
Toni membetulkan posisinya, lalu mencium kening Eliana. "I wanna do bad things with you..."
Eliana menjawabnya dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Toni. Tubuh polos yang rebah di hadapannya, mengundang dan menggoda Toni untuk melakukan hal - hal yang selama ini hanya ada di fantasinya. Tapi Toni tahu kalau dia harus bersikap lembut terhadap Eliana.
She's both fragile and mouth watering.
Toni terus menggoda istrinya, membuatnya mende-sah penuh gai-rah. Bersamaan dengan dia yang juga sedang berusaha mengenyahkan bayangan laki - laki lain sedang menja-mah Eliana dengan penuh nap-su. Dia terus menahan gejolak emosinya dan sebagai gantinya dia harus fokus untuk menyenangkan istrinya.
Kaki Eliana bergerak - gerak gelisah dibawah dominasi Toni. Telapak tangan Toni merambat semakin ke bawah dan menangkup harta Eliana yang paling berharga. Jarinya mulai bergerilya, menemukan titik yang paling menakjubkan.
"Toni... " suara Eliana serak dan sen-sual, menahan sesuatu yang kian menggebu. Muncul begitu saja dari dalam dirinya, tanpa bisa dihentikan.
"Let me give you a pleasure... " bisik Toni sambil mengecup pipi Eliana. Dia mengulum senyum saat melihat Eliana merapatkan kaki karena malu. "Kenapa?"
Kepala cantik itu menggeleng, Eliana mengalihkan pandangannya dari Toni. Sikap malu - malunya membuat Toni gemas.
"Aku tak akan menyakitimu. I'll make it slow. Just relax, okay?" Toni tertawa kecil. "Bernapas, Sayang. It's going to be fun."
Setiap inchi tubuh Eliana terasa begitu menakjubkan bagi Toni. Dia menyentuh Eliana, dan rin-tihan meluncur dari bibir wanitanya.
Toni merasakan Eliana begitu waspada. Ada kilatan ketakutan di dalam bola matanya yang indah, tapi de-sah-annya memaksa Toni untuk terus lanjut. Dia tak ingin berhenti. Tubuh Eliana terus bergerak - gerak dan meliuk bersamaan dengan tangan Toni yang terus bergerilya.
"Toni... !" Hanya satu kata itu yang bisa diucapkannya saat ini, otaknya sudah tak bisa berpikir lagi selain menciptakan lenguhan dan de-sah-an yang membangkitkan selera. Tangannya meraih kepala Toni dan merem-as rambutnya.
Pengalaman pertamanya, digoda begitu hebat dibawah sana, membuatnya memejamkan mata dan merapatkan pahanya.
"Ah." Kepalanya terlempar ke belakang, punggungnya melengkung. Ada sesuatu yang merambat kian naik dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Naik terus dan terus, hingga rasanya seperti kembang api yang melesat tinggi dan meledak kemudian berpijar meninggalkan sebuah rasa yang indah.
Toni tahu kalau Eliana sudah mencapai garis finish untuk pertama kalinya. Dia melepaskan Eliana dan menarik napas.
Napas Eliana satu satu, dia memandang langit - langit. Di matanya plafon kamar nampak seperti langit malam yang dipenuhi kerlap kerlip bintang, begitu indah. Euphoria belum hilang dari tubuhnya, sisa - sisa 'kesenangan' masih melekat di tubuhnya.
"Relax, Baby." bisik Toni. Dia memposisikan dirinya di atas tubuh istrinya. He's on duty now.
__ADS_1
"Ya?" Fokus Eliana masih berantakan.
"Relax supaya kamu tidak sakit." Toni mengusap kepala Eliana.
Eliana terlihat bingung.
"Take a deep breathe." Toni menggesekkan dirinya ke bagian sensitif Eliana.
Napas Eliana yang tertahan membuat Toni semakin yakin kalau Eliana menyukainya.
"Kamu harus relax supaya aku bisa masuk." Toni menarik kaki Eliana. "Enjoy this. Hm? Toni terus berbicara dengan lembut.
Eliana memejamkan matanya merasakan bel-ai-an Toni. Laki - laki itu juga berkali - kali mencium kening dan pipinya. "Bagaimana perasaanmu? Nyaman?" tanya Toni.
"Hm... " Eliana tak bisa berkata - kata lagi sekarang, seluruh inderanya menjadi lebih tajam berkali - kali dari biasanya.
Sentuhan.
Ciuman.
"Tidak perlu malu. Just feel free to express yourself. Enjoy your time, Baby."
Eliana tak punya jalan lain selain mengikuti arahan Toni. Perlahan, semua ketegangannya terurai, otot - ototnya melemas dan sensasi ciuman Toni membuatnya lupa segalanya.
Here she is. Give herself to her beloved husband.
Toni merasakan Eliana sudah siap menerimanya. "Sayang, aku akan memulainya."
Kalimat yang ditunggu namun sangat ditakutinya, sebuah kontrakdiksi yang kembali meningkatkan kewaspadaannya. Eliana menggigit bibir saat Toni mendorong dirinya masuk.
'Thanks, God.'
Eliana meringis. Ada sesuatu yang pecah di dalam dirinya. Toni mengatur napas dan bergerak hingga masuk sepenuhnya.
__ADS_1
"See? You're a virgin. Tak ada lagi yang perlu di khawatirkan. Kamu memberikan yang terbaik untukku. What an honor." bisiknya kepada Eliana. Sengaja memberi jeda pada scene romantis mereka untuk membesarkan hati Eliana.
"Hm-hm." Eliana mengangguk. Tangannya meremas lengan Toni.
"My beloved wife." Toni mencium Eliana dan melanjutkan permainan mereka.
Toni bergerak dengan hati - hati di atas Eliana, membuat Eliana semakin menikmati dan terbawa oleh permainan. Otot - otot Toni yang liat mulai bermunculan dan sorot matanya panas membara. Napas mereka bersahut - sahutan.
"Breathe, Eliana. Breathe on me." ujar Toni. Dia menggenggam tangan Eliana, menandakan bahwa perasaannya kepada Eliana lebih dari sekedar ketertarikan secara fisik. Toni mencintai seluruh hal yang ada di dalam diri Eliana, hal terbaik hingga hal terburuk. Tanpa kecuali.
He loves her. All!
Toni terus berusaha keras hingga akhirnya keduanya pecah bersamaan. Senyum bahagia terukir di wajah Toni. Dia mengecup kening Eliana dan rebah di atas tubuh istrinya. Napas keduanya berlomba, Toni memeluk Eliana erat dan berbisik.
"I love you, My wife."
Bersambung ya...
Note
Pleasure \= Fun \= kesenangan / menyenangkan
euphoria \= rasa bahagia yang meluap - luap
on duty \= dalam tugas
free to express \= bebas berekspresi.
what an honor \= sebuah kehormatan
beloved \= tercinta
__ADS_1
breathe \= bernapas