
Livia dan Alex naik lebih dulu ke yacht sebelum Eliana dan Toni naik, mereka bertugas merekam moment manis di bawah sana. Mereka menunggu kedua orang itu untuk kembali muncul ke atas dan menuju session berikutnya. Let's make a beautiful memory.
Ada gerakan dibawah sana, diawali dengan munculnya laki - laki yang menjadi instruktur diving Toni, dan disusul oleh Toni kemudian.
"YUHUU!" Suara berat kapten William membahana. Collin menarik tangan Toni dan membantunya naik ke yacht. Dengan sigap para kru membantu Toni melepaskan peralatan diving yang menempel di tubuhnya.
Alex menghampiri Toni dan menepuk tangannya ke bahu Toni yang keras. "Luar biasa! Kirain tadi tuh bercanda, eh ternyata beneran. You're crazy, man." katanya menggebu - gebu, perasaannya antara takjub dan kagum pada Toni. Sekali dia benar - benar jatuh cinta, dia akan mengekspresikannya dimana pun.
Untunglah tadi dia tetap menuruti perintah Toni untuk membawa kamera underwater miliknya. Diam - diam dia sudah merekam moment romantis Toni dan Eliana. Dan dia bertekad suatu hari dirinya harus melakukan hal yang lebih spektakuler dibanding Toni.
Sementara itu Eliana muncul bersama Erik. Mereka semua dengan sigap membantu wanita muda itu naik ke yacht. Berbeda dengan Toni, ekspresi Eliana terlihat begitu terharu sampai hampir menangis.
Toni tertawa, wajahnya berseri - seri karena senang berhasil memberi kejutan untuk istrinya.
"I love you, Sayang. Bagaimana perasaanmu?" Toni langsung menghampiri Eliana yang sedang melepaskan peralatan menyelamnya. Tanpa peduli dengan orang - orang di sekitarnya, Toni merengkuh wajah Eliana dengan kedua tangannya dan menciumnya mesra di mulut.
Eliana tersenyum di sela - sela ciuman itu, dia merasakan perasaan Toni. Menggebu - gebu, meledak - ledak dan yang paling utama adalah bahagia.
Orang - orang menatap mereka dan ikut terhanyut dengan moment romantis itu. Livia datang dan menghampiri mereka sambil membawa sebuah kotak beludru berwarna merah yang posisinya terbuka. "Kissing scene-nya udahan, nanti bisa lanjut di kamar." tegur Livia sambil menyodorkan kotak tadi kepada Toni.
Eliana menoleh dan terbelalak. Di dalam kotak yang terbuka itu terlihat seuntai kalung dengan berlian berbentuk hati berwarna biru. Siapa pun yang pernah menonton film titanic akan mengenali kalung cantik yang dipakai oleh Rose di film itu.
Kalung 'The Heart Of The Ocean' dikenal juga sebagai 'La Coeur de La Mer'. Kalung berlian milik Louis XVI yang dipotong berbentuk hati setelah revolusi Perancis.
Toni tersenyum dan mengambil kalung itu. "Maaf, aku belum pernah melamar dan menikahimu dengan benar. Jadi aku bermaksud mengganti moment itu dengan hari ini dan hari - hari selanjutnya dalam hidupku."
Eliana menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya mulai berkaca - kaca. Sungguh! Dia tak mengharap apa pun dari Toni. Baik lamaran atau pun pernikahan mewah, baginya Toni terus bersamanya saja sudah lebih dari cukup.
"Eliana... " panggil Toni lembut saat menyadari Eliana terharu sampai hampir menangis. "Are you okay?"
Eliana mengangguk - angguk, tak berani berkata - kata takut menangis. Saat ini saja air matanya merebak bercampur dengan sisa - sisa air laut yang masih membasahi pipinya.
"Sini aku bantu memakainya." Dengan gerakan yang luwes, Toni memasangkan kalung itu di leher Eliana.
"Charming." bisik Toni sambil memandangi wajah Eliana yang terlihat semakin cantik dan bersinar. Dia mengecup kening Eliana penuh perasaan dan lama. "My wife, my partner in life, my home, my anchor and love in my life."
__ADS_1
Oh! Ya ampun. Sepertinya Eliana ingin pingsan melihat Toni begitu romantis sepanjang hari ini. Dia hanya bisa memandang wajah tampan Toni. Matanya bergerak dari satu sisi ke sisi lain, merekam setiap mikro ekspresi yang tercetak di wajah suaminya. Menyimpan baik - baik semua memori itu di dalam sebuah file bernama my soulmate.
"Terima kasih, Toni. You gave me more than happiness."
(Kamu memberiku lebih dari pada kebahagiaan.)
"No." gelang Toni. "You deserve it. Aku suamimu, dan inilah yang harus aku lakukan untukmu. Terima kasih bersedia datang kepadaku."
Eliana tersenyum, setetes air mata meluncur di pipi. Toni merentangkan tangannya dan Eliana langsung masuk ke dalam dekapan Toni. Merasakan aman dan nyaman dalam pelukan hangat suaminya. "I love you, Toni."
"I love you more, Eliana."
*
Sore itu Eliana sudah cantik dengan summer dress terbaiknya di kamarnya. Make up flawless yang disapukan ke wajahnya membuat kulitnya semakin terlihat mulus dan glowing. Tak lupa dia memblow rambut panjangnya supaya rapi dan jatuhnya alami.
Perasaan bahagianya masih belum surut saat Livia menyapanya dan menanyakan apa Eliana membutuhkan sesuatu.
"Aku tak menyangka." kata Eliana berulang kali pada Livia. Dia tak menemukan kosakata lain di kamus bahasa dalam otaknya selain kalimat tadi. Sikap Toni yang terlalu manis, benar - benar mengejutkannya. Dia hangat dan perhatian, Eliana sudah tahu dari dulu.
Tapi romantis?
(Di luar imajinasinya.)
Saat memutar ulang bagaimana pertama kali Toni berkata menyukainya di kamar rumah sakit, kencan ala rakyat jelata di danau, moment Toni meminta menikah dengannya dengan cara memaksa dan terburu - buru. Benar - benar tak menyangka Toni bisa melakukan hal yang begitu menyentuh hati.
Cheryl mengangguk. "Alex juga ngomong begitu. Aku juga kaget waktu dia minta bantuan kita untuk merekam video underwater kalian."
"Apa? Video?" tanya Eliana kaget.
"Yaaah... kamu sih asyik sendiri. Apa kamu tidak menyadari kami ada di dekat situ dan Alex merekam semuanya?" tanya Livia, dia memutar bola matanya. Sebal! Eliana sudah seperti kuda saja, matanya lurus ke depan. Tidak bisa melihat selain Toni.
Eliana tertawa pelan, wajahnya merah karena malu. Tanpa sadar dia sudah melupakan segalanya, hanyut dalam pesona Toni. Tenggelam dalam cintanya.
"Hey." sapa Toni. Tau - tau dia sudah muncul entah sari mana. Terlihat makin tampan dan gagah dengan polo shirt dan celana semi formal. Rambutnya ditata dan janggutnya dicukur rapi. Matanya memandang penampilan Eliana. "Adorable." puji Toni.
__ADS_1
Eliana menunduk dan tersipu.
Livia berdehem. "Sebaiknya aku tinggalkan kalian berdua disini." katanya.
Dia tak tahan lagi melihat pasangan yang terus bertatapan mesra dan bahasa tubuh mereka yang malu - malu mau. Kulitnya mendadak terasa gatal - gatal dan alergi karena terlalu overdosis adegan romantis. Buru - buru dia menyelinap pergi dan menyelinap ke dek kapal.
Diam - diam Toni bersyukur Livia meninggalkan mereka hingga dia bisa mendorong Eliana kembali masuk ke dalam kamarnya dan mencium istrinya.
His wife!
His true friend in life!
His special person!
The one who will spend the days with him!
Pikiran seperti itu membuat perasaan Toni semakin 'menggila'.
"I do love you." bisiknya di sela - sela ciuman mereka. Berapa kali pun dia mengucapkan tiga ata itu, tak akan pernah cukup.
Punggung Eliana terdorong ke tembok, dia terkunci antara tembok kabin dan Toni. Tangan Toni menyusuri lekukan lehernya, melewati kalung yang tadi diberikan Toni kepadanya, sentuhannya begitu halus dan membangkitkan sesuatu yang terpendam di dalam dirinya. Dia menarik Toni mendekat, dan menautkan jari - jari mereka.
"The heart of the ocean is you." bisik Toni.
"Hm?"
"Cintamu padaku seluas samudera, Eliana."
Note
Charming : Menawan
Soulmate : belahan jiwa
__ADS_1
adorable : menggemaskan