
Pengalaman Baru,
Akhirnya rombongan itu sampai setelah hampir tiga jam perjalanan terbang menuju Queensland tempat dimana terumbu karang terbesar di dunia itu berada. Karang ini berlokasi di laut koral, lepas pantai Queensland di timur laut Australia.
Begitu tiba mereka disambut oleh kru yang sudah disiapkan oleh tim pemandu wisata, private tour leader. Dia berteriak dengan penuh semangat. "Your dream vacation is waiting!"
(Liburan impian kalian menunggu!)
Di ujung dok menunggu sebuah yacht (kapal wisata) berukuran mungil namun cukup besar untuk menampung rombongan mereka.
"Wow! Apa kita akan berlayar?" seru Eliana tanpa bisa menutupi kebahagiaannya. She excited.
Toni mengangguk. "Ya, kita akan berlayar selama dua hari, snorkeling, diving dan eksplor beberapa tempat. Kamu ingin melihat hewan - hewan laut di habitat aslinya kan?"
"Of course I want." sahut Eliana kegirangan dan bergegas naik ke kapal mereka. Ini pengalaman pertamanya berlayar di laut lepas.
"Welcome, Mr and Mrs. Peterson."
(Selamat datang, Tuan dan Nyonya Peterson.) Seorang pria megenakan topi kapten kapal datang dan menghampiri mereka. Tubuhnya tinggi, dengan kulit kecoklatan karena terbakar sinar matahari, begitu kontras dengan mata birunya dan rambutnya yang pirang.
Dia mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri sebagai Kapten William. Toni menjabat tangannya dan menyapa balik Kapten William. Mereka diantarkan untuk mengelilingj yacht yang menyediakan berbagai fasilitas. Walaupun terlihat mungil, ternyata yacht ini memiliki fasilitas yang lengkap dan mewah. Toni dan rombongan akan dilayani oleh Kapten William dan kru-nya yang sudah berpengalaman.
"Keindahan private trip dalam perjalanan ini bisa anda nikmati bersama kami, tim yang berdedikasi dan berpengalaman di bidangnya. Silahkan bersantai dan menikmati perjalanan anda." Kapten William mempersilahkan, setelah mengajak mereka berkeliling dan berkenalan dengan kru yang akan menemani mereka berlayar.
Meskipun tampak asyik berbincang dengan kapten kapal, Toni tak pernah melepaskan genggamannya dari tangan Eliana. Sementara Eliana menikmati pemandangan yang berlatar belakang pasir putih dan warna biru. Angin sepoi - sepoi berhembus di atas dek kapal. Eliana menghirupnya dalam - dalam, menghirup bau asin air laut yang khas.
Suara deru angin menguat. Toni, Kapten dan Eliana mendongak dan melihat kearah asal suara menderu diatas mereka. Sebuah helikopter datang mendekat kearah mereka.
"Ah, itu mereka sudah datang." ujar Toni sambil tersenyum dan melambaikan tangan.
"Siapa?" tanya Eliana heran.
"Alex dan Livia."
"Ha? Katamu mereka punya acara sendiri?" tanya Eliana lagi. Tadi pagi Toni memberitahunya kalau Alex dan Livia akan berangkat sendiri, mereka sudah menyiapkan acara sendiri.
__ADS_1
Toni tertawa pelan. "Aku bohong." jawabnya dengan wajah tanpa dosa.
"Toni!!" seru Eliana gemas. Hampir saja dia berpikir yang bukan - bukan karena Alex tidak ikut dengan mereka. Jangan - jangan kakak beradik itu masih terus berseteru.
Siapa sangka yacht yang terlihat mungil ini ternyata mampu menahan sebuah helikopter yang mendarat di helipad yang tersedia diatas dek.
Alex dan Livia meloncat keluar dengan senyuman lebar di wajah mereka, menghapus rasa khawatir Eliana. Perang Toni dan Alex sudah berakhir.
Alex merentangkan kedua tangannya begitu melihat Toni dan Eliana berdiri menyambut mereka. Siang ini penampilannya terlihat santai dengan celana bermuda dan pakaian motif hawai serta kacamata trendi. Tampan dan bergaya seperti yang sudah - sudah.
Toni tertawa pelan melihat gaya Alex yang sok asyik. "Nice flight?"
Alex tertawa dan mengibaskan tangannya dan berkata dengan gaya sombong.
"Jelas dong, lebih seru naik helikopter daripada pesawat seperti kalian." sahutnya yang memang lebih memilih pengalaman baru naik helikopter bersama Livia.
"Aaaa... , kenapa kalian semua bohong sama aku sih?" pekik Eliana senang.
Awalnya dia tak berharap banyak Alex dan Livia bisa bergabung dengan mereka. Livia juga tak menghubunginya sama sekali sejak dia tiba di Aussie. Dan, pagi tadi dia tak melihat Alex di rumah. Toni bilang kalau Alex pagi - pagi sudah berangkat ke hotel tempat Livia menginap.
"Toni!" tegur Eliana sambil melotot.
Sayangnya, dia gagal menunjukkan wajah garangnya. Matanya membulat lucu dan bibirnya mencebik menggemaskan. Toni hanya tertawa keras melihat wajah Eliana.
"Sudahlah, Eli. Wajahmu tidak cocok untuk marah - marah, aku malah takut Toni menerkammu disini." ledek Alex.
Eliana menyipitkan mata dan melirik Alex dengan pandangan 'awas kau!'
Dan Alex hanya tertawa puas, berhasil membuat Eliana sewot. Setelah itu, Kevin menghampiri kapten mereka dan langsung heboh untuk memulai petualangan mereka.
"Captain!" panggilnya kepada Kapten Wiliiam. "Bagaimana kalau kita mancing hari ini?" sapanya ramah. Alex memang jauh lebih welcome dan supel dari pada Toni. Dia mudah akrab dengan siapa pun.
Kapten William tersenyum lebar. "Your words are my command, Sir." Dia menyentil ujung topi kapten yang dipakainya. Bayangan Alex memantul di kacamata hitam yang dipakainya.
(Kata - katanmu adalah perintah bagiku, Tuan.)
__ADS_1
Tak lama, mereka sudah berlayar. Toni mengajak mereka semua untuk bersantai diatas dek sambil menunggu makan siang.
Dan Eliana langsung menarik Livia ke tempat duduk di sisi lain dek kapal. Dari tempat Toni dan Alex berdiri, tawa renyah khas Eliana dan suara ceria Livia pun menghiasi hari mereka.
Langit yang cerah dan angin sepoi - sepoi menambah akrab suasana. Seorang kru datang membawakan minuman dingin dan satu toples berisi biskuit anzac khas Australia. Biskuit yang terbuat dari oat, golden syrup, baking soda dan kelapa parut kering.
"Jadi kalian kemarin berkencan ke Swan Valley sementara Toni dan aku bertengkar?" tanya Eliana pada Livia, dia meraih gelas air minumnya. "Please, jangan bilang kalau kalian just friend."
Livia tertawa, dia mencomot biskuit dari toples. "Memang gitu kenyataannya. We're good together as friends."
(Kami bagusnya berteman saja.)
"Bagaimana bisa cuma teman? Kamu nyusul jauh - jauh kesini, bahkan rela tutup tempat praktek. Bilang just friend?" cibir Eliana tak percaya. Kalau sudah sama Livia, Eliana sudah kaya emak - emak tukang gossip. Korek terus sampai dapat.
"Aku cuma kasihan sama Alex, jadi aku temeni dia aja."
"Isssh... apa hubungannya?"
Livia mengangkat bahunya. "Kamu lupa kalau si Alex sempet jadi trending topic diantara kalian?" Tak lupa Livia tersenyum miring dan alisnya naik turun, wajahnya benar - benar menyebalkan.
Eliana menepuk - nepuk pipi Livia untuk menghilangkan wajah tengil itu. "Hey, topik pembicaraannya Alex dan kamu. Jangan pengalihan issue!"
Livia mencomot biskuit banyak - banyak dan memasukkannya ke mulut. Sengaja supaya tidak usah menjawab.
Tidak terima dengan kelakuan Cheryl, Eliana langsung berkomentar. "Aku tahu, kamu sampe rela tutup tempat praktek dan jauh - jauh nyusul kesini karena dia kan?" Wajahnya penuh kemenangan.
"Hmh... hmh...!" Livia melotot dengan pipi yang menggembung. Kepalanya bergoyang ke kiri dan kanan, ingin berkata tidak tapi dia tak bisa. Mulutnya penuh. Cepat - cepat dia mengunyah biskuit yang ada di mulutnya.
Eliana tak peduli, dia tahu Livia butuh beberapa saat untuk menghabiskan makanan di mulutnya. Dan dia semakin menjadi - jadi. Siapa suruh memakan biskuit banyak - banyak.
"Begitu sampai di Lakewood, aku bakal minta Grandpa untuk nikahin kalian."
"Hhhh... !" Mata Livia semakin melebar.
"No respon artinya setuju." ucap Eliana sambil tertawa. Tawa yang puas dan lepas.
__ADS_1