My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 57 -- The Dinner


__ADS_3

Celebratory dinner yang diadakan oleh Oscar berakhir hampir tengah malam. Oscar yang merasa dirinya adalah teman baik Toni, dia beranggapan sudah kewajibannya menjamu para tamu hingga pagi. Dia membawa orang - orang itu ke sebuah club paling bergengsi yang ada di Lake Wood.


Chandelier club merupakan salah satu bar dengan kolam renang di puncak gedung terbaik di kota itu. Suasananya begitu bergengsi dan tersedia cabana pribadi bagi orang yang ingin bersenang - senang tapi tetap menginginkan sebuah privacy. Sebuah tempat yang terkenal dengan pesta dansa mewah dan tempat para bourjouis, dimana para crazy rich dan sosialita memamerkan kekayaan, status sosial dan fashion mereka.


"Wow! Chandelier Club... " ujar Dokter Livia saat dia duduk di sebuah sofa cabana pribadi mereka. Dia belum jarang pergi ke tempat seperti ini, matanya menatap takjub rooftop, gaya berpakaian orang - orang dan summer party. Benar- benar seperti di Hollywood.


Eliana duduk dengan anggun, dia menerima cocktail dari Toni.


"Ini tequila." Ucap Toni sambil menunjukkan snifter glass. Dia duduk di sebelah Eliana dan mendekatkannya ke hidung wanita itu, memintanya untuk menghirup aroma minuman tersebut.


Eliana menuruti permintaan Toni, dia menghirup aroma yang terkesan manis di indera penciumannya. Campuran agave, kayu manis, buah kering dan alk-ohol. "Aku tidak pernah tahu soal alk--ohol." ucapnya kalem.


Toni membuat gerakan memutar dengan tangan secara perlahan, membiarkan tequila menyentuh dinding gelas sehingga membuat efek 'string of pearls' yang menimbulkan kerlipan cahaya pada tequila yang menyentuh dinding gelas.


Wajah Eliana yang tenang dan lembut membuatnya ingin terus menjaganya agar senyum itu tetap ada di wajah cantiknya. Toni menyesap alkohol itu dan membiarkannya sekitar sepuluh detik supaya rasa alk--ohol dapat menyebar ke seluruh bagian lidah dan meneguknya. Kemudian dia menarik pipi Eliana dan menciumnya. "Tidak perlu tahu, cukup aku saja yang mengerti. Be yourself, Eliana. I love you the way you are."


Ya Tuhan, Eliana merasa hatinya jatuh sejatuh - jatuhnya. How sweet Toni is!


"Oh, please... " Oscar mengerang melihat kemesraan pengantin baru itu. Dokter Livia diam - diam tersenyum melihat Toni dan Eliana berbahagia. They deserve to be happy.


Oscar menyodorkan kepada dokter Livia, satu sloki sangrita dan tequila, cara lain untuk menikmati tequila. "Bagaimana kalau nambah orang? Kayanya kurang rame nih, mereka bikin iri aja." kata Oscar.


Dokter Livia menyesap sangrita bergantian dengan tequila untuk menguangi efek hangover, kemudian dia berkata. "It's up to you. Kamu kan penyandang dananya."


"Oke. The more the merrier." Seru Oscar yang ternyata senang sekali hura - hura, dia menghubungi beberapa temannya untuk memeriahkan suasana. Dan tiba - tiba saja kelompok mereka makin lama makin ramai. Dokter Livia diam - diam menikmatinya sebagai relaxasi dari segala rutinitasnya.


Oscar mengepalkan tangannya ke udara. "Yes! Let's have party, Gaes!"


Ponsel Toni yang ada di sakunya bergetar. Dia melihat nama yang tertera di layar dan terkejut. Toni bangkit dari duduknya dan memberi kode kepada Eliana kalau diriny hendak menerima panggilan. Dia berjalan menjauh dari cabana.


"Ya, John?" Sapanya kepada suara yang menyapanya dari seberang sana. Ada apa John menelponnya malam - malam buta begini, apa ada sesuatu dengan Grandpa?


Dentuman suara musik memekakkan telinganya, meredam suara dari ponselnya. Ah, sial! Toni terpaksa berjalan semakin menjauh, mencari tempat yang cukup sepi untuk berbicara pada John. "What's up, John?"


"Tuan muda, maaf saya mengganggu. Tapi nampaknya ada indikasi pergerakan dari Bryan." ucap John. Toni memang menyuruh John memata - matai Bryan untuk menemukan bukti perselingkuhan Tiffany.


"Dimana?" tanya Toni, ekspreisinya langsung tegang.

__ADS_1


"Ada di pelabuhan Lake Wood. Anda ada dimana sekarang?"


"Saya di Chandelier club dekat pelabuhan."


"Chandelier Club?"


"Ya."


John diam sejenak, mengkalkulasi jarak antara posisinya, Toni dan Bryan. "Tapi dia tidak bersama nona Tiffany."


"Apa yang dilakukannya malam - malam begini?"


"Seseorang sedang bertemu dengannya."


"Siapa?"


"Adik anda, Tuan Alex."


Hah?


That stupid brother!


"Ha? Ada perlu apa?" tanya Oscar heran.


Toni terlihat gusar, dia bolak balik melihat ke arah cabana tempat Eliana bersama Dokter Livia duduk sambil menikmati musik dan mengobrol. "Ada keperluan mendadak... " Toni menimbang - nimbang apakah menyebutkan alasannya untuk pergi atau tidak.


Oscar tahu kalau Toni sedang gelisah, dia mendekat pada sahabatnya dan bertanya dengan nada serius. "Ada apa?"


"Hhhh... Bryan ketemu sama adikku yang bodoh malam - malam begini."


"Bryan? Mafia itu?"


"Ya. Aku harus tahu apa yang dilakukan mereka. Jangan sampai si breng-s-ek itu menjerumuskan Alex lagi." geram Toni.


"Kamu mau kemana? Eliana gimana?" tanya Oscar.


"Aku cuma butuh waktu satu jam. Begitu urusan selesai, aku balik langsung balik. Bisa tolong jaga istriku?"

__ADS_1


Oscar nampak khawatir. "Kamu kesana sendiri?"


Toni menggeleng. "John langsung berangkat tadi begitu selesai lapor ke aku."


"Aku ikut sama kamu aja."


"No, Man. Aku butuh orang buat jaga dia disini. Ada John disana." Toni sekali lagi berusaha meyakinkan Oscar dan memohon bantuan untuk menjaga istrinya. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi disana, Toni tak berani mengambil resiko dengan membawa Eliana bersamanya.


Dengan berat hati Oscar mengangguk. "Baiklah. Lagipula ada Dokter Livia menemaninya dan juga teman - teman kita yang lain akan datang sebentar lagi."


"Thanks, Bro. Aku pamitan dulu sama Eliana." Toni menepuk bahu Oscar sebagai tanda terima kasih.


Eliana sedang tertawa lepas bersama Dokter Livia dan salah satu kenalannya yang ternyata juga teman Oscar dan Toni semasa sekolah dulu. Mereka berbincang tentang bagaimana Toni di masa itu, dan Eliana sangat tertarik pada topik tersebut.


"Emma, kamu pasti heran. Mereka menikah tanpa acara lamaran heboh atau apa pun. Anthony langsung menyeretnya ke altar dan Eliana menerimanya begitu saja." ujar Dokter Livia.


Eliana meringis. "Aku tak sampai hati menolaknya."


"Oh, jadi hari ini kamu officially Mrs. Anthony Peterson?" Emma tersenyum dan menepuk tangan Eliana lembut.


Eliana mengangguk dan tersenyum bahagia. "Ya."


"Ceritakan pada kami, kenapa kamu bisa jatuh cinta pada Anthony yang sama sekali tidak romantis itu?"


Baru saja Eliana membuka mulut dan hendak bercerita, sebuah sentuhan di bahunya mengatakan kalau Toni ada di belakangnya. Eliana bahkan sudah hafal cara Toni menepuk bahunya.


"Sayang." sapa Toni sambil menunduk kepada Eliana. "Aku ada something urgent."


"Ha? Pekerjaan malam - malam begini?" tanya Eliana heran.


Toni menggeleng, tak mau membuat Eliana berpikiran yang tidak - tidak, Toni memutuskan untuk menceritakan garis besarnya pada Eliana. "John tadi telepon kalau Alex sedang bertemu Bryan saat ini. Bryan bukan orang baik, aku tak mau Alex terpengaruh dan ikut - ikutan dengannya seperti dulu."


Eh, Alex? O'ya tadi Alex datang bersama mereka namun tiba - tiba dia menghilang. Eliana pikir, mungkin saja Alex berbaur dengan tamu - tamu lainnya.


"Kamu pergi sendiri? Apa perlu aku temani?"


Toni menggeleng. "John sudah menuju kesana. Apa kamu bisa menunggu disini bersama Dokter Livia? Kasih waktu aku satu jam."

__ADS_1


Eliana mengangguk lega, yang terpenting adalah Toni tidak pergi sendirian. "Okay."


Bersambung ya....


__ADS_2