
Sepanjang jalan, Toni gelisah. Sesak, marah, menyesal, khawatir, takut, gusar. Semua rasa berjubel, berdesakan menjadi satu di dadanya. Toni menghentak - hentakkan kakinya dengan kecepatan konstan. Jelas terlihat kalau dia gugup setengah mati.
"Calm down, Toni. Aku rasa dia akan baik - baik saja. Kamu bilang dia bersama Oscar dan Dokter Livia kan?" Alex mencoba menghibur Toni meski jantungnya juga berderap kencang. Dia sangat menyayangi Eliana, dan tak mau terjadi apa pun padanya.
Alex tadi mendapat telepon dari Bryan yang mengatakan kalau dia akan datang menemui dirinya di Chandelier untuk menyelesaikan sebuah 'urusan'. Tak mau merusak suasana, Alex memilih menemui Bryan di sebuah kamar hotel. Siapa sangka Bryan begitu ceroboh meninggalkan ponselnya di meja dan Alex melihat sebuah notifikasi yang menyebut nama Eliana.
Sayangnya, Bryan lebih cepat bergerak. Dia mengambil ponselnya dan langsung menghapus isi pesan tersebut.
"Argh... I shouldn't have left her." Toni merem-as - re-mas rambutnya, suaranya terdengar putus asa dan penuh penyesalan.
(Aku seharusnya tidak meninggalkannya.)
Alex menepuk bahu sopir mereka dan memintanya untuk menginjak gas dalam - dalam. Mereka harus sampai di Chandelier dalam lima menit.
Rasanya perjalanan menjadi lebih lama dan menegangkan. Toni berusaha menghubungi ponsel Eliana, tapi tak ada jawaban. Dokter Livia mau pun Oscar juga sama saja! Dia beralih ke para bodyguard untuk langsung berangkat ke club dan mencari Eliana. Siapa pun itu, harus ada yang menemukan Eliana.
Begitu mobil berhenti, Toni langsung melompat keluar dan melesat masuk. Napasnya terengah - engah saat dia berusaha mencapai klub yang berada di lantai tertinggi gedung itu.
WHAT?!
Chandelier club penuh sesak!
Tak pernah terjadi sebelumnya, seramai apa pun club ini. Toni sampai kesulitan bergerak, dia harus mendorong orang - orang untuk bisa berjalan dan mencari keberadaan Eliana. Alex berusaha terus mengikuti Toni, dia tak akan membiarkan Toni sendiri. Instingnya berkata, Eliana dalam bahaya.
"Sialan! Sepertinya mereka sengaja mempersulit kita. Darimana datangnya orang - orang ini?" umpat Alex.
Toni lupa kalau dia tak meminta Oscar untuk menutup club itu, private, khusus untuk mereka saja. Dan nampaknya ada yang sengaja mengundang orang - orang untuk datang berbondong - bondong menikmati party disana.
Tubuh Toni terjepit diantara orang - orang yang berjoget gila - gilaan, tubuh - tubuh berkeringat menyenggolnya kanan dan kiri. Toni terus berjalan, berusaha menembus lautan manusia.
__ADS_1
"Excuse me! Excuse Me!" teriak Toni.
Tak seorang pun mengindahkan teriakan Toni, mereka asyik dengan dunianya. Terpaksa Toni memakai sikunya untuk membuka jalan bagi dirinya sendiri.
"Hey! Watch out, Man!" Maki beberapa orang kepada Toni.
Toni tak peduli, matanya bergerak liar mencari sosok Eliana di antara kerumunan ini. Tak ada Eliana di mana pun.
Nah, itu dia!
Akhirnya Toni bisa sedikit bernapas lega, dia melihat Cabana yang tadi dipakai Eliana dan Dokter Livia dalam kondisi tertutup. Mereka pasti sedang di dalam. Toni menyibakkan tirai cabana. Astaga! Dokter Livia dan Emma sedang tidur di sofa karena mabuk. Tapi, dimana Eliana? Tak ada!
"Mana Eliana?" tanya Alex dan Toni berbarengan. Mereka panik. Dokter Livia menggeliat dan tersenyum. "Hm... kami juga mencarinya, tapi dia tak ada disini." gumam Dokter Livia, dengan mata setengah terpejam. Kepalanya pening.
Alex menghampiri Dokter Livia dan menepuk pipinya pelan, mencoba mengajak bicara untuk menemukan clue keberadaan Eliana.
Percuma!
'Chill, Man. Panik tidak akan menyelesaikan masalah.' ucap Toni dalam hati. Dia berusaha menenangkan pikirannya supaya dapat berpikir jernih.
Ada beberapa cabana yang mengelilingi kolam renang dan kebanyakan saat ini tirainya tertutup. Kalau mengingat karakter Eliana yang tak suka keramaian, rasanya tak mungkin Eliana bergabung dengan lautan manusia itu.
R-A-P-E menjadi kata kunci pencarian Eliana, Toni memaksa otaknya berputar dengan cepat. Darah mengalir deras ke kepala, bersamaan amarah yang semakin menggelegak di dada. Sekarang Toni tak peduli apa pun, dia harus menemukan Eliana. HARUS!
Toni menyibak kerumunan, dia mendorong dan menyikut. Tak peduli apa pun konsekuensinya. Seseorang bahkan tercebur ke kolam karenaToni mendorongnya terlalu keras. Kalap dan brutal.
Toni membuka tirai cabana demi cabana dan tidak menemukan Eliana dimana pun.
"F-U-C-K YOU!" maki pria yang sedang bermesraan dengan seorang wanita di dalam sana. Toni buru - buru menutup tirai dan kabur.
__ADS_1
"ELIANA!" serunya frustasi.
Apa mungkin Eliana pergi tanpa mengatakan sesuatu kepada siapa pun? Apa dia kembali ke cottage? Atau ke toilet?
Astaga! Mau menelpon Grandpa pun benar - benar tak mungkin, ini sudah lewat tengah malam. Bisa - bisa Grandpa marah dan kesehatannya terganggu.
Kepala Toni mulai terasa berat dan pusing. Ada cabana terakhir di ujung yang belum didatanginya. Seorang laki - laki berambut panjang keluar sambil terkekeh, dari matanya jelas terlihat dia sedang mabuk. "Wow... , she's so d-a-m-n s-e-x-y!"
Kalimat itu terasa menusuk di telinga Toni, tangannya bergetar dan mengepal erat saat mendengar ucapan pria mabuk itu. Tanpa banyak kata, Toni mendorong pria itu.
Pria itu tak terima, dia balas mendorong Toni. "Hey, Man! Dimana matamu?" Umpatnya kasar. Tangannya menahan bahu Toni, tapi Toni langsung menyentakkan tangannya.
"Don't touch me!" geramnya.
Suara Toni terdengar dingin dan matanya menatap keji. Pria mabuk itu mengangkat tangan dan menyingkir, dia tak mau membuat masalah.
Dengan tak sabar Toni menyibakkan tirai cabana, dia masuk ke dalam tanpa permisi. Dia terperangah saat melihat Eliana terbaring di atas sofa dengan beberapa pria di sekelilingnya. Seperti seekor domba yang pasrah hendak di santap oleh gerombolan serigala buas.
Mata Toni langsung melotot, dia melihat gaun Eliana sudah melorot dari tubuh wanitanya.
Tubuh bagian atas Eliana terekspose, siap menjadi santapan makhluk - makhluk buas di hadapannya.
Bersambung ya....
Let me take a deep breathe before the next episode. Antara tega dan tidak saat menulis part ini. 😵
Note :
Chill \= Santai
__ADS_1
Bebeberapa kata memang diberi strip supaya memudahkan lolos review sistem ya, Readers.