
Pandangan Pertama
"Rottnest Island adalah pulau habitat quokka, salah satu hewan endemik Australia. Hewan imut itu ada hubungannya dengan asal usul nama pulau tersebut. Ada kurang lebih 12.000 ekor quokka yang hidup bebas di Rottness Island." Seorang pemandu menjelaskan dan mengarahkan kepada Eliana dan Toni menuju ke sebuah lokasi yang diyakini sering ditemukan Quokka yang berkeliaran. Kemudian dia melanjutkan penjelasannya.
"Willem de Vlamingh, kapten kapal Belanda yang pada tahun 1696 menjelajah pulau ini. Selama 6 hari, dia menemukan banyak 'big rat' karena bentuknya yang seperti tikus, namun besarnya seperti kucing. Dari situlah dia namakan pulau tersebut sebagai 'rat nest' alias sarang tikus. Kemudian menjadi Rottnest," tambah si pemandu.
Toni dan Eliana mengangguk - angguk mendengarkan penjelasan pemandu. Untuk melihat Quokka, mereka harus menyewa sepeda. Toni menyewa beberapa sepeda untuk rombongan mereka. Tak lama mereka sudah mengendarai sepeda sepanjang jalan.
"Oh, ya ampun. Itu mereka! Disana! Disana!" seru Eliana. Dia menghentikan sepedanya dipinggir sebuah taman dan menunjuk ke suatu arah di dekat pohon.
Toni, pemandu dan yang lain juga menghentikan sepedanya, mereka mengikuti arah jari Eliana yang menunjuk ke satu arah.
Wow! Mereka benar - benar ada disana. Balas memandang dengan gayanya yang menggemaskan. Sama sekali tidak takut atau lari menghindar. Pemandu memimpin mereka untuk berjalan mendekati Quokka yang sedang berdiri dengan kaki belakang mereka. Dua kaki depan mereka terangkat memegang dedaunan.
Pemandu memberi kode kepada Toni dan Eliana untuk mendekat. "Hewan ini ramah. Kita bisa berfoto dengan mereka, selfie atau menggendongnya. Namun mereka dilindungi oleh undang - undang, kalau kita tidak merawatnya dengan baik maka kita bisa didenda."
"Bolehkah aku mengambil gambarnya sekarang?" tanya Eliana pelan. Dia menyiapkan ponsel barunya yang diberi oleh Toni sebelum mereka berangkat kesini.
Pemandu mengangguk. "Tentu saja bisa. Anda bahkan bisa ber-selfie dengannya.
Begitu mendapat aba - aba dari pemandu, Eliana pelan - pelan bergerak maju.
"Hanya berfoto ya. Tidak boleh memberi makan dan menyentuh." Pemandu memberi peringatan kepada Eliana.
Toni berdiri di belakang Eliana yang sedang berjongkok memotret hewan khas Australia itu. Hewan itu bermata hitam bulat, pipinya tembam dan saat mulut mungilnya terbuka, maka dia akan terlihat seperti sedang tertawa. Mungkin karena itulan hewan tersebut mendapat julukan sebagai hewan paling bahagia di bumi.
"Oh... , ya ampun! Cute sekali.... " Eliana terus berkomentar sementara tangannya sibuk memotret hewan itu dari berbagai angle. Nampaknya hewan kecil itu juga tertarik kepada Eliana, matanya bergerak - gerak mengikuti kemana pun Eliana pergi.
"Sepertinya anda sudah bisa berfoto dengannya, Mrs. Peterson. Dia mulai terbiasa dengan anda." ucap pemandu sambil tersenyum senang. Sebagai orang Australia asli, ada kebanggan tersendiri saat seorang wisatawan kagum pada kekayaan alam mereka.
Eliana mengikuti arahan pemandu, dia memposisikan tubuhnya di dekat hewan itu tapi tetap menjaga jarak supaya tak bersentuhan. Kemudian dia mengambil foto dirinya dan Quokka.
"Look! Dia tersenyum! Dia tersenyum!" seru Eliaan kegirangan. Tingkahnya benar - benar seperti anak kecil yang baru saja mendapat mainan baru. Jiwa kanak - kanaknya muncul.
Toni tertawa melihat ekspresi Eliana yang bahagia. Tidak ada lagi yang bisa mengalahkan rasa lega yang dirasakannya saat melihat Eliana sudah bisa tertawa lepas.
"Can I join?" tanya Toni.
"Ayooo.... Buruan! Keburu dia kabur." sahut Eliana cepat. Matanya tak lepas memandang kepada Quokka.
__ADS_1
Toni mendekat dengan hati - hati, berusaha tak mengagetkan hewan itu. Namun sepertinya hewan ini terbiasa di foto. Dia akan membuka mulut seperti sedang tersenyum, setiap kali kamera terarah kepadanya.
"Cute! Cute!" Entah sudah keberapa kalinya, Eliana mengucapkan kata - kata itu. Rasa bahagianya membuat orang - orang di sekitarnya ikut bahagia. Mereka jadi ikut - ikut memotret hewan itu.
Kurang lebih lima menit kemudian, akhirnya hewan itu menghilang dibelakang pohon. "Yaah... dia mau pulang ke rumahnya." ucap Eliana pelan.
Toni terkekeh dan merangkul bahu Eliana, lalu menariknya mendekat dan mengecup kepala Eliana dengan sayang.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Toni.
"More than happy." katanya sambil menoleh ke Toni untuk pertama kalinya sejak dirinya terpukau pada Quokka. "Thank you, Toni. Ini pertama kalinya aku pergi ke Australia."
"Oh, tapi semua itu tidak free." ucap Toni sambil mengulum senyum.
"Ha?"
"Cium aku sebagai bayarannya."
Heh? Pipi Eliana bersemu merah, senyum manis tersungging di bibir membuat Toni tak tahan melihat wajah cantik istrinya. Tanpa aba - aba, dia menangkap wajah Eliana dan menciumnya di bibir.
"Hey, kalian bisa melakukannya di kamar kalian nanti setelah pulang dari sini." tegur pemandu sambil terkekeh.
"Kamu tidak lapar?" tanya Toni pada Eliana yang tidak bosan - bosannya memotret ratusan pose Quokka. Galerinya sudah penuh dengan gambar hewan itu.
"Ugh, tapi aku jadi ingin membawanya pulang." keluh Eliana, tak ingin berpisah dengan hewan yang tiba - tiba saja menjadi favoritnya.
"Oh, sorry Mrs. Peterson. Anda tak bisa membawanya keluar dari habitatnya." sahut pemandu yang dengan sabar menerangkan bahwa masyarakat Australia sangat overprotektif terhadap hewan - hewan endemik mereka. Dan Eliana mau mengerti alasan yang di utarakan oleh pemandu wisata tersebut.
Mereka kembali mengayuh sepeda menuju ke tempat persewaan dan beristirahat di cafe yang ada disana. Toni langsung memesan banyak makanan untuk mereka semua.
Toni menggenggam tangan Eliana dan mengelus cincin di jarinya. Wanita itu menyandarkan punggungnya sambil menghembuskan napas puas. Kemudian mereka menunggu pesanan datang.
"Eliana, bagaimana perasaanmu?" tanya Toni. Setiap kali dia akan bertanya untuk memastikan Eliana benar - benar senang dan nyaman menikmati perjalanan mereka.
"Capek, tapi aku senang." jawab Eliana sambil memperhatikan suasana cafe yang menyenangkan.
"Sepertinya kamu senang sekali melihat Quokka."
Eliana menoleh. "Oh, suka banget. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama." jawab Eliana. Dia menarik tangannya dari genggaman Toni dan mengeluarkan ponselnya untuk kembali melihat - lihat hasil jepretannya.
__ADS_1
Toni mencebik dan berkata. "Hm... jangan sampai posisiku tergantikan oleh Quokka - Quokka itu."
Eliana tertawa dan mencondongkan tubunnya ke Toni. "Aku rasa posisimu dan Quokka ini sama." bisik Eliana sambil mengulum senyum.
Toni mendengus, merasa tersinggung bagaimana mungkin posisinya disamakan dengan seekor Quokka. Benar - benar keterlaluan.
"Sama seperti kamu, Toni. Aku langsung ingin membawamu pulang saat kita pertama kali bertemu. Mungkin saat itu aku sudah jatuh cinta kepadamu, tapi aku belum menyadarinya." lanjut Eliana lagi.
Toni mengerjap saat mendengar penjelasan dari Eliana. Dia tak menyangka Eliana akan mengatakan hal yang membuat perasaannya melambung tinggi. Eliana menyukainya sejak pertama mereka bertemu.
Tanpa bisa dicegah, senyuman terukir di bibir Toni pipi Toni dan pipinya sedikit bersemu merah dengan ekspresi tersipu malu.
Seorang CEO Peterson Group yang biasanya menghadapi ribuan karyawan itu kini takluk di bawah kaki seorang Eliana. Reaksinya benar - benar seperti anak SMA yang baru saja jatuh cinta.
Eliana tertawa melihat wajah Toni yang sedikit salah tingkah. "Ada apa? Kamu tak percaya kata - kataku?" tanya Eliana.
Eh?
Toni menatap Eliana tapi tak tahu harus berkata apa. Dia malu kalau harus berterus terang tentang perasaannya saat ini yang sedang membuncah.
Tak menunggu jawaban Toni, Eliana sekali lagi berkata, "Trust me. I love you in the first sight, Toni."
Woah!
Perasaan Toni seperti ingin meledak karena bahagia. Ini adalah pertama kalinya Eliana mengucapkan I love you sejak mereka pertama bertemu. Setiap kali, yang diucapkan oleh wanita itu adalah aku sayang kamu, Toni.
Selama ini Toni merasa cukup dengan ucapan sayang dari Eliana. Tapi hari ini, kata - kata I love you terasa berbeda di hatinya.
Special moment from Eliana to Toni.
Bersambung ya....
Note:
Hewan endemik : hewan khas/hewan asli dari suatu tempat tertentu
Quokka ☝☝☝☝
__ADS_1