My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 92 -- A Good Night Kiss


__ADS_3

"Tadi kamu tanya, kenapa aku bisa langsung jatuh cinta pada pandangan pertama?"


Mendengar pertanyaan Toni, Alex segera menoleh. Kakak laki - laki kebanggaannya itu sedang berdiri di ujung dek sambil memegang segelas whiskey. Sebelah tangannya dimasukkan ke dalam kantong celana yang dipakainya. Saat ini dia memakai celana selutur warna army dan kaos polos hitam berleher bulat. Pandangannya menerawang jauh seakan sedang merenungi sesuatu. Debur ombak terdengar memukul pinggul yacht yang sedang membelah lautan dengan kecepatan sedang. Lautan begitu tenang, malam semakin larut dan bintang - bintang mulai bertaburan.


Eliana dan Livia sudah masuk ke kamar masing - masing. Mereka kelelahan setelah seharian memancing dan dilanjutkan dengan belajar bagaimana caranya membersihkan ikan hasil tangkapan Eliana. Dan tadi sore mereka bersama - sama menikmati ikan hasil pancingan Eliana sambil menikmati pemandangan laut Australia.


"Saat aku terombang - ambing, dia menarikku untuk tetap tinggal dan tidak hanyut. Di saat aku melupakannya, ingatan akan dirinya terus menarikku untuk kembali pada dia. She can keep my feet on the ground. She is an anchor for my soul."


(Dia bisa membuat kakiku tetap menjejak bumi. Dia adalah jangkar bagi jiwaku.)


Mendapatkan jawaban yang begitu dalam, membuat Alex sudah tak bisa berkata - kata lagi. Dia tahu, apa yang diucapkan barusan adalah perasaan terdalam seorang Anthony Peterson. Meski sering ribut hingga berkelahi, tapi Toni tetap mendapatkan tempat terbaik di hatinya. Dia adalah salah satu role model dalam hidupnya selain Grandpa Peterson. Apapun yang akan dilakukan oleh Toni, dia akan terus mendukungnya.


Mengenai perasaannya pada Eliana, dia benar - benar sudah mengenyahkannya jauh - jauh tanpa membuang rasa persaudaraannya dengan Eliana.


"I got the point." ucap Alex, dia berusaha mencairkan situasi yang mendadak berubah serius. "Aku tahu, kamu telah melalui masa - masa sulit sebelum bertemu dengannya. Bersyukur sekali kamu menemukan orang yang tepat dan lebih baik dari Tiffany. Ngomong - ngomong, aku penasaran bagaimana nasibnya saat ini. Pasti Papanya marah besar karena hubungannya denganmu kandas."


Toni menyeringai saat Alex menyebut nama Tiffany. Wanita itu sama sekali hilang dari ingatan dan hatinya. Tiffany bagaikan sebuah cerita usang yang sudah terlupakan. Out of date. Tidak ada tempat lagi di dalam hidupnya.


"Oke. Aku mau menemani istriku." Toni menepuk bahu Alex sebelum dia menaruh gelas di meja dan berlalu.


Alex memandang punggung Toni yang berjalan masuk ke dalam kabin yacht. Diam - diam dia tersenyum mengingat perbedaan sikap Toni pada Tiffany dan Eliana, yang mungkin tidak Toni sadari, atau dia tidak mengingatnya.


'Well. Ada perbedaan yang signifikan pada perlakuan Toni terhadap Eliana.' pikir Alex sambil menghabiskan minumannya.


Sejak dia tahu kalau Toni ada hubungan spesial dengan perawat Grandpa, diam - diam Alex memperhatikan perubahan yang terjadi pada saudara laki - lakinya itu.


Dulu dia selalu membebaskan Tiffany pergi kemana pun tanpa dirinya, meski tak pernah lupa mengirimkan pesan atau sekedar menelpon. Tiffany bisa dengan seenaknya pergi berdua dengan dirinya, Toni tak pernah sekali pun cemburu. Hingga malam itu mereka menghabiskan waktu di club malam.


Dari situ, Alex mulai tahu bagaimana bebasnya pergaulan Tiffany. Mereka minum dan mabuk hingga terjadi one night stand. Yang Alex tahu adalah dirinya bukan yang pertama untuk Tiffany.


Toni juga memasak untuk Eliana, satu - satunya orang yang dimasakkan oleh Toni selain Grandpa. Alex tahu kalau Toni memasak untuk Grandpa semata - mata karena dia ingin memastikan asupan nutrisi untuk Grandpa-nya. Dengan harapan Grandpa selalu sehat dan bersama mereka lebih lama.


Toni adalah tipe orang yang akan menjaga dan melayani orang - orang yang disayanginya.


Alex terkekeh sendiri mengingat siapa dirinya ini dibandingkan dengan Toni. Dia belum melakukan apa pun untuk Peterson apalagi Eliana.

__ADS_1


Yes. Toni deserve to be with Eliana.


(Toni berhak untuk bersama Eliana.)


*


Toni menyelinap masuk ke dalam kabin kamar Eliana dan melihat wanitanya sedang tidur nyenyak di bawah selimut. Terlihat sangat nyaman dan nyenyak. Dia tidak tega membangunkan, tapi dia membutuhkan wanita itu. Sungguh perasaan yang kontradiktif. Benar - benar menyebalkan.


At least, he wants a good night kiss from her.


(Setidaknya dia ingin ciuman selamat malam darinya.)


Toni menyibakkan selimut dan pelan - pelan menyusup ke dalamnya. Berusaha tidak membangunkan Eliana yang tertidur miring. Tangannya berada di bawah pipi, cute seperti bayi. Toni menyentuh pipinya, menyingkirkan anak - anak rambut seberkas anak rambut yang jatuh di pipi Eliana.


Cup!


Toni tak tahan untuk tidak mencium pipi mulus Eliana. Syukurlah, Eliana tak merasa apa pun. Toni mengamati wajah cantik Eliana, semakin dilihat rasa sayang itu semakin membuncah.


Cup!


Oh, ya ampun! Bibir Eliana merah merekah dan sedikit terbuka, benar - benar menantang Toni untuk kembali menyentuhnya. Tidak, Toni tak sanggup menahannya. Dia beringsut, mendEkatkan kepalanya ke wajah Eliana dengan sangat hati - hati. Berusaha jangan sampai istri itu terganggu.


Dengan gerakan slow motion dan sangat lambat...


Perlahan - lahan...


Hati - hati...


Cup!


Toni kembali menempelkan bibirnya, kali ini ke bibir manis Eliana. Sentuhannya dibuat sepelan mungkin.


"I love you." bisiknya pelan sambil tersenyum menatap wajah tidur Eliana.


Tiba - tiba, mata Eliana terbuka lebar dan menatap terkejut kepala Toni yang ada di depan wajahnya.

__ADS_1


'HUAH!'


Toni terperanjat dan sedikit menjauhkan wajahnya, kaget karena Eliana tiba - tiba bangun.


"Ada apa, Toni?"


"Ehm, tidak ada apa - apa." Toni mengacak rambutnya sendiri. "Aku mau tidur saja." jawab Toni kikuk. Jantungnya berdebar keras, entah karena terkejut atau shock karena tertangkap basah mencuri ciuman dari istri yang sedang tertidur.


Seolah tahu apa yang ada di dalam hati Toni, senyum merekah di bibirnya. Eliana menarik leher Toni dengan kedua tangannya, dan langsung menempelkan bibirnya di bibir suaminya.


Bibir Toni terasa manis karena sisa - sisa whiskey bercampur dengan aroma khas Toni, membuat Eliana semakin memperdalam ciumannya. Seharian ini mereka tak mendapatkan kesempatan untuk berduaan, sudah pasti Toni merindukannya. Sama seperti dia juga merindukan Toni. Malam ini adalah kesempatan bagi mereka untuk menikmati waktu berduaan.


Merasakan Eliana begitu welcome padanya, Toni langsung merengkuh Eliana ke dalam pelukannya dan tak henti - hentinya memberi kecupan selamat malam. Tangannya bergerak menyusuri kulit Eliana yang halus. Napas mereka mulai memburu, memenuhi kabin yang sempit.


"Toni... " panggil Eliana, suaranya lebih mirip dengan de-sa-han.


Toni tahu arti suara itu. Dia juga menginginkan hal yang sama. "It's never enough to love you, Sayang." bisik Toni dengan mata berkabut.


(Tak akan pernah cukup untuk mencintaimu, Sayang.)


"Anytime, Toni." balas Eliana dengan tatapan penuh cinta.


(Kapan pun, Toni.)


Note :


1. Role model : panutan / teladan


2. Kontradiktif : orang yang menginginkan suatu hal tetapi melakukan hal yang berlawanan dengan yang ia katakan.



Here is the kayaking sport 😊


.

__ADS_1


__ADS_2