My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 45 -- Barbeque Time


__ADS_3

Rumah utama keluarga Peterson yang biasanya sepi, kini ada kesibukan yang berbeda. Eliana berusaha menepati janjinya untuk 'berkencan' dengan Tuan Peterson. Dia meminta kepala pelayan untuk memindahkan meja makan besar ke tepi danau. Dia bermaksud makan malam diluar. John dan Dokter Livia juga katanya akan bergabung.


Senja sudah mulai menghilang, langit mulai gelap dan angin sepoi - sepoi. Para pelayan membawa makanan yang sudah disiapkan ke meja, sementara Toni menyiapkan barbeque.


Seorang anak buah chef datang membawa hasil tangkapan tadi siang. Udang, ikan dan cumi - cumi yang masih segar.


"Makan besar nih kita." seru Alex, matanya berbinar - binar melongok pada dua buah ember berisi sea food yang masih hidup.


"Itu tugasmu. Bersihkan semua itu!" Perintah Toni pada Alex, dia menunjuk ke ember berisi sea food taditadi dengan dagunya.


"Heh? Enak aja! Apa gunanya chef disini?" Tolak Alex panik. Mana mau dia memegang sea food hidup - hidup, terasa licin di tangan dan pasti berbau amis. "CHEF! Woiii, CHEF sini kau!" seru Alex. Tangannya melambai dan langsung menyuruh chef mengerjakan tugas dari Toni.


"Aku masih urus alat panggang, kamu dong yang masih bengong." protes Toni. Dia tak suka melihat Alex dari tadi mondar mandir saja, dan sesekali menggoda Eliana. Toni merasa terganggu dengan tingkah Alex, tapi dia sudah berjanji pada Eliana untuk bersikap baik. Menyebalkan.


"CK! Aku masuk ke dalam saja. Aku bawa Grandpa kesini, biar tahu kelakuan cucu kesayangannya yang suka semena - mena!" Alex langsung berlari masuk ke rumah utama tanpa menunggu respon Toni.


"WOI! Tak sopan sekali dia itu." dengus Toni kesal, dia mulai marah - marah karena Alex yang mau enak sendiri.


Tak jauh dari sana Eliana mendengar perdebatan mereka, hati kecilnya ingin tertawa. Lebih baik Toni dan Alex seperti ini, berdebat seperti anak kecil. Daripada perang dingin yang Eliana sendiri tak tahu apa penyebabnya. Dari pembicaraannya dengan Alex dan Toni, sepertinya mereka saling menyayangi. Hanya saja ada sesuatu yang masih mengganjal.


"Ehem, Toni... " panggil Eliana lembut. Dia mendekat.


"Kamu kok ajak Alex juga untuk ikut acara kita?" tanya Toni, dia cemburu setiap kali melihat Alex berakrab - akrab dengan Eliana. Tapi dia juga tak ingin menambah masalah, apalagi malam ini tujuan mereka sebenarnya adalah menyenangkan Kakek.


"Cucu Grandpa ada dua, dia ingin kalian akur dan bekerja sama demi Peterson Corp." Eliana berdiri di sebelah Toni, mengambil kuas dan ikan yang baru saja dibersihkan oleh chef atas perintah Alex. "Sini, biar aku bantu mengoleskan bumbunya."


"Cih! Bukan kamu, seharusnya si pemalas itu." Toni terlihat bersungut - sungut, seperti anak kecil yang sedang mengambek. Dia meraih sea food dan kuas dari tangan Eliana, tak mau Eliana yang mengerjakannya.


Eliana mengulum senyum. "Kamu terlalu memanjakanku, Toni. Bagaimana kalau nanti aku jadi pemalas?" keluh Eliana.


"Kamu tak perlu melakukan apa pun untukku. Bersamamu saja, aku sudah merasa senang sekali." sahut Toni. Senyum hangat sudah kembali terukir, moodnya kembali bagus.

__ADS_1


Eliana menatap wajah tampan Toni, seakan menyelami perasaan laki - laki itu. Ada cinta di dalam sepasang mata coklat yang juga memandangnya lembut.


CUP!


Sebuah kecupan kilat dan cepat mendarat di dahi Eliana.


"Toniii... " pekik Eliana tertahan. Jantungnya berdegup kencang, takut kalau ada yang melihat Toni mengecupnya tadi. Eliana menoleh ke kanan kiri, untunglah semua orang sibuk dengan pekerjaan masing - masing.


Dan Toni?


Ya ampun! Orang yang di komplain seperti tak mendengar. Dia malah asyik dengan sea food, kuas dan bumbu di hadapannya. Seolah tidak pernah melakukan apa pun tadi. Eliana mengelus dada. Nampaknya dia harus berhati - hati dengan tingkah Toni sekarang sepertinya lebih sering bertindak impulsive.


"WOOI... Apa makanan sudah siap?" seru Alex dengan wajah tanpa dosa, sambil mendorong kursi roda Grandpa.


"Tak ada makanan untuk pemalas. Ini semua untuk Grandpa dan Eliana." sergah Toni.


Eliana mengulum senyum, dia tahu Toni tak sungguh - sungguh marah. Tuan Peterson geleng - geleng kepala melihat perdebatan Toni dan Alex yang langsung dimulai begitu mereka bertemu.


"Jadi ini yang kamu maksud kencan denganku, Eliana?" potong Tuan Peterson tak mau kalah, sebelum Alex sempat membantah Toni. Beliau menunjuk Toni dan Alex satu per satu. "Dia! Dan Dia! Kenapa kamu mengundang kedua perusuh ini?"


Beliau sengaja memulai omelannya pada Eliana untuk menginterupsi perdebatan Toni dan Alex. Mencegah Toni dan Alex merusak suasana. Jauh di dalam hatinya, beliau sangat bahagia bisa menghabiskan waktu bersama kedua cucunya di danau.


Toni segera menyibukkan diri dengan grill dan sea food yang sudah dibumbui, pura - pura tak mendengar. Alex melengos, dia mencomot bruchetta dengan topping sayur dan daging, lalu menjejalkannya langsung ke dalam mulut supaya tak perlu menjawab apa pun.


Eliana tersenyum lebar. "The more, the merrier. Benar begitu Tuan besar?" Tanyanya lembut, dia langsung mengambil alih tugas Alex mendorong kursi roda.


(Makin ramai, makin meriah.)


"Cih, sampai kapan kamu memanggilku Tuan besar? Kamu memanggil cucuku dengan Toni dan Al. Lalu apa panggilanmu untukku?"Tegur Tuan Peterson.


"Ow, ada yang cemburu rupanya?" Eliana tertawa lepas. Tuan Peterson terkekeh geli, menertawakan dirinya sendiri yang ikut - ikut bertingkah absurd. "Bagaimana kalau kamu memanggilku Grandpa sama seperti mereka?" lanjut Tuan Peterson kemudian.

__ADS_1


Toni berkali - kali melirik Eliana yang sedang berbicara sambil sesekali tertawa, tawa yang tak sengaja menular padanya. Dia ikut tersenyum kecil, sambil mulai membakar sea food.


Melihat Grandpa dan Eliana, Toni dan dirinya yang piknik, Alex jadi merasa terharu. Untuk menyembunyikan perasaannya, Alex terus memenuhi mulutnya dengan bruchetta.


Terakhir kali mereka piknik adalah saat Toni dan dirinya masih sekolah. Itu pun terasa hambar, tak ada Mommy diantara mereka. Kehadiran Eliana memberi warna yang berbeda dalam keluarga Peterson.


Para pelayan juga ikut berbahagia melihat perubahan Tuan besarnya. Mereka bisa merasakan kalau Eliana istimewa, dia membuat tiga laki - laki di keluarga Peterson takhluk padanya.


Dari tempat duduknya, Alex melihat sosok pria kaku lainnya berjalan menuju ke arah mereka.


"Eli! Apa John juga join with us?" Seru Alex.


"Hey, jangan panggil dia Eli." protes Toni kesal.


Al dan Eli! Panggilan itu memberi kesan kalau hubungan Alex dan Eliana sangat dekat.


Eliana yang sedang menata papan catur di meja kecil, menjawab tanpa menoleh. "The more, the merrier."


"Oooh, I see." Alex manggut - manggut, dia kembali menoleh ke arah dari mana John datang.


Astaga!


Who's coming? Mata Alex terbelalak.


"Wah! Eli! Tapi aku tak yakin kalau kamu mengundang orang lain lagi selain John." katanya.


"Ya, aku juga mengundang Dokter Livia. Sebagai rasa terima kasih Grandpa atas kemajuan Toni."


Oh, No! Bisa kacau semuanya kalau dia bertemu dengan manusia satu itu.


"Eli, bolehkah aku batal ikut barbeque?" tanya Alex pelan, seperti berbicara pada dirinya sendiri. Dia berdiri merapat kepada Eliana. Matanya menyipit, melihat sosok wanita yang berjalan bersama John dan Dokter Livia.

__ADS_1


Bersambung ya....


__ADS_2