
Eliana berguling ke samping, dia mengucek matanyanya dan merasakan sisi tempat tidur Toni yang kosong. "Toni?"
"Ya?" Toni yang sedang memakai dasinya menoleh. "Good morning, Sayang."
"Lho sudah rapi?" tanya Eliana sambil menguap, tangan satunya bergerak cepat menutup mulutnya. Matanya melirik jam digital diatas nakas. Pukul tujuh tiga puluh!
Wow! Wow!
Mata Eliana membulat sempurna. Benar - benar keterlaluan, istri macam apa bangun siang begini sementara suaminya sudah rapi dan siap berangkat ke kantor.
"Hey! Hey! Mau kemana?" seru Toni, saat melihat dari cermin kalau Eliana berlari kecil menuju kamar mandi.
"Kenapa kamu tak membangunkan aku, Toni? Aku kan jadi kesiangan." Omelan Eliana terdengar dari kamar mandi. Dia terburu - buru mencuci muka, gosok gigi dan mandi kilat. Hanya lima menit, Eliana sudah keluar dengan kimono handuknya.
Toni terkekeh, "Kenapa kamu buru - buru?"
Eliana mencebik, sambil tetap terburu - buru mengganti kimono handuknya dengan dress terusan polos dengan leher V, berbahan nyaman. Aman untuk dipakai di rumah saat beraktifitas tapi tetap modis. "Memangnya kamu tidak sarapan? Aku kan harus menyiapkan sarapan untukmu." ucap Eliana yang merasa sudah menjadi seorang istri. Tangannya dengan cepat membubuhkan skincare dan bedak di wajahnya, persiapan terakhir sebelum turun ke lantai satu dan menyiapkan kebutuhan sang suami. Dia ingin merasakan bagaimana rasanya menyiapkan sarapan untuk suami, mengantarnya berangkat kerja dan menyambutnya saat pulang nanti.
Bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh Eliana, Toni mengecup kening istrinya. "Aku ada breakfast meeting, jadi kamu tak perlu repot menyiapkan apa pun pagi ini." jawabnya sambil menengok jam di pergelangan tangannya. Masih ada beberapa menit sebelum berangkat, rasanya ada yang kurang kalau pergi begitu saja tanpa mencium istrinya.
"Oh.... " jawab Eliana. Dia menyambut ciuman selamat pagi dari suaminya dengan senang hati, memeluk dan membalas menciumnya dengan hangat.
"Emmh... kalau sudah begini, rasanya aku tak akan bisa berkonsentrasi kerja." Toni menggelengkan kepalanya berusaha mengenyahkan pikiran yang terlintas di pikirannya untuk kembali menghabiskan pagi di tempat tidur bersama istrinya.
'Honeymoon is over, hey!'
Eliana tertawa kecil. "Kamu sudah terlalu lama cuti. Waktunya kembali bekerja."
Toni merangkul Eliana dan mengajaknya turun. "Apa rencanamu hari ini?"
"Back to activity. Menemani dan mengurus Grandpa." kata Eliana sambil tersenyum. Hati kecilnya merindukan daily rutinnya bersama Grandpa Peterson yang sempat terhenti karena honeymoon.
"Kamu tidak capek?"
__ADS_1
Eliana menggeleng. "Apalagi yang harus aku kerjakan selain mengurus Grandpa? Kamu tak mengijinkan aku membereskan rumah."
"Apa kamu mau ke mall?" Toni mengeluarkan dompetnya dan memberikan sebuah kartu pada Eliana. "Pakai ini untuk keperluan pribadimu." ucapnya sambil menyelipkannya di dalam genggaman Eliana. "Untuk keperluan rumah tangga, John sudah mengatur semuanya jadi kamu tak perlu pusing."
Lagi - lagi Eliana menggeleng. "Aku mau menemani Grandpa saja, aku merindukannya. Lagipula, semua keperluanku sudah lengkap. Aku tak merasa membutuhkan sesuatu di mall." Eliana memajukan bibirnya begitu menggemaskan.
"Hey, hey! Jangan memasang wajah seperti itu lagi saat aku mau pergi kerja."
"Ha?" Eliana melongo.
"Bisa - bisa aku berubah pikiran dan membawamu kembali ke kamar." lanjut Toni lagi sambil sekali lagi mencuri cium dari Eliana dan langsung bergegas masuk ke dalam mobilnya tanpa menoleh lagi.
*
HOT NEWS! Mr. Anthony Peterson tertangkap kamera di airport bersama seorang wanita. Benar - benar mengejutkan! Belum lama juru bicara keluarga Wilson menyatakan hubungan Mr. Anthony dan nona muda Wilson kandas karena ketidak cocokan, tiba - tiba saja Mrs. Anthony muncul bersama sosok seorang wanita muda yang misterius. Mungkinkah secepat tuan muda Peterson menemukan pengganti dari Nona Tiffany Wilson?
Seperti biasa Mr. Anthony tertutup dengan kehidupan pribadinya, dia menolak dengan halus untuk berbicara meski hanya sepatah dua patah kaya. Dia hanya berjanji akan mengadakan konferensi pers pada waktu yang telah di tentukan olehnya.
Sayang sekali, padahal netizen sudah penasaran siapa wanita cantik yang bersamanya. Dan rupanya, sikap Mr. Anthony terhadap wanita ini jauh lebih protektif dibanding saat dia bersama Nona Wilson. Dia tak mengijinkan siapa pun mendekati wanita itu. Wanita itu hanya tersenyum dan mengangguk sopan lalu masuk ke dalam mobil.
Pet!
Tuan Peterson mendengus sambil mematikan TV dengan remote yang ada ditangannya. Bertepatan dengan Eliana masuk ke ruang keluarga, dan menyapanya dengan ceria. "Grandpa... "
Tuan Peterson menoleh. "Bagaimana vacation kalian, Eliana?" tanya Tuan Peterson sambil mengulurkan tangannya memberi kode kepada Eliana untuk memeluknya.
Eliana merentangkan kedua lengannya dan menghampiri orang yang sudah dianggap kakeknya sendiri. "Sangat menyenangkan, Grandpa. Aku merindukanmu." kata Eliana sambil memeluk beliau dengan hangat.
"Toni sudah berangkat? Kamu sudah breakfast?" tanya Tuan Peterson, matanya melirik kearah jam dinding.
"Oh, Toni bilang ada breakfast meeting. Dan aku juga yang sudah breakfast. Bagaimana dengan Grandpa? Apa rencana hari ini?"
"Ke taman belakang saja."
__ADS_1
Dan Eliana pun langsung mendorong kursi roda Grandpa dan membawanya ke halaman belakang untuk menemani beliau bermain catur.
"Kamu belum lupa cara mainnya kan?" goda Grandpa saat mereka menata pion - pion catur di kotak - kotak hitam putih.
Eliana tertawa. "Bagaimana bisa aku lupa? Di Aussie saja, aku bermain melawan Toni."
"Dan kamu menang?"
Eliana menggeleng dan memasang wajah sedih. "No. Aku kalah terus sama dia. Tak tahulah, aku heran dengan otaknya kenapa serba bisa."
Tuan Peterson tertawa keras. "Itulah sebabnya kamu harus terus berlatih bersamaku."
"Grandpa, kenapa ratu memegang peranan penting dalam permainan catur?" tanya Eliana sambil menatap bidak - bidak catur di hadapannya.
Awalnya Eliana belajar bermain catur hanya untuk menemani Tuan Peterson. Tapi lama kelamaan, dia mulai menikmati permainan catur tersebut. Eliana tak hanya rajin bekerja tapi dia juga kritis pada hal - hal baru.
Grandpa Peterson tersenyum, lalu menjawab. "Seperti laki - laki membutuhkan wanita dalam hidupnya sebagai penolong atau pendamping, maka raja pun membutuhkan ratu untuk melindungi dirinya."
Eliana memandangi Tuan Peterson yang sedang berbicara, berusaha memahami dan menyerap penjelasan beliau.
"Hmm... aku paham maksud Grandpa. Grandpa ingin aku terus mendampingi Toni dalam setiap langkahnya."
Grandpa terkekeh. Beliau tak sadar kalau bidak catur Eliana sudah mengepung rajanya.
"Checkmate!" seru Eliana bangga.
"Eh?"
Tuan Peterson terbelalak, dia tak menyangka langkah Eliana sudah mematikan dirinya.
Eliana tertawa bangga. "Yeaaay... aku menang. Grandpa harus traktir aku makan enak."
Tuan Peterson tertawa semakin kencang, tawa yang lepas dan bahagia. Eliana sudah pulang, dan beliau tak lagi kesepian.
__ADS_1
"Sebutkan saja kamu mau makan dimana, aku akan mentraktirmu apa saja setelah pengumuman pernikahanmu dalam beberapa minggu ini."