My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 61 -- Bad Things Happened


__ADS_3

Chandelier Club


Eliana merasa ada yang tak beres dengan tubuhnya, dia mulai merasa kepanasan. Kepalanya terasa ringan dan dia tak bisa berhenti tertawa. Hal - hal kecil yang biasa pun terlihat lucu di matanya.


Tapi yang paling menjengkelkan adalah tubuhnya terasa semakin panas. Butir - butir keringat mulai bermunculan di leher dan dahinya. Untuk meredakan rasa panas, dia minum minuman yang disodorkan oleh Frans dan kawan - kawannya.


Ouch! Tapi yang diminumnya bukan air, dan justru membuatnya semakin merasa kepanasan. Andy menyodorkan segelas minuman dingin, Eliana tak dapat melihat dengan jelas apa yang diminumnya. Terasa dingin di kulitnya, dia ingin segera meredakan panas. Seketika Eliana meminum minuman itu dalam sekali tenggak.


Lagi - lagi! Yang diminumnya bukan air, tapi bir dingin. Kepalanya terasa semakin berat, pandangannya berputar - putar. Wajah - wajah Andy dan Harry yang tertawa dihadapannya terlihat bergoyang dan double. Eliana mencoba bertahan, dia harus keluar dari tempat ini, mencari Dokter Livia atau seseorang yang dikenalnya.


Langkahnya terhuyung, rasanya dia tak akan sanggup mencapai pintu cabana. Tapi dia harus bisa. Dengan sekuat tenaga, Eliana berjalan hingga berhasil bersandar di dekat pintu cabana. Memaksakan matanya mencari Dokter Livia, meski yang tampak di dalam pandangannya hanyalah kerumunan orang yang sedang asyik bergoyang.


Seseorang menepuk bahunya dan bertanya. "Mau kemana, cantik?"


"Aku mau mencari suamiku."


"Where?"


"Dia sebentar lagi akan datang."


Suara tawa Nick dan Andy terdengar terbahak - bahak. "You can play with us while waiting, baby."


(Kamu bisa bermain dengan kami sambil menunggu, Sayang.)


Eliana mengangkat bahunya, dan tersenyum. "Aku rasa sudah waktunya aku kembali ke suami dan temanku."


"Hey, jangan pergi. Akan menyenangkan kalau kita bermain bersama. Dua atau tiga orang sekaligus."


Eliana mengerutkan alisnya dan bertanya. "Apa maksudmu?" Otaknya berkabut, dia tak bisa berpikir sama sekali. Sekelilingnya seperti blur, wajah - wajah orang dihadapannya seperti hasil foto yang bergoyang, buram. Eliana mengerjapkan mata supaya dapat melihat dengan jelas, tapi kepalanya terasa berputar.


"What's up?" Seseorang bertanya kepadanya, namun Eliana sudah tak bisa mengenali suara siapa ini. Dia merasa butuh pertolongan.


"Can you bring Dokter Livia to me?" Tanya Eliana sambil memegangi kepalanya. Dia harus meminta Dokter Livia untuk membawanya kembali ke cottage dan menyuruhnya menghubungi Toni dan mengatakan kalau dirinya pulang terlebih dahulu karena tidak enak badan dan sakit kepala.


Toni! Iya, Toni. Dimana suaminya itu saat ini? Seharusnya malam ini mereka tidak ada disini, lebih baik mereka menghabiskan waktu di cottage.


Oh, ya Tuhan. Apa kata Toni nanti kalau tahu dirinya mengobrol dengan banyak pria di dalam sebuah tempat tertutup? Eliana berusaha melangkah keluar tapi kakinya lemas. Bagaimana ini? Tubuhnya yang bersandar di dinding cabana serasa ingin terus merosot ke bawah.


"Hey, tunggulah suamimu disini!"


Sekarang ada seseorang yang menarik tangannya dengan kuat.


"Ehm... kepalaku pusing. Aku butuh udara segar." keluh Eliana. Dia ingin mengibaskan tangan yang mencengkeram lengannya tapi dia tak sanggup.


"Oh, tidak apa - apa, Sayang. Memang seperti itu efeknya." Seseorang merangkul bahunya dan membimbingnya entah kemana. Semua bergerak dan berkabut. Eliana tak tahu dia ada dimana sekarang.


'Efek?'


Apa maksudnya? Eliana tak mengerti apa yang mereka katakan dan apa yang sedang terjadi. Yang dia rasakan adalah tubuhnya terhempas ke sebuah sofa. Dan ada dua laki - laki duduk, masing - masing di sebelah kanan dan kirinya.


Eliana merasakan panas kian merambati tubuhnya, dia mengusap peluhnya. "Ehm, aku harus keluar. Disini terlalu pengap."


"Come on. Disini saja, kami bisa membantumu menghilangkan rasa panas itu."


Ha? Apa maksudnya?


Eliana merasakan hembusan udara menerpa wajahnya, terasa panas dan bau alkohol. Seseorang menghembuskan napas kepadanya, Eliana merasa mual dan ingin muntah.


Dia mendorong siapa pun itu yang mendekat kepadanya. "Go away!"


Tapi bukannya menyingkir, Eliana justru merasa ada semakin banyak orang yang ada di dekatnya. Mereka mengerumuninya. Apa - apaan ini?

__ADS_1


"Hey, apa dia sudah siap untuk kita?"


Hah? Siap untuk apa?


Perasaan tak enak mulai menyelusup, tapi dirinya justru merasa semakin tak berdaya. Pandangannya semakin kabur dan kelopak matanya terasa semakin berat


Duh! Eliana sekarang tahu kalau dirinya sedang mabuk. Ya Tuhan! Dia tak boleh mabuk apalagi tidur di tempat ini.


"Toni.... " lirih Eliana tanpa sadar memanggil nama Toni.


"Siapa Toni?"


"Toni... " ulang Eliana lagi. Ya ampun! Ada apa ini? Kalau mabuk pun harusnya tak seperti ini. Rasa panas yang menderanya berganti dengan sebuah has-rat yang menggebu. Dia ingin seseorang menyentuhnya.


Astaga perasaan aneh apa ini mendadak muncul dan terus mendesaknya?


"Just finish her, bro!" Sebuah suara dengan nada tak sabar kembali terdengar.


"Yes. Andy, are you ready?"


"Sure. Aku sudah tak sabar lagi."


"Hey, Eliana. Apa kamu mau tidur? Nick akan mengenyahkan rasa panas di tubuhmu."


Tidur? Nick?


Oh, Tuhan. Pembicaraan apa ini? Terdengar begitu menjijikkan.


Eliana ingin bangun sekarang juga, tapi matanya terlalu berat untuk dibuka. Napasnya terasa pendek - pendek. Seseorang merebahkan tubuhnya di sofa.


Tenggorokannya terasa kering, dia butuh air. Rasanya seperti orang sedang sakit demam, mendadak saja dia sangat merindukan Toni. Dia ingin Toni ada disini saat ini juga.


"Toni... " Rintihnya, kepalanya semakin terasa sakit di semua bagian.


F


U


C


K


What?


No! No! Apa mau mereka? Naluri Eliana merasakan sesuatu yang buruk akan datang kepadanya.


Eliana menarik kakinya, terkejut saat merasakan seseorang menyentuh pahanya.


"Hey!" protesnya.


"Ayolah, sayang. Kamu akan menyukainya. Nick akan mengawalinya."


Eh?


Eliana merasakan kulitnya dijamah oleh beberapa tangan sekaligus. Dia bergerak - gerak berusaha menghindar tapi entah kenapa tubuhnya terasa seperti lumpuh. Tak bisa bergerak.


Semakin disentuh, dirinya semakin sensitif.


"No, no, please... " Eliana hanya bisa merintih dan memohon.


Otaknya menolak semua sentuhan itu, tapi tubuhnya mengatakan sebaliknya. Sialan! Untuk pertama kalinya Eliana mengumpat pada dirinya sendiri. Betapa bodohnya dia, kenapa sembarangan minum.

__ADS_1


"S-e-x-y!" kata seseorang sambil bersiul kagum.


"And vir-gin."


"Yup, point plus."


"Kita bisa memastikannya, dan kamu akan tahu dia vir-gin atau tidak?"


Dan suara tawa kemenangan pun membahana di sekeliling Eliana.


"Aku ingin merasakan seorang per-awan."


"Biarkan aku yang memulai."


"Enak saja kau, Frans. Kali ini biar aku yang yang pertama."


Mereka berdebat sambil terus menyentuh Eliana sesuka mereka. Napas Eliana memburu. Benar - benar menjijikkan. Dia ingin pergi tapi menngerakkan jari saja rasanya tak sanggup. Dia hanya bisa merin-tih, yang justru membuat para pria itu semakin ON.


Harry menarik kain tile tipis yang melapisi bahu Eliana hingga robek. Dia bersiul saat melihat tubuh bagian atas Eliana terekspose. Indah dan cantik. "Oh, s-h-i-t! Dia terlalu cantik. I wish I was her man."


"Hahaha... Kamu terlambat, dia sudah menikah, Man!"


"Sudah menikah? Berarti bukan vir-gin dong?"


"Dia bilang dia punya suami."


Eliana merasa ada seseorang menghisap dirinya. Dia ingin menjerit tapi lagi - lagi tubuhnya berkhianat. Yang keluar justru de-sah-an.


Toni menyibakkan tirai, masuk ke dalam cabana dan terkesiap saat melihat Eliana terbaring tak berdaya di kelilingi pria - pria yang menatapnya lapar. Tubuh bagian atasnya terekspose dan menjadi santapan srigala - srigala kelaparan.


"AAAARGGGH!"


Toni mengaum keras seperti singa yang sedang terluka. Dan detik itu juga dia menerjang mereka dengan membabi buta. Tangannya melayang ke segala arah, menyingkirkan para pria itu dari Eliana. Dia memaki, meninju, memukul, menendang di saat bersamaan. Toni mengamuk.


"Hey, Man!"


"F-U-C-K YOU!" Sahut Toni. Dia menyikut dan mengenai tepat di tulang hidung orang itu.


Toni berusaha menggapai tubuh Eliana, menutupi bagian atas tubuhnya yang terbuka. Toni kalap saat melihat Eliana tak berdaya.


BUK! BUK! PRANG! PRANG!


Toni kembali melayangkan pukulan ke segala arah. Tak ada yang luput dari serangannya. Kekuatan orang saat marah biasanya berlipat ganda.


Dalam sekejap tiga orang laki - laki tersungkur di lantai cabana, sementara Toni terus menendangi mereka. Tangan Toni terasa bengkak dan kebas, tapi tetap saja hatinya belum puas.


"TONI!" Suara Alex menyadarkan Toni.


Toni menoleh dan mendapati Alex membelalakkan mata di depan cabana.


"Eliana!" Toni berbalik dan melepaskan jas-nya lalu menutupi tubuh Eliana. "Eliana." panggilnya sambil menepuk - nepuk pipinya.


Bibir Eliana bergerak dan bersuara tak jelas.


"Eliana!" Toni mengguncang tubuhnya. "Bangun!" Ucapnya dengan suara hampir menangis.


Alex melangkahi orang - orang yang terkapar dan menyepak kepala salah satu dari mereka. "Ada apa?" tanyanya cemas.


Tubuh Toni bergetar karena emosi, rahangnya mengeras dan menjawab. "Mereka... mencoba... memper-kosa... " Toni tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Dia merengkuh Eliana dan memeluknya erat - erat. Gelombang rasa bersalah melingkupinya, sesak.


"I shouldn't have left her"

__ADS_1


Bersambung ya....


__ADS_2