
"Kamu--" Tuan Peterson menatap penuh kemarahan pada Alex. Beliau bolak balik membuka dan menutup mulutnya, "Tiffany... "
Saking shock-nya, sang Grandpa tidak bisa mengucapkan satu kalimat secara utuh.
Alex menggepalkan tangan dan menguatkan hati untuk menambahkan ceritanya. "Ya. Tiffany dan saya sempat one night stand." Lalu dia menoleh kearah Toni dengan tatapan penuh penyesalan. "Maafkan aku, Toni. Tapi aku sudah mengakuinya kepadamu, bahkan sebelum kejadian amnesia itu."
"KURANG AJAR!"
BRAK!
Tuan Peterson memukul papan catur di hadapannya sekuat yang dia bisa. Emosinya meluap, dadanya naik turun dengan cepat. Kalau saja dirinya masih muda, pasti Alex sudah habis dihajar olehnya.
"Grandpa!"
"Tuan Peterson!"
John dan Toni berdiri cepat, mereka khawatir Tuan Peterson collapse karena terlalu marah. Wajah John sedikit pucat, campuran antara khawatir dan shock. Sungguh John tak pernah menyangka Alex dan Tiffany akan berbuat sejauh itu. Pantas saja Tuan mudanya terkesan tak menyukai baik Alex maupun Tiffany.
Lain John, lain pula dengan Toni. Reaksinya benar - benar diluar dugaan. Sebutlah dia 'gila', karena satu - satunya orang yang berbahagia mendengar pengakuan Alex adalah dirinya. Tak sedikit pun cerita Alex membuatnya berang, mendadak saja matanya seperti terbuka. Dia seperti melihat sebuah titik terang di ujung sana.
Hilang ingatan membuat Toni melupakan banyak kejadian, sekeras apa pun dia berusaha mengingat, otaknya tidak mau mengikuti keinginannya. Ingatan itu tidak pernah kembali semuanya secara utuh.
Dia hanya bisa mengingat suatu kejadian saat ada seseorang menunjukkan foto dan menceritakan kembali kejadian sebelum hilang ingatan. Atau saat dia bertemu dengan seseorang, dia akan mengingat wajah dan nama tapi memori diantara mereka banyak yang kosong. Selebihnya dia hanya mengandalkan naluri dan logikanya untuk menilai kejujuran seseorang.
"Kenapa kamu melakukannya?" tanya Tuan Peterson akhirnya, suaranya terdengar kecewa.
Alex menarik napasnya kesal dan menjawab dengan nada tinggi. "Karena kakakku, Anthony is always number one. Dan aku hanya pemeran pengganti."
Tuan Peterson terperangah kaget melihat api di mata Alex. Dia bisa merasakan kebencian Alex pada Toni.
"Apa Grandpa akan mencariku seperti Grandpa mencari Anthony kalau aku menghilang?" tanya Alex sambil tersenyum sinis. "Never! Grandpa hanya mencariku hanya saat membutuhkanku untuk menggantikan posisinya yang kosong waktu itu."
Toni tertegun, jadi selama ini Alex iri padanya? Padahal diam - diam dirinya iri pada Alex yang bisa bebas bersenang - senang diluar sana, sementara dirinya harus hidup dengan membawa nama Peterson. Hidup kadang selucu itu. Seringkali orang lain justru ingin berada di posisi yang selama ini kita anggap tidak menyenangkan.
"Selama ini, aku berusaha dua kali lipat lebih keras darinya, aku juga belajar dua kali lebih tekun darinya. Tapi tetap saja he is the heir. And I'm the loser." ucap Alex lagi. Suaranya terdengar getir.
__ADS_1
(Dialah pewaris. Aku pencundangnya.)
"Lalu apa hubungannya perusahaan dengan Tiffany? Kamu tahu kalau dia calon istri kakakmu?" geram Tuan Peterson.
"Karena dia calon istri Anthony, maka aku harus mendapatkannya. Apa pun yang Anthony miliki, aku juga mau." Alex mengangkat bahunya. "Dan ternyata, she is easy to get." ucap Alex sambil tertawa meremehkan.
"Jadi kamu menginginkan semua milik Anthony?" tanya Tuan Peterson tak percaya.
"Ya. Dan saat itu, aku ingin dia menghilang dari hidupku." Alex berkata jujur.
John terkesiap, matanya menyipit. Pikirannya kembali ke peristiwa dimana Toni menghilang, bagaimana penyelidikan selalu berakhir buntu. Tak ada jejak CCTV, bahkan GPS ponsel Toni berhenti begitu saja di kantor. Polisi pun tak menemukan apa pun.
Kalau saja Tuan Peterson tidak dirawat oleh Eliana di St. Paul, mungkin saja Tuan mudanya belum ditemukan hingga hari ini. Tanpa sadar, John menatap Alex dengan tatapan menyelidik.
Menyadari tatapan John, Alex berkata.
"Kamu benar, John. Aku membiarkan Anthony menghilang."
"ALEX!" panggil Tuan Peterson berang. Suaranya menggelegar tapi juga bergetar. Tanggannya menunjuk Alex. "Aku tak mau melihatmu lagi, pergilah dari Peterson!"
Di saat suasana yang begitu tegang dimana Tuan Peterson naik darah, ketika John masih termenung dan berkutat dengan pikirannya untuk menyatukan puzzle kasus menghilangnya Toni. Dan juga, Alex yang bersiap menerima konsekuensi atas perbuatannya. Ternyata Toni justru tertawa. Tawanya terdengar lega seperti terlepas dari beban. Hingga semua orang menoleh kepadanya.
John melongo. Sebuah acara yang biasanya membutuhkan persiapan berbulan - bulan, kini harus dilakukannya dalam tujuh puluh dua jam. Matanya melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, mencoba mengkalkulasi waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkannya.
"Are you crazy, Toni?" desis Tuan Peterson.
"I am." Seulas senyum lega terpancar di wajah Toni. "Bukankah pengakuan Alex adalah solusi yang kita cari Grandpa? Sekarang aku bisa melepaskan diri dari Tiffany."
Alex menghembuskan napas lega. "So, you got what I mean?" Dia bangkit berdiri dan bersiap meninggalkan ruangan. Tanggung jawabnya selesai sekarang, dia hanya ingin membereskan masalahnya dengan Toni. Benar kata Eliana, biar bagaimana pun Toni dan dirinya adalah kakak beradik.
Toni mengangguk mantap. "Yeah. Thank you by the way."
"Tunggu, Alex." Tuan Peterson tidak jadi melepaskan cucunya begitu saja. Dia menyipitkan mata. "Kenapa akhirnya kamu memutuskan untuk mengakui kepada kami?"
"Karena Eliana... "
__ADS_1
"Apaaaa?" tanya Tuan Peterson dan Toni bersamaan.
John mendengarkan dengan seksama, dia mencatat setiap micro ekspresi Alex. Tak mau kecolongan lagi. Selama ini dirinya sudah dibodohi oleh Alex.
"Karena aku menyukai Eliana sama seperti kamu, lebih dari suka. Aku mencintainya. Perasaanku berbeda dengan saat aku ingin merebut Tiff dari Toni."
John dan Tuan Peterson berpandangan, sedangkan Toni menahan napas dan mencoba memahami Alex. Biar bagaimana pun, Alex sedang berusaha untuk jujur. Dia menunggu Alex melanjutkan kalimatnya.
"Aku belajar banyak darinya. Dia tak menyalahkan aku saat aku mengatakan aku mencintainya, kekasih kakakku sendiri. Di matanya aku bukan pecundang. Lagipula, aku tak ingin melihatnya bersedih. Kalau memang dia tak mau bersamamu, aku berharap itu karena dia tak mencintaimu. Bukan karena Tiffany atau orang lain."
Alex berhenti sejenak dan menatap Toni dengan sunggguh - sungguh. Kemudian dia berkata. "Bukankah lebih baik dua orang berbahagia dari pada tiga orang yang bersedih?" ucapnya sambil menepuk bahu Toni.
"Tunggu, Tuan Alex. Apa Nona Tiffany melakukannya atas dasar cinta?" tanya John penasaran.
Ada yang janggal dari cerita Alex. Kalau dari sisi Alex, jelas motifnya adalah envy, lalu bagaimana dari pihak wanita. Normalnya wanita melakukan hubungan s-e-k-s atas dasar suka sama suka.
Dan, kalau Tiffany menyukai Alex. Kenapa wanita itu tak mau membatalkan pernikahan? Rumit!
"Dia kecanduan."
"Apa?"
"Uhm, yeah... bisa dibilang hiper-s-e-k-s."
"APA?!" seru John, Grandpa dan Toni serempak.
Dan selanjutnya, Alex menceritakan secara runtut kejadian demi kejadian yang diketahui olehnya. Ini adalah sebuah pengakuan tentang kesalahan yang dilakukannya terhadap Toni dan amnesianya.
Bersambung ya....
Note :
So you got what I mean? \= Jadi kamu mengerti maksudku?
__ADS_1
envy \= ungkapan rasa tak suka yang cenderung benci/marah terhadap apa yang dimiliki atau dicapai seseorang.