
"Saya yakin saya sudah tak mencintainya untuk suatu alasan yang saya sendiri lupa." Toni melengos, tak mau melihat foto - foto Tiffany yang ditunjukkan kepadanya.
Pernyataan itu diungkapkan oleh Toni dengan nada tegas, tanpa ada keraguan sedikit pun. Dokter Livia, konselor yang melakukan terapi kognitif pada Toni, menulis sesuatu di catatan medisnya.
John yang berada tak jauh dari situ, ikut menyimak baik - baik untuk dilaporkan kepada Tuan Besarnya. Saat ini mereka ada di mansion milik Toni yang terletak di belakang rumah utama keluarga Peterson. Supaya lebih relax, maka konselor mengajak Toni untuk duduk di dekat danau buatan yang memisahkan mansion milik Toni dan milik Alex.
"Kenapa?"
"Sudah aku katakan berkali - kali, kalau aku tak merasakan apa pun saat melihat fotonya. Bahkan aku cenderung muak melihat wajahnya." suara Toni terdengar kesal.
Konselor sekaligus psikolog yang sudah malang melintang menangani berbagai macam kasus, tersenyum maklum. Kadang kala pasien seperti Toni memang mengalami perubahan suasana hati yang begitu cepat.
"Kenapa?"
Ada banyak pertanyaan di dalam catatan konselor itu, tapi dia memilih pertanyaan yang membutuhkan jawaban panjang sebagai stimulus di otak supaya Toni mengingat dan bisa menceritakan apa yang ada di dalam pikirannya.
"Entahlah, ada sesuatu yang membuatku tak suka padanya. Tapi aku tak tahu."
"Jadi kamu tidak ingin bertemu lagi dengannya?" Dokter Livia mencoba menarik kesimpulan dari pernyataan Toni.
"Sama sekali tidak! Kenapa anda terus menanyakan topik yang membosankan?" protes Toni kesal.
"Maaf, Tuan. Saya hanya mencoba menggali, kejadian saat sebelum Tuan mengalami amnesia."
Toni mendengus. "Kamu seorang psikolog terkenal! Seharusnya kamu pernah mendengar teori kalau seseorang bisa saja tak mengingat sesuatu yang tidak ingin diingatnya setelah sebuah kejadian buruk."
Konselor itu mengangguk dan tersenyum. Dia menambahkan sesuatu di catatannya. Pria di hadapannya ini memang amnesia tapi otaknya masih mampu menganalisa dengan baik.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu saat ini?" Tanya konselor mencoba mengalihkan pembicaraan ke hal lain, yang mungkin saja menarik minat Toni.
"Biasa saja." Toni mengangkat bahu acuh tak acuh. "Tak ada yang menarik, aku merasa seperti robot. Bekerja sesuai program dan otomatis."
John diam - diam tersenyum. Omelan khas Toni yang lama hilang, kini kembali terdengar. Jauh dari sebelum hilang ingatan, tuan mudanya memang lebih suka hidup bebas. Alih - alih meeting di dalam ruangan, dia memilih zoom sehingga bisa dilakukan dimana pun dia berada. Kalau saja tidak dipaksa oleh Tuan Peterson, maka tak mungkin tuan mudanya yang cerdas ini mau masuk ke ruang meeting.
Toni berdiri, kedua tangannya dimasukkan ke dalam kedua kantong.
"Hey, John. Yang dilakukan oleh konselor ini sama dengan yang dilakukan oleh Eliana padaku. Biarkan aku melanjutkan terapiku dengan Eliana saja!" ucapnya tak sabar.
"Mengenai hal ini, saya akan meminta ijin pada Tuan besar lebih dahulu." jawab John sopan.
Dokter Livia berdiri dan mengikuti Toni.
"Wow! Dari caramu menyebut nama, sepertinya kamu sangat menyukai wanita bernama Eliana."
Senyum Toni mengembang, dia senang karena pembicaraan kini beralih ke topik tentang Eliana.
"Dia adalah wanita yang saya cintai, Dok. Bukan Tiffany atau siapa pun."
"Kenapa seyakin itu?"
__ADS_1
Toni menoleh kearah Dokter Livia dan menatap tajam. "Siapa pun yang menggunakan logikanya pasti tahu kalau kasus ini sungguh aneh. Seseorang yang sudah mempersiapkan pernikahan dengan matang, lalu tiba - tiba menghilang."
Toni mengangkat bahunya. "Atau kabur, seperti yang kalian bilang. Bukankah harus ada alasan untuk itu? Kalau cinta, kenapa harus kabur? Lagipula, semakin sering saya melihatnya, semakin saya yakin kalau saya tidak mencintainya."
"Atas dasar apa anda begitu yakin?"
"Gut feelings."
(Firasat.)
"Jadi kamu percaya pada instingmu?"
"Insting yang membuat saya bisa menilai seseorang itu baik atau buruk. Selain otak, saya harus mengandalkan insting untuk bertahan di saat saya tak mengingat apa pun."
"Hmm... pantas Tuan Peterson menggadang - gadang kamu untuk menjadi the next CEO of Peterson Group."
"Nope!"
"Sorry?"
"Saya bukan the next CEO, Dok. Saya hanyalah orang yang dilahirkan untuk menjadi penerus Peterson Group."
Dokter Livia mengangguk dan tersenyum. Dari kata - kata Toni, tersirat sebuah penolakan untuk kembali ke masa lalu.
"Apakah session kita hari ini sudah selesai Dok? Saya harus menemui Eliana, aku mau mengajaknya kencan."
Dokter Livia dan John memberikan reaksi yang berbeda. Konselor itu tersenyum maklum, sedangkan John tercengang.
Ugh! John jadi serba salah, dia belum ijin pada Grandpa-nya Toni.
"Kamu tahu kalau Eliana tidak bekerja sekarang, hari - harinya pasti sangat membosankan. Aku ingin menemaninya hari ini. Lebih baik kamu meminjamiku mobil atau aku tak mau menurutimu lagi!" ujar Toni lagi dengan nada mengancam.
Kesibukan barunya benar - benar mengurangi intensitas pertemuannya dengan Eliana. Toni sudah rindu untuk berbincang santai dengan Eliana seperti biasa.
*
"Silahkan, Tuan. Mobil sudah siap dan makanan untuk piknik juga sudah aman diatas jok." kata John dengan sopan.
Hah?!
Toni melongo.
Sebuah mobil model jeep model kuno berwarna hitam kusam terparkir di depan mansion milik Toni.
"Apa kamu tak punya mobil yang lebih jelek dari ini, hah?"
"Maaf, Tuan. Ini sudah yang paling jelek, Tuan."
Toni berdecak kesal, lalu memakai kaca mata hitamnya dan naik ke atas mobil butut yang dipinjamkan John padanya. Lebih baik jalan kaki bersama Eliana seperti biasa dari pada naik mobil seperti ini. Benar - benar memalukan!
__ADS_1
BRRRRRMMMM.... BRRRRT... BRRRTTT....
'What?!'
Bunyinya seperti orang terbatuk - batuk! Toni melirik tajam kearah John.
"Awas kalau sampai mogok dijalan!" sergahnya kesal.
"Maaf, Tuan. Bukankah tadi Tuan bilang kalau tak mau terlihat kaya? Tuan mau kencan ala rakyat jelata." ucap John sambil meringis.
Tuan mudanya yang gagah nan tampan naik mobil yang warnanya sudah kusam dengan bunyi mesin yang lebih mirip suara traktor.
Toni menatap curiga pada John, asistennya ini mempunyai tingkat kepatuhan diatas normal. Dia hanya berpesan, ingin berpenampilan biasa sebagai Toni si barista yang tak punya apa - apa. Hasilnya? Mobil butut!
Selanjutnya Toni membuka kantong berisi makanan di jok samping tempat duduknya.
Fiuh... , donat.
Toni lega karena donat yang dibeli pun adalah donat merk terbaik di kota ini. Setidaknya masih pantas untuk diberikan pada seorang gadis. Detik berikutnya, Toni langsung melotot.
"John?!" dengus Toni, kesal luar biasa.
"Ii - iya, Tuan?"
"KENAPA ISINYA CUMA EMPAT?"
"Uhm... harganya mahal, Tuan. Kalau saya adalah Toni yang tak punya apa - apa, pasti sayang mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk membeli donat." ucap John tanpa dosa.
"CK!"
Tak ada waktu lagi, Toni harus segera pergi karena sore nanti dia harus kembali ke Rocktown dan pulang lagi ke apartment di Lakewood. Entahlah berapa kali dia harus pulang pergi dalam satu hari. Untung saja dari Rocktown ke Lakewood hanya membutuhkan satu jam perjalanan dengan mobil.
Dengan sigap Toni menyetir mobil, menembus jalanan dari Rocktown ke Lakewood diiringi suara yang memekakkan telinga.
Bersambung ya....
Note :
Terapi Kognitif : terapi yang dilakukan untuk membuat suatu individu mampu menghubungkan, menilai, dan mempertimbangkan suatu peristiwa sehingga individu itu mendapatkan pengetahuan baru setelahnya
Konseling Kognitif : konseling yang dilakukan untuk mengidentifikasi dan mereview masalah yang dituju.
__ADS_1