My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 29 -- Gelisah


__ADS_3

Rock Town In The Morning,


James Peterson menghela napasnya dalam - dalam, dia duduk di meja makan bersama John yang setia menemaninya sejak Toni menghilang. Tangannya mengelus dadanya yang terasa tak nyaman sejak semalam.


"Anthony masih belum mau tinggal disini?" Tanyanya pada John.


John menggeleng. Dia memahami perasaan Tuan Besarnya. Beliau terlihat sangar namun diam - diam sedang merindukan cucu kesayangannya.


"Jam berapa dia datang?" Tuan Peterson melirik jam dinding yang di desain dengan tema mid century dengan warna coklat gelap kombinasi emas di setiap angkanya.


"Maaf, Tuan. Menurut informasi dari bodyguard disana, Tuan Muda belum muncul dari apartment-nya."


Tuan Peterson menarik napas panjang, tangannya kembali menyentuh dadanya, rasa nyeri semakin terasa. "Kenapa tak kau telepon saja? Suruh dia cepat kemari, aku ingin menemuinya lalu beristirahat."


Oh, ya ampun. Dadanya mulai sesak.


"Maaf, Tuan." John berdehem. "Tuan Anthony menolak saat saya memberinya ponsel baru, Tuan." Lanjutnya sambil menundukkan kepala, merasa bersalah. Dia tak menyadari Tuan besarnya meringis menahan rasa sakit.


"Jo-- hn... " panggil Tuan Peterson, suaranya sedikit tersendat. Rasa sakit semakin menekan di bagian dada, otot - otornya seakah terjepit satu sama lain. Keringat dingin mulai bercucuran di kening.


"Ya, Tuan?" jawab John. Kepalanya tak lagi menunduk, kini dia siap menerima perintah.


Ha?


Toni terkejut. Tuan Peterson nampak kesulitan bernafas. Beberapa kali beliau nampak berusaha menghirup udara dan mengatur napasnya, tapi gagal.


"Apa Tuan baik - baik saja?" Rasa panik mulai merayap di hati John.


"Suruh Toni pulang sekarang!" Tuan Peterson kembali meringis. "Aku ingin ... --"


Ugh! Tuan Peterson tak bisa menyelesaikan kalimatnya. Kini rasa sakit itu menjalar sampai tenggorokan. Rasanya seperti tercekik. Napasnya sesak.


"TUAN!" John meloncat dari tempat duduknya.


Tuan Peterson megap - megap, sambil memegang dadanya, tangannya mere--mas pakaian yang dipakainya dengan mulut terbuka. Seperti ikan yang keluar dari air, menggelepar - gelepar.


John bergerak cepat, dia menahan tubuh Tuannya yang hampir melorot dari kursi. Tepat di pelukan John, Tuan Peterson collapse.

__ADS_1


Mendadak saja ruang emergency di rumah sakit St. Mary ramai orang. Lebih ramai dari biasanya. Beberapa mobil mewah berderet di depan lobby, orang - orang bertubuh tegap dan berambut cepak memakai setelan jas hitam dengan kacamata menyebar di beberapa lokasi.


Semenjak kedatangan sebuah mobil ambulance yang dikawal oleh mobil mewah, suasana di ruang emergency berubah.


John dan beberapa pelayan berada di salah satu sisi ruang emergency yang sudah di steril. Nampak John begitu sibuk dengan ponselnya, berusaha menghubungi orang - orang yang ditugaskan untuk mengawasi dan menjaga Toni selama di Lake Wood.


Dibalik tirai, James Peterson terbaring. Tubuhnya sudah tak sekuat seperti waktu muda, tapi semangatnya tetap menyala untuk tetap hidup mengalahkan penyakit yang menggerogoti tubuhnya.


Tuan Peterson melepaskan masker oksigen yang menutupi hidungnya. Setelah satu jam ditangani dengan intesif, kekuatannya berangsur - angsur pulih. Mata yang sudah tua itu menatap dengan sorot tajam dan mengeluarkan perintah.


"Panggil Anthony, suruh dia belajar mengambil keputusan menggantikan aku."


John sedikit tergagap. "Ba-ik, Tuan."


Dia panik. Pasalnya dari tadi Toni tak muncul dari apartmentnya. Seperti yang sudah - sudah, orang - orang suruhannya selalu stand by dibelakang apartment, siap membawa Tuan mudanya kapan pun dia mau kembali ke Rock Town.


Hhhh... , John kapok menuruti Toni untuk tak membeli ponsel baru. Akibatnya dia susah dihubungi di saat - saat genting seperti ini. Bergegas John menyuruh pelayan untuk menggantikannya berjaga, sedangkan dia keluar untuk berkoordinasi dengan para bodyguard melalui panggilan telepon.


Now! Let's see. Apa yang dilakukan Toni saat Grandpa mengalami serangan jantung.


Toni duduk di coffee shop yang masih sepi dan baru saja buka, dia bermaksud menenangkan diri karena hatinya terus saja gelisah sejak dia meninggalkan Eliana di apartment.


"Something bad's gonna happen."


(Sesuatu yang buruk akan terjadi.)


Suara itu terus mengusiknya, mengganggu pikiran dan ketenangannya sehingga dia mengurungkam niatnya untuk pergi ke Rock Town. Terapi dan training dari John masih bisa menunggu. Toni memberi excuse pada dirinya sendiri.


Toni menyesap kopi yang tadi dipesannya, matanya memandang keluar coffee shop. Melihat orang - orang yang berseliweran dengan pandangan kosong. Pikirannya terbelah antara ingin kembali ke apartment tapi khawatir Eliana bertanya - tanya kenapa dirinya bolos kerja. Di sisi lain, hatinya merasa tak tenang setiap kali mengingat raut wajah Ibu Rebecca.


"Hey, Toni. Sendiri?" sapa seorang pelayan coffee shop, dia langsung menjatuhkan pan-tatnya di kursi seberang Toni. Mereka kini duduk berhadapan.


"Hey, dude.... " jawab Toni sambil nyengir.


"Baru sebentar, sudah keren saja kamu." ucap Rick lagi sambil terkekeh.


Dia mengamati penampilan Toni yang sedikit berbeda dari biasanya. Hari ini Toni mengenakan kemeja slim fit lengan pendek dan celana kain. Berbeda dengan penampilan Toni selama ini yang hanya mengenakan jeans dan t-shirt. Tak bisa dipungkiri, aura orang kaya semakin terpancar dari Toni.

__ADS_1


"CK! I'm handsome as always." sahut Toni percaya diri. Alisnya naik turun seolah berkata "Iya nggak sih?"


Kemudian mereka melanjutkan obrolan sambil terkekeh, hubungan mereka memang baik saat Toni masih bekerja disana. Baru saja perasaan Toni sedikit teralihkan.


Eits, sudut mata Toni menangkap segerombolan orang berpakaian hitam seliweran di dekat coffee shop.


Sial! Tak sabaran sekali mereka, kenapa mereka tak menunggunya di tempat biasa. Baru saja dia nongkrong sebentar sudah dijemput.


Aaargh, Toni benar - benar tak ingin ke Rock Town hari ini. Rick, si pelayan, terus melanjutkan ceritanya. Mata Toni masih tertuju kepada gerombolan bodyguard-nya yang tak tahu diri, namun telinganya menangkap sepotong kalimat.


"Semalam adikmu kesini di saat kami tutup. Kasihan, dia terlihat bingung dan khawatir."


"Hah? Eliana?"


"Yeah, memangnya kamu punya adik lain selain Eliana."


"Kamu yakin Eliana kesini? Semalam?"


"Of course, man. Irma yang bercerita, dia kasihan melihat wajah Eliana yang bingung waktu tahu kalau kamu sudah resign dari sini."


'What?! Jadi Eliana tahu kalau dia resign semalam?'


For the sake of heaven, is this the answer?


Bersambung ya....


Note :



Hey, dude \= Hey, Bung.


Handsome as always \= tampan seperti biasa


Unfall \= kondisi darurat


Nosy : sikap yang selalu mau tahu urusan orang lain.

__ADS_1



__ADS_2