
Malam itu menjadi malam yang indah dan panjang bagi Eliana dan Toni yang sudah resmi sebagai sepasang suami istri. Setelag goal pertama, Toni beristirahat dan melanjutkan kembali permainan mereka. Babak kedua berlangsung lebih relax dan seru.
Eliana sudah tak lagi khawatir dan takut, dalam hati Toni berharap semuanya sudah berlalu dan tidak menyisakan trauma di hati istrinya.
Ruangan kamar yang luas dan dingin itu terasa panas dan kehabisan oksigen. Entah sudah berapa kali Eliana meneriakkan nama Toni setiap kali rasa itu berpendar di dalam tubuhnya.
Oh, Man...
Eliana kehabisan napas, dia lelah tapi tak bisa berhenti. Atau mungkin tak ingin berhenti? Entahlah. Yang pasti Eliana bisa merasakan Toni memenuhi dirinya dengan cinta, membanjirinya dengan sesuatu yang menyenangkan dan menjebak dirinya dalam pesona seorang Toni.
Apa ini yang sering di dengarnya dari orang - orang? Bercin-ta adalah hal menyenangkan terbesar dari semua kesenangan yang ada?
Berci-nta dengan Toni sangat membantu Eliana, tak hanya menurunkan rasa insecure-nya tapi juga berhasil melepaskan hormon endorfin yang bisa membantu mengurangi emosi dan depresi. Hormon oksitosin-nya pun meningkat seiring dengan stimulasi dan aktivitas se-ks-sual lainya. Sangat membantu dirinya untuk menumbuhkan rasa tenang dan puas.
Eliana merasa bahagia dan istimewa.
Tatapan Toni yang ada di atasnya, wajahnya serius, mulutnya sedikit terbuka saat dia bergerak. Napasnya terengah - engah tapi ekspresinye jelas - jelas menunjukkan kalau suaminya itu menyukainya. Sesekali dia tersenyum dan menanyakan apa Eliana nyaman? Menyukainya? Atau bagaimana perasaannya.
"You feel me?" tanya Toni sambil mengatur ritme supaya Eliana bisa merasakan dirinya di dalam Eliana.
Eliana mengangguk. Tentu saja Eliana bisa merasakan semuanya. Perasaan Toni. Cinta laki - laki itu serta usahanya yang terbaik demi dirinya.
Toni menggeram dan terus mendorong, dia tak akan berhenti sebelum selesai. Apa pun dia lakukan hanya untuk Eliana. Demi kebahagiaan wanitanya.
Eliana memeluk Toni erat, menempelkan kulit mereka dan menyatu secara utuh. Bersama - sama bergerak, saling berusaha dan berbagi. Saling menyebut nama masing - masing dengan penuh cinta. Telapak tangan Eliana menyusuri tubuh kotak demi kotak otot - otot suaminya. Toni berhasil membuatnya meleleh.
Rasa semakin menumpuk, dari dalam diri Eliana. Dan juga, Toni.
"You belong to me." ucap Toni tanpa menghentikan gerakannya. "I'm yours." lanjutnya mendeklarasikan dirinya hanya untuk Eliana.
Eliana mendongak dan dia bisa melihat kesungguhan di mata Toni. Mereka bagaikan di hantam ombak, ditarik ke dalam sebuah pusaran dan hanyut di dalamnya.
Keduanya bertatapan, menikmati sensasi luar biasa dari sebuah pencapaian.
__ADS_1
***
Sinar matahari menembus masuk dari celah gorden yang sedikit terbuka, bersamaan dengan udara sejuk yang mengusap kulit Eliana. Membangunkannya dari tidur nyenyaknya. Matanya terbuka, sejenak dia lupa sedang berasa dimana hingga telinganya menangkap bunyi napas teratur di balik punggungnya.
Oh'ya...
Dia sudah menikah dan sekarang ada Toni, suaminya, yang akan selalu tidur di sampingnya. Kejadian semalam kembali berputar di pikirannya, semalaman Toni terus berusaha untuknya.
Pelan - pelan Eliana mengangkat tangan Toni yang melingkar posesif di pinggangnya. Dia harus segera ke kamar mandi. Seperti orang - orang pada umumnya, setiap pagi kandung kemihnya harus dikosongkan.
Dia mencari - cari kemeja putih yang semalam dipakainya. Ah, itu dia. Bajunya dan bo-xer Toni berceceran di lantai. Eliana memakai kemejanya dan merapikan rambutnya yang panjang.
Eliana berjalan masuk ke kamar mandi dan duduk di kloset.Ada sedikit perih di bawah sana, tapi tidak mengganggu. It's normal. Entah berapa kali mereka melakukannya semalaman, stamina Toni benar - benar tak bisa diremehkan.
Pipi Eliana merona hanya dengan memikirkannya saja, dia tersenyum sendiri mengingat malam pertamanya yang tak akan pernah terlupakan. Dadanya kembali berdetak kencang saat mengingat betapa tampan dan perlakuan lembut Toni kepadanya. Ekspresi Eliana benar - benar menunjukkan seorang wanita yang bahagia karena merasa dicintai.
Mansion Toni kosong dan saat ini hanya dihuni oleh mereka berdua. Nampaknya Toni terbiasa mengurus dirinya sendiri atau sesekali memanggil pelayan dari rumah utama bila diperlukan. Semua alat yang ada di rumah ini menggunakak tekhnologi modern. Termasuk robot untuk membersihkan rumah, mereka hanya perlu mengaktifkan program dan benda itu akan bergerak dengan sendirinya.
Dan sepertinya mansion mewah Toni akan menjadi tempat tinggal mereka berdua setelah ini. Pagi ini, dia harus menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Apa yang akan mereka makan pagi ini?
Eliana memeriksa laci - laci dan menemukan cukup banyak bahan untuk diolahnya sebagai sarapan mereka berdua. Eliana sedikit heran. Padahal Toni sering sarapan di rumah utama tapi dia tetap menyimpan bahan makanan di mansionnya. Ada telor, sosis, roti, selai, keju, susu, kopi dan teh.
Tak mau ambil pusing, dia meletakkan semua bahan makanan yang akan di olahnya ke counter dapur. Ini adalah tugas pertamanya sebagai seorang istri. Membuat sarapan untuk suami.
Awalnya Eliana sedikit kebingungan saat hendak menggunakan mesin kopi, tapi setelah diutak utik akhirnya dia berhasil. Selanjutnya dia hanya perlu beradaptasi dengan peralatan dapur lainnya uang canggih.
Tak berapa lama, harum kopi dan telor goreng menguar dari dapur. Perasaan Eliana ikut melambung, menikmati ketenangan di pagi hari dan dengan senang hati menyiapkan sarapan dengan santai untuk suami tercinta di dapur yang cantik dan modern ini.
Dia asyik menggoreng sosis dan telor hingga tak menyadari suara langkah mendekat. "Morning, Sayang... " sapa Toni dengan suara berat dan serak. Terdengar seksi.
Eliana menoleh dan tersenyum. "Morning, handsome... " Dia mendongak dan bermaksud mencium pipi Toni. Namun Toni menghindar dan malah mencium bibirnya.
"Hey, aku masih masak!" EIiana mendorong Toni yang masih bertelanjang da-da. "Breakfast dulu."
__ADS_1
Toni tertawa, dia mundur sejenak dan mengamati Eliana yang berdiri memunggunginya. Lagi - lagi dia hanya memakai kemeja Toni, kali ini dengan warna yang berbeda. Biru muda, sungguh sangat cocok dengan warna kulit Eliana yang bersih. Toni jadi tak tahan ingin memeluknya. Detik itu juga, dia langsung mendekat dan memeluk dari belakang pinggang wanita yang telah resmi menjadi istrinya.
Dia mengecup kepala Eliana. "Kamu sudah lapar?"
Eliana menuangkan scrambled egg dan sosis ke atas sebuah piring. "Kamu tidak lapar?"
"Lapar." jawab Toni dari belakang Eliana. Dia tidak mau melepaskan pelukannya di pinggang Eliana. Dia tak bisa berhenti menyentuh istrinya, rasanya ingin terus menempel.
Eliana menoleh ke Toni dan tertawa kecil. "Ayo makan."
"Ehm, tapi aku maunya kamu untuk sarapanku." bisik Toni di dekat cuping telinga Eliana.
Astaga! Mata Eliana terbelalak, dia tak bisa menutupi rasa kaget dan rona merah di pipinya. Toni malah tertawa. "Why?" Dia mengecup pipi Eliana dengan gemas.
"Can I?"
Eliana tertunduk, semakin merasa malu. Namun tak kuasa menolak. Tangan Toni sudah bergerilya di balik kemeja yang dipakai Eliana. Seolah Eliana memang tercipta untuknya, miliknya sekarang dan selamanya.
Pikiran Eliana kembali berantakan. Sarapan sama sekali terlupakan dari benak mereka. Toni mendorong Eliana ke counter dapur. "We'll do it here."
Ah, Eliana hanya bisa pasrah. Apa pun yang Toni berikan....
Dapur berubah menjadi panas, bukan karena kompor yang menyala tapi karena pasangan baru yang meletup - letup saling menikmati tubuh masing - masing. Saling mengeksplor dan memberikan cinta dalam rumah tangga mereka yang baru hitungan hari.
Pagi ini, a nice quickie is their breakfast.
Bersambung ya...
Note:
Nice : menyenangkan
__ADS_1
Quickie : s-e-k-s singkat