My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 96


__ADS_3

Kabar Toni dan Eliana akan pulang membuat Grandpa Peterson tersenyum - senyum bahagia. Diam - diam orang tua itu merindukan mereka, terutama Eliana. Meski darah tingginya sering kumat karena Alex dan Toni, tapi tetap saja ada yang hilang saat mereka berpergian begini.


Beliau mengulum senyum, mendengarkan laporan John yang duduk di meja makan sarapan bersamanya. Dia tak jadi dipecat oleh Toni karena Grandpa mempertimbangkan loyalitas John kepadanya. Sejak muda John sudah bersama Grandpa, seperti cucunya sendiri.


"Biarkan Toni melakukan apa pun yang disukainya dan menikmati kehidupan bersama keluarganya nanti. Yang penting dia bisa menjalankan perusahaan dengan baik."


John mengangguk. "Saya yakin tidak akan ada perebutan antara Tuan Anthony dan Tuan Alex. Dan Tuan Muda pasti lebih bertanggung jawab, dengan adanya seorang istrinya seperti Nona Eliana." kata John yang masih belum terbiasa memanggil Eliana dengan sebutan Nona.


"Hmm... ya, bersama Eliana sepertinya cucuku itu lebih terkendali dan termotivasi bekerja. Setelah ini aku ingin hidup tenang menikmati waktu - waktu yang tersisa bersama cucu - cucuku dan kelak cicitku."


John tersenyum penuh haru, dia mengerti bagaimana seumur hidup Tuan besarnya sudah bekerja keras. Dan sekarang dia berharap banyak pada Toni.


"Tuan Anthony meminta saya untuk mengatur persiapan go public mereka."


Tuan Peterson mende-sah, dia mengusap - usap dagunya. Setiap kali sedang berpikir atau melamun, tangannya otomatis mengusap - usap dagunya. Kebiasaan yang telah lama menjadi ciri khas beliau.


"Aku akan membantu mereka go public, dan tugasmu adalah memastikan keluarga ini aman. Terutama Eliana, dia masih polos dan awam tentang persaingan semacam ini."


John terdiam, dia mencatat kata demi kata yang diucapkan oleh Tuan Peterson. Setelah ini dia akan memperhatikan setiap detail pekerjaannya dengan lebih cermat dan tak akan membiarkan dirinya sendiri bertindak ceroboh lagi.


"Siap, Tuan. Saya terus berharap citra perusahaan tetap baik dengan atau tanpa pernikahan Tuan muda dengan Nona Tiffany."


"John, kamu sudah lama berkecimpung di dunia bisnis. Tahu benar apa yang disebut nama baik dan kepercayaan sebuah perusahaan. Nama Peterson terlalu besar untuk dihancurkan, kecuali Toni sendiri yang gegabah dan menggerogoti dari dalam. Sepanjang nilai kepuasan konsumen nomer satu, saya rasa gonjang ganjing gosip akan teratasi."


"Saya paham, Tuan. Tadi saya hanya menyampaikan kekhawatiran para pemegang saham."

__ADS_1


"Suruh mereka tunggu akhir tahun ini, mereka akan melihat sendiri di angka berapa kita tutup buku. Kamu ngomong saja ke mereka kalau sampai hari ini harga saham kita cenderung stabil. Apalagi kalau Toni sudah benar - benar fokus ke perusahaan. Sekarang tinggal Alex yang jadi PR kamu, pastikan dia tidak keluar jalur lagi seperti yang sudah - sudah! Mereka bisa kolaborasi dan Peterson makin kuat." titah Tuan Peterson.


"Baik, Tuan."


*


Pesawat yang ditumpangi Toni dan Eliana akan segera landing. Semua penumpang diminta duduk dan memasang safety belt masing - masing. Toni melirik Eliana yang duduk disebelahnya, istrinya terlihat memandang keluar jendela pesawat. Perlahan dia meraih tangan Eliana, menautkan jari - jari mereka.


Merasakan genggaman tangan Toni, Eliana menoleh bersamaan dengan Toni yang memiringkan kepala ke arahnya dan berbisik. "Welcome back to reality. Apa pun yang terjadi di depan, aku mau kamu terus bersamaku, Eliana."


Eliana tersenyum lembut. "Jangan khawatir, Toni."


Keduanya bertatapan sejenak dan Toni kembali berkata, "Bersamamu, aku akan tenang dan bisa menghadapi apa pun. Dan mungkin aku akan sibuk beberapa waktu untuk fokus pada perusahaan."


Tanpa menghapus senyumnya, Eliana menjawab, "Aku tahu perusahaan membutuhkanmu, dan Grandpa juga sudah waktunya beristirahat sambil menikmati usia indahnya. Kamu sudah diserahi tanggung jawab oleh Granpa. Bersungguh - sungguhlah!"


Eliana tertawa. "Kamu terlalu memujiku, Toni. Nanti aku besar kepala."


Toni mengusap pipi Eliana lembut, "Itu yang sebenarnya. Aku ingin semua berjalan baik, urusan perusahaan yang lancar dan kelak anak - anak yang terurus dengan baik. Aku rasa, aku bisa berbagi tugas bersamamu."


Eliana mengangguk. "Aku akan selalu menjadi penolongmu, Toni. Dulu, sekarang dan seterusnya. Kita akan terus bersama."


"Ya." jawab Toni, ada sebuah percikan semangat menyala di hatinya.


"Hm." Tangan Eliana mengelus rahang Toni dan berbisik lembut. "Thank you for the holiday."

__ADS_1


(Makasih liburannya.)


"No! No!" Toni menggoyang - goyangkan jari telunjuknya. "Tak perlu berterima kasih. Aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu. Tanpamu mungkin aku tidak ada disini sekarang ini." Kemudian Toni mengusap rambut Eliana dan merapikan anak - anak rambut yang jatuh diatas dahinya. "Kamu telah mengajarkan kepadaku satu hal yaitu ketulusan dan cinta. Bersiaplah, kita akan go public. Are you ready?"


Eliana tertegun, mencintai dan mendampingi Toni adalah keinginannya. Go public dan menjadi sorotan adalah masalah yang lain lagi. Dia tak terbiasa untuk itu. Tapi mereka sudah sampai disini, tak ada jalan lain selain terus maju bersama Toni, suaminya. Eliana menarik napas. "Bagaimana denganmu?" Dia balik bertanya.


Toni menatap Eliana dengan tatapan sayang. "Aku siap kapan pun kamu siap."


Senyum kembali merekah di bibir Eliana. "Aku percaya, kamu akan melakukan yang terbaik untuk kita."


Di mata Toni, Eliana terlihat sangat cantik dan memukau. Dia tak tahan lagi. Dengan spontan Toni langsung mencondongkan wajahnya ke istrinya, menempelkan bibirnya ke bibir lembut Eliana. Menciumnya lembut dan menikmati moment kebersamaan mereka.


"EHM!"


Ada yang merasa kesal dengan kemesraan mereka yang tidak tahu tempat. Belum sampai satu menit mereka berciuman, Toni terpaksa menyudahi aktivitas mereka. Dia melepaskan bibirnya yang bertautan dengan bibir Eliana dan mengusap pipinya. Dia mendongak dengan sorot mata tajam pada adiknya itu.


Alex nyengir, dia sudah mencondongkan tubuh dari tempat duduknya sambil mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya. "Peace, Man. Kalian bisa melanjutkan nanti di rumah."


"Memangnya sudah landing?"


Alex tak perlu menjawab pertanyaan Toni karena petugas sudah mengumumkan, "Mr and Mrs. Anthony Peterson, Mr. Alex Peterson dan Miss Livia Anderson welcome to Lakewood. Kita telah mendarat selamat di Lakewood Airport, kami persilahkan kepada anda untuk tetap duduk sampai pesawat ini benar - benar mendarat dengan sempurna dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman di padamkan. Terima kasih sudah melakukan perjalanan bersama kami, Kapten Mark dan seluruh crew yang bertugas pesawat yang bertugas mengucapkan selamat tinggal dan semoga dapat berjumpa di penerbangan lainnya."


"Yeah, welcome back to the f-u-c-k-ing reality, Man!" seru Alex sambil mengepalkan tangan ke udara.


TUK!

__ADS_1


Sebuah jitakan mendarat di kening Alex. "Kerja! Kerja!"


Bersambung ya...


__ADS_2