My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 64 -- Menyembunyikan Kenyataan


__ADS_3

"Nona Tiffany Wilson." panggil Toni, suaranya tenang dan dalam. Dia menggeser kursi di hadapan Tiffany dan duduk disana. "Aku tidak akan mencabut laporan soal kejahatan ini sampai anda membuka mulut. Dan Bryan akan bersaksi untuk memberatkanmu."


"Apa?!" Tiffany nampak sangat terkejut.


Toni tersenyum miring, "Bryan akan melakukan apa pun untuk lolos dari tempat ini. Entah apa yang akan dilakukannya." Toni mengangkat bahunya. "Seperti yang kita tahu, setiap manusia akan mencari cara untuk survive."


Tiffany menelan salivanya, pahit. Dia mulai menggigit ujung kukunya. Toni mengamati setiap detail gerakan Tiffany. Wanita itu mulai gelisah, kepercayaan dirinya sudah goyah. Mata Tiffany bergerak menghindar tatapan Toni, mencoba menyembunyikan kebenaran.


Tiffany menarik napas dalam - dalam dan menjawab kesal. "Aku tidak tahu. Aku sama sekali tak tahu apa yang terjadi di Chandelier Club."


Toni tak merespon apa pun, tangannya bersedekap di depan dada dan matanya tak lepas dari Tiffany. Tajam dan dalam, hingga wanita itu belingsatan, serba salah dan merasa tak nyaman.


"Aku benar - benar tak tahu obat itu dari mana! Aku juga tak tahu siapa yang memasukkan obat ke minuman Eliana. Tapi aku memang membencinya."


Toni menaikkan alisnya, menunggu Tiffany emosi dan membeberkan sendiri kesalahannya.


Bagi Tiffany, Toni yang tak merespons adalah pukulan paling keras. Tak pernah sebelumnya Toni seperti ini, dulu dia selalu bersedia membantunya setiap kali ada kesulitan. Toni memang bukan orang yang romantis, tapi dia pria yang baik.


Tiffany berharap bisa menyentuh hati Toni. "Maafkan aku. Aku hanya tak suka kamu bersama perawat itu. Uhm, yeah... aku cemburu padanya. Sejak kamu kembali, perhatianmu hanya kepadanya. Kamu tak lagi peduli kepadaku." Air mata meleleh di pipi Tiffany. Drama Queen. Dia lupa kalau dia yang lebih dahulu berkhianat.


Toni mengatupkan mulutnya erat - erat, menahan emosi supaya tak kelepasan bicara. Saat ini dia hanya mau fokus pada kasus pelecehan dan keracunan minuman yang dialami oleh Eliana. Hubungannya dengan Tiffany sudah pasti berakhir. Dadanya bergemuruh setiap kali mengingat kejadian di malam lak-nat itu. Seandainya bisa menuruti kata hatinya, ingin rasanya dia menghancurkan sesuatu.


"Ayolah, Honey. Please, cabut laporan itu! Apa kamu tega membiarkanku di penjara?" rengek Tiffany memohon belas kasihan Toni.


"Apa yang ingin aku katakan sudah aku katakan." Toni bangkit dari duduknya. Dia sudah muak berbicara dengan orang yang tak pernah menyadari kesalahannya. Enough is enough. Lebih baik dia kembali ke rumah sakit, menunggu istrinya yang sedang tak berdaya.


Dirinya benar - benar merindukannya. Seharusnya saat ini mereka sedang bersama dan menikmati masa - masa bahagia mereka, bukannya terpisah seperti ini. Eliana terbaring di rumah sakit, sedangkan dirinya berada di kantor polisi mendengarkan hasil penyelidikan mereka.

__ADS_1


"HONEY!"


BRAK


Toni tak mengacuhkan panggilan Tiffany, dia keluar dan membanting pintu.


*


"Tuan Peterson."


Suster Brown memanggil Toni dengan nada ceria dan bahagia. Dia menoleh. "Oh, hai suster." sapanya lesu.


"Good news! Istrimu sudah siuman." ucap suster Brown, matanya berkilat lega dan ikut berbahagia.


"O'ya... ?"


Suster Brown berjalan menghampiri Toni dan mendekat kepadanya. "Tapi dia tidak ingat dengan kejadian yang terjadi sebelum dia tak sadarkan diri. Dokter berkesimpulan bahwa istri anda mengalami shock berat sehingga otaknya menolak untuk mengingat kejadian itu. Dan sebaiknya anda tidak memberikan informasi yang berlebihan. Biarkan dia beradaptasi dulu."


"Silahkan, Tuan. Istri anda sedang menunggu anda." Suster Brown mempersilahkan Toni untuk segera menemui Eliana.


O'ya! Toni tergeragap dan bergegas pergi ke ruangan Eliana. "Thank you, Suster." katanya sambil setengah berlari.


Dia begitu terburu - buru hingga hampir saja tergelincir karena menginjak lantai yang licin setelah dipel. Namun dia tak peduli, dan segera melanjutkan langkahnya. Dia berhenti sejenak di depan pintu, memegang kenopnya dan mengatur napas.


"Eliana!" Serunya begitu membuka pintu kamar dan langsung berlari masuk ke dalam ruangan.


"Toni." balas Eliana sambil tersenyum. Dia sedang duduk diatas tempat tidurnya, terlihat pucat tapi senyumnya merekah saat melihat kedatangan Toni.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, Toni langsung menghambur dan memeluk Eliana erat - erat. Kemudian menghujaninya dengan ciuman di wajahnya. "Thanks, God. Thanks, God. Thanks, God. You're safe. Thanks, God." Bisiknya berulang - ulang.


Eliana tersenyum lemah saat bibir Toni menciumi wajahnya berkali - kali. "Toni, kenapa aku bisa berada disini?"


Toni melepaskan pegangannya pada Eliana, dan balik bertanya. "Kamu tak ingat apa yang terjadi?"


Eliana menggeleng. Dia menggenggam tangan Toni sementara suaminya duduk di tepi ranjang.


Toni menghembuskan napasnya, jadi benar apa yang dikatakan suster Brown kalau Eliana tidak ingat kejadian semalam.


"Kamu keracunan alkohol. Kamu ingat berapa banyak yang kamu minum?"


Eliana menggeleng dan menunduk. "Maaf."


Hati Toni trenyuh saat melihat Eliana meminta maaf dan bersedih saat seharusnya dia yang meminta ampun pada wanitanya itu. "Eliana... "


"Maaf, Eliana. Aku sudah menghancurkan hari bahagia kita."


Ya Tuhan! Perasaan berdosa seketika menyelimutinya, bayangan kejadian lak-nat itu kembali berputar di ingatannya. It's a kind of nightmare. Dia ingin menangis tapi tidak, tidak boleh. Dia harus kuat.


"Bagaimana dengan urusanmu? Apa sudah selesai?"


Toni tertegun, hatinya perih. "Eh... iya. Ehm, istirahatlah dulu. Aku akan cerita saat kamu sudah benar - benar pulih. Aku ingin kita jalan - jalan."


"Honeymoon?"


Lagi - lagi hati Toni seperti disayat. Dia terdiam. Apakah masih pantas dirinya bersama Eliana yang begitu baik? Apakah dia layak menikmati honeymoon bersama Eliana? Padahal karena kecerobohannya, Eliana hampir saja celaka.

__ADS_1


Toni mengecup punggung tangan Eliana dengan hati yang hancur. "Yes, honeymoon." ucapnya, berusaha menampilkan senyum terbaiknya.


Bersambung ya....


__ADS_2