ingin mereka semakin dalam terperosok dalam kubangan dosa.'

__ADS_1


Sementara itu, Ezra menatapnya dengan emosi yang membuncah. Sorot matanya penuh harap. Berbulan - bulan istrinya tak sadarkan diri, sementara dia hanya bisa menunggu dan berdoa menanti keajaiban. Menunggu saat dimana belahan jiwanya bangun dan kembali menyebut namanya. Hatinya hancur saat Zefanya tak mengenal dirinya di hari pertama dia terbangun dari koma.


Dan hari ini, Dokter Sandra memberitahunya kalau Zefanya sudah bisa menyebut nama - nama orang yang ada di foto, termasuk dirinya.


Sayangnya, reaksi yang didapat tak sesuai harapannya. Ezra memandang dalam - dalam wanita yang selalu berhasil membuat hatinya jatuh cinta setiap kali mereka bertemu. Kedatangannya pagi ini ingin melihat sendiri bahwa istrinya, dalam kondisi yang jauh lebih baik. Terlebih lagi, dia ingin memastikan bahwa Zefanya benar - benar sudah mengingat dirinya, Ezra Halley.


Menyadari wanitanya gemetaran, Ezra semakin mendekat. "Kamu tidak apa - apa?" tangannya mengelus lembut kepala Zefanya.


Nada khawatir dan sentuhan lembut Ezra membuat Zefanya serba salah. Dia mengepalkan tangannya. "Bo-bolehkah sa-ya minta obat?" tanyanya panik.


"Obat?" Ezra mengerutkan kening, matanya melihat botol kecil di atas meja kayu sebelah tempat tidur Zefanya. "Ini?" Ezra mengangkat botol dan menunjukkannya pada Zefanya.


Zefanya menyambarnya dengan cepat, membuka tutupnya dengan terburu - buru. Bersiap untuk menuang butiran obat yang di dalamnya. Namun tangan Dokter Sandra menahan Zefanya meminum obat itu.


"Obat tidak selalu bisa mengatasi masalahmu. Cobalah meredam emosimu." kata Dokter Sandra lembut.


Kemudian dokter paruh baya itu langsung memberi instruksi pada Zefanya untuk mengatur napasnya saat serangan panik menyerang. Zefanya berusaha mengikuti instruksi dan berhasil, perlahan tremornya hilang. Kemudian wanita cantik itu menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur dan memejamkan mata. Berharap Ezra kasihan dan membiarkannya beristirahat.


"Apa yang terjadi pada istri saya, Dok?" Tanya Ezra bingung.


"Tidak apa. Itu reaksi normal. Dia sedang beradaptasi. Ingatan lama dan baru saling tumpang tindih. Jangan khawatir, Tuan. Kami akan membantunya untuk memulihkan kembali kondisi fisik dan mentalnya." ujar Dokter Sandra, berusaha menenangkan Ezra.


Dokter itu terharu setiap mengingat betapa besar cinta Ezra pada Zefanya. Tidak hanya dirinya tapi seisi rumah sakit tahu bagaimana seorang CEO tampan, terkenal dan super sibuk itu memilih menghabiskan harinya di rumah sakit. Tidak tidur berhari - hari menemani istri tercintanya yang sedang koma.


Dokter Sandra bertanya beberapa hal pada Zefanya dan menambahkan catatan di jurnal kesehatan milik pasien istimewanya itu. Zefanya menjawab pertanyaan - pertanyaan itu dengan lebih tenang dan jelas. Dokter mengangguk puas. "Kalau kondisimu terus begini, kamu bisa segera berjalan - jalan di taman dan pulang ke rumah, Nyonya."


Sesaat Zefanya tertegun, lalu dia menggeleng. "Aku tidak mau pulang." lirihnya.


Kata - kata Zefanya membuat Ezra sesak napas. Moment Zefanya kembali ke rumah yang sangat ditunggunya, ternyata istrinya justru tidak ingin kembali ke rumah. Menepis segala sakit di hatinya, Ezra memaksakan diri untuk berbicara tanpa emosi. "Kenapa, Ma moitie? Apa masih ada yang sakit dan tidak nyaman?" Kali ini laki - laki itu duduk di atas tempat tidur di sebelah Zefanya.


Tanpa sadar, Zefanya berjingkat dan menggeser posisinya. Wangi aja ubuh Ezra menyeruak masuk ke dalam indera penciuman Zefanya, membuatnya harus menahan diri untuk tidak memeluk suami tercintanya.

__ADS_1


"Ma moitie, aku menunggumu.... " Ezra mengamati wajah Zefanya dengan seksama, matanya mulai berkaca - kaca saat Zefanya kembali memejamkan mata. Tidak ingin menatapnya. "Ma moitie, katakan yang sebenarnya. Apa yang membebani pikiranmu?" Sebelah tanga Ezra terulur, mengusap pipi Zefanya yang tampak sedikit cekung. Setelah koma berat badannya turun banyak.


"Kita tak bisa bersama lagi."


__ADS_2