My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 34 -- Garden Tour


__ADS_3

"Waaah... " seru Eliana bahagia, tak bisa menyembunyikan kekagumannya.


Dia masuk ke gerbang putih tinggi menjulang yang dirambati climbing rose berwarna warni. Kemarin, saat Eliana berkeliling kebun naik golf car bersama Tuan Peterson, dia tertarik pada sebuah gerbang yang dirambati dengan bunga mawar.


Hari ini, di saat Tuan Peterson sedang istirahat siang, Eliana berniat menghabiskan waktunya di kebun mawar itu.


Kegiatannya di rumah keluarga Peterson tak sesulit yang dia bayangkan. Tak ada lagi Tuan kaya yang suka marah - marah dan semena - mena menyuruhnya ini itu. Hari - harinya berjalan lancar.


Pagi hari, Eliana menyiapkan air hangat dan pakaian ganti untuk Tuan Peterson. Setelah itu Eliana menyiapkan sarapan dan menemani Tuan Peterson makan. Tak perlu repot - repot membantu Tuannya mandi karena ada pelayan laki - laki yang khusus membantunya mandi dan berganti pakaian.


Selebihnya Tuan Peterson akan masuk ke ruang kerjanya, membaca laporan, buku atau menerima tamu. Sementara Eliana bebas melakukan apa pun yang dia mau.


Siang hari, Tuan Peterson baru akan mencari Eliana untuk mengajaknya makan siang bersama. Setelah itu beliau akan beristirahat atau menonton TV.


Dan disinilah Eliana, ketika sang tuan sedang beristirahat, maka perawat itu menikmati me time di tengah - tengah deretan bunga yang memanjakan mata.


Begitu kakinya menginjak gerbang, dirinya lorong - lorong terbuat dari mawar merah dan pink menyambutnya. Cantik dan semerbak wanginya. Eliana merentangkan tangannya dan menghirup aroma mawar dalam - dalam. Feeling relax.


Saat keluar dari lorong, dirinya disambut oleh tanaman jenis semak - semak yang sangat indah dan wangi, warnanya keunguan lembut, persis seperti warna - warna baju kekinian dengan istilah nama lilac.


"Cantiknya... " ujar Eliana, kembali terkagum - kagum. Matanya sampai berbinar - binar.


"Taman ini seperti di dalam cerita dongeng, rasanya seperti mimpi." gumamnya sambil terus berkeliling. Mulutnya berkali - kali berdecak kagum.


Wow!


Di sebelah kanan ada berbagai macam jenis mawar dan warna yang di tata secara aesthetic. Dipotong rapi dan teratur dengan pagar putih, setinggi tiga puluh senti, mengelilinginya. Kemudian ada jalan setapak kecil yang bisa dilalui sambil menikmati keindahan mawar - mawar itu.


"Waaaah... bolehkah aku memetiknya?" tanya Eliana pada dirinya sendiri, hidungnya mencium - cium wangi mawar.


"Apa kamu menyukainya, suster cantik?" Sapa seorang laki - laki. Suaranya begitu dekat di belakang punggung Eliana.


Eliana terkejut, tak menyangka akan ada orang lain disana selain dirinya.


"Tuan Alex." sapanya sambil membungkukkan kepala untuk bersopan santun.


"Sudah kubilang, panggil aku Alex." ucap pria itu sambil tersenyum.


Eliana tersenyum canggung.


"Kamu mau yang mana? Tunjuk saja, apa pun yang kamu mau." Alex datang mendekat. Angin membawa aroma maskulin dengan woody note masuk ke indera penciunan Eliana. Berapa kali pun dirinya melihat, tetap saja dia seperti melihat Toni. Bedanya pria ini lebih rapi dan wangi.


"O'ya? Benarkah?" Erika tak bisa menyembunyikan rasa antusiasnya. Dia ingin merangkai mawar - mawar itu dan meletakkannya di dalam kamar. Pasti cantik.


"Hm - hm, tentu saja. Tapi tidak sekarang." Alex mengangguk sambil tersenyum lembut. Senyum yang sanggup membuat hati wanita mana pun meleleh.

__ADS_1


"Oh.... "


Bahu Eliana meluruh, sedikit kecewa. Tadi bilang boleh, sekarang bilang tidak sekarang. Padahal Eliana sudah baper.


Alex mengulum senyum, perawat ini begitu polos. Ekspresi senang dan kecewa bisa dibaca dengan jelas dari raut wajahnya.


"Hey, wajahmu jangan begitu. Sekarang masih terlalu siang. Nanti aku akan memotongnya untukmu, karena waktu yang terbaik untuk memotong mawar adalah setelah pukul tiga sore." ucap Alex berjanji.


'O'ya?'


Eliana baru tahu ada aturan waktu untuk memetik bunga.


Melihat wajah Eliana nampak heran, Alex tertawa pelan dan menjelaskan, "Karena diatas jam tiga sore itu cadangan makanan paling banyak. Ini akan memberi bunga mawar kekuatan yang dapat membuatnya bertahan lama saat dijadikan bunga potong atau buket bunga."


'Ooh.... '


Eliana meringis. Merasa ketangkap basah sudah negative thinking.


"Taman ini milik Mommy, Grandpa membuatnya karena Mommy sangat menyukai mawar." lanjut Alex lagi.


Hmm... Tapi dimana Mommy yang disebut - sebut oleh Alex tadi? Sejak dirinya datang, hanya ada Tuan Peterson dan Alex. Pria yang mengaku asisten Tuan Peterson pun tak tampak.


Eh?


Tiba - tiba saja sebuah telapak tangan besar dan halus melingkupi tangannya. Apa ini? Wanita itu melihat berganti - ganti, tangannya dan Alex.


Alex malah mempererat genggamannya, dia mengedipkan sebelah mata dan berkata, "Let's go for garden tour."


"Tapi... "


"Chill, Eli. Aku akan membawamu kembali ke rumah besar sebelum Grandpa bangun."


'Wow! Eli?'


Seakan tak mau menerima penolakan, Alex berjalan sambil menggandeng Eliana yang terseok mengikuti langkahnya. Menuju bagian samping kebun mawar.


"Namanya Norma Jeane." Alex memulai penjelasannya saat mereka sampai di tanaman paling ujung.


Mereka berhenti di depan gerombolan mawar berwarna putih dengan tinggi sekitar enam puluh sentimeter. Warnanya begitu putih dan bersih, mengingatkan Eliana pada gaun pengantin putih bersih dan altar pernikahan.


"Norma Jeane? Namanya bagus sekali, mengingatkanku pada... -- "


"Marilyn Monroe?!" ucap mereka berbarengan.


Ya. Nama bunga ini sama dengan nama kecil artis simbol se-ks asal America itu. Norma Jeanne Mortenson. Entahlah apakah nama bunga ini berhubungan atau tidak dengan artis itu.

__ADS_1


Alex dan Eliana saling berpandangan sama - sama mengulum senyum, kemudian tertawa bersama. Tawa yang berhasil mencairkan suasana. Selanjutnya Eliana mulai hanyut dalam percakapan dengan Alex, pria ini sangat menyenangkan untuk diajak berbincang - bincang. Sama seperti Toni.


"Bunga mawar putih ini dikembangkan oleh W Kods dan anaknya di German. Tanaman ini bisa terus tumbuh sepanjang tahun asalkan di rawat dengan baik. Tapi mawar ini tidak tersebar, hanya ada di negara itu saja." Layaknya pemandu wisata, Alex menjelaskan satu persatu nama - nama dan background mawar - mawar tersebut.


Eliana memperhatikan ekspresi Alex yang tampak bahagia saat berbicara tentang mawar - mawar itu. Dia juga begitu paham setiap detail sejarah bunga - bunga cantik nan harum.


"Tuan sepertinya sangat suka bunga mawar?"


"Aku menyayangi pemilik kebun mawar ini dan juga kenangan yang ada di dalamnya."


"Siapa? Grandpa?"


"Bukan. Kebun ini milik My Mom. Grandpa membuatnya khusus untuk Mommy karena dia sangat suka bunga mawar."


"I see. Pasti senang rasanya berjalan - jalan bersama orang yang kita sayang di tempat seperti ini." gumam Eliana, pikirannya melayang ke Toni.


Dia membayangkan romantic scene bersama Toni di tengah - tengah mawar yang bermekaran.


"Sayangnya sudah tidak bisa lagi." Alex menghembuskan napas. Alex berbicara tanpa melihat ke arah Eliana. Dia membuang pandangannya jauh ke depan.


"Kenapa tak bisa?"


"She went home to heaven... When we were children." Ada sedikit getaran dalam suara Alex.


(Dia sudah pulang ke surga. Ketika kami masih kanak - kanak.)


"Oh." Eliana menutup mulut dengan telapak tangan, "Maaf." lirihnya, menyesal sekali menanyakakan pertanyaan


Alex tersenyum tipis, menatap ke bunga - bunga mawar yang bergoyang tertiup angin. Ada awan bergelanyut di wajahnya.


Eliana menatap pria itu dengan perasaan penuh simpati. Jadi selama ini mereka hanya hidup bertiga tanpa kasih sayang seorang ibu?


"Hey, jangan menatapku seperti itu. Atau kita dalam bahaya." celetuk Alex tiba - tiba. Ekspresinya sudah kembali biasa, tak ada lagi mendung di wajahnya.


"Ha? Apa maksudmu?"


"Karena tatapanmu membuat hatiku bergetar."


Bersambung ya....


Note :



Climbing Rose : Jenis mawar yang bisa merambat.

__ADS_1


Chill : santai.



__ADS_2