My Toni Is Mr Anthony

My Toni Is Mr Anthony
Bab 24 -- Flashback From That Day 2


__ADS_3

Dari semalam Eliana bertingkah aneh, tak biasanya dia tidur awal dan langsung berangkat kerja tanpa sarapan. Semalam Toni sempat melihat Eliana menangis. Dan pagi ini, dia bahkan tak sarapan dan beralasan akan merawat Tuan Peterson.


Toni ingat benar kalau hari ini Eliana mendapat shift di siang hari, kenapa dia harus terburu - buru?


Tak ingin berdebat, Toni bergegas menyiapkan bekal Eliana. Untuk apa memaksa seseorang berbicara kalau dia sedang tak mau bercerita. Apalagi orang itu adalah Eliana, Toni sama sekali tak mau menekan wanita itu. Lebih baik dirinya mencari tahu sendiri.


"Selamat Pagi, Tuan Muda."


Seorang pria mengenakan setelan jas rapi menyapa Toni saat dia sedang menguntit Eliana.


Toni tak merespons, dia terus berjalan seolah pria di depannya adalah makhluk kasat mata. Matanya terus mengawasi kemana saja Eliana pergi sambil menjaga jarak aman antara Eliana dan dirinya.


Astaga! Apa yang dilakukan oleh Eliana? Dia tadi berpamitan mau bekerja. Tapi sekarang apa yang dilakukanya? Dia malah keluyuran kesana kemari sepagi ini. Dari satu rumah sakit ke rumah sakit yang lain. Setiap kali keluar dari gedung, dia selalu tertunduk lesu.


"Selamat pagi, Tuan Muda." sapa suara itu lagi. Pria itu kini berjalan sejajar dengan Toni.


Hmm....


Toni melirik kearah pria itu, merasa tak nyaman karena terus diikuti.


"Maaf Tuan Muda, saya diperintahkan untuk menyampaikan pesan dari Tuan besar."


Mata Toni kembali ke fokusnya semula, yaitu Eliana. Dia masih tak bereaksi apa pun terhadap perkataan pria itu.


"Tuan."


Pria itu berjalan lebih cepat dan berdiri di depan Toni dengan posisi menghadang, menghalangi langkah Toni.


Toni mendengus. "Apa maumu, John?" Tanyanya kesal tanpa menoleh sedikit pun kepada pria itu. Fokusnya terus tertuju pada Eliana yang berjalan masuk ke dalam taman kota.


John terkejut. Dari informasi yang di dapat dari Tuan Besar, Tuan mudanya ini sedang mengalami gangguan ingatan karena sebab yang belum jelas. Dan tadi dia sudah bersiap untuk menjelaskan dengan banyak bukti di ponselnya.


"Anda mengingatku Tuan?"


"Kamu tahu kalau aku melupakan semuanya, John?" Toni balik bertanya.

__ADS_1


Saat Toni bertanya, saat itu juga dia menyadari kalau keluarganya pasti sedang mencari - cari dirinya. Tapi Toni belum mau pulang, dia masih ingin bersama Eliana. Bagi Toni, kehidupan barunya saat ini sudah lebih dari cukup.


"Iya, Tuan." jawabnya sambil membungkuk dengan sopan. Toni melihat kearah Eliana untuk memastikan dimana posisi wanita itu. Ah, wanita itu duduk di bangku taman. Mungkin saja dia kelelahan karena terus mondar mandir dari tadi pagi.


Toni melirik John yang masih setia berdiri dengan posisi membungkukkan badannya, siap menanti perintah. Dia tahu John tak akan pergi sebelum mendapatkan apa maunya. Toni menghela napas.


"Katakan apa yang mau kamu katakan. Bersikaplah biasa saja!" perintah Toni.


Ah, akhirnya John bisa bernapas lega. Tuan mudanya mau mendengarkan. Dia pun meluruskan kembali posisi tubuhnya.


"Ehm... iya Tuan. Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan kepada anda." Jawab John buru - buru, dia khawatir Tuan Mudanya berubah pikiran.


"Jelaskan padaku dengan cepat, dan jaga jarak dariku. Aku tak mau ada yang melihat kita sedang berbicara."


"Baik, Tuan." John mulai mengatur jarak.


"Cepatlah. Ada apa? Perhatikan gerak bibirmu! Jangan terlihat sedang berbicara!" perintah Toni lagi. Dia berbicara tanpa menghadap John.


Astaga! Apa - apaan Tuan mudanya ini, bisa - bisanya mengeluarkan perintah seperti ini.


'Baiklah, baiklah! Asalkan anda tak kabur lagi, belajar ventriloquism pun akan aku lakukan, Tuan.' protes John dalam hati.


Pria itu mengeluarkan rokok dari sakunya, dan menyalakannya. Berpura - pura asyik menikmati pemandangan sambil merokok. Sudah lama dia tak merokok. Untunglah, kebiasaan membawa sekotak rokok di saku belum bisa dihilangkan. Dan hari ini dia akan merokok untuk menyempurnakan aktingnya.


"Yang pertama... , Tuan Peterson mencari anda kemana - mana. Beliau bahkan mencari anda sendiri hingga ke kota ini. Dan karenanya, dia jatuh sakit dan dirawat di St. Paul." ucap John sambil menghembuskan asap rokok ke udara.


Oh, Tuan Peterson!


Toni paham sekarang kenapa dia terasa begitu familiar dengan nama pasien rewel Eliana. Setiap kali Eliana bercerita, Toni merasa dekat dengan pria itu. Dari certita John, sepertinya hubungan pria tua itu dengan dirinya pun bisa dibilang cukup dekat.


Sayangnya, Toni belum bisa mengingat banyak hal selain wajah yang samar - samar dan beberapa nama. Tapi mungkin kalau bertemu langsung akan lain cerita. Seperti saat tadi bertemu John barusan, dirinya langsung mengenali pria itu.


"Hmm... Aku baru saja menemukan beberapa wajah dan nama di ingatanku. Hanya saja aku masih tak tahu, bagaimana hubunganku dengan mereka. Apa saja yang aku kerjakan selama ini."


"Anda mengingatku Tuan?" tanya John untuk memastikan.

__ADS_1


"Bagaimana aku tidak ingat dirimu? Kamu adalah pria menyebalkan yang selalu menguntitku kemana - mana." protes Toni sambil tetap memasang wajah tanpa ekspresi supaya tak membuat orang lain curiga kalau mereka berdua sedang berbicara.


John tersenyum tipis menanggapi omelan khas Toni.


"Perusahaan kacau karena anda kabur, Tuan. Rapat RSUP pun --- "


"Hey, aku tidak kabur. Aku kecelakaan dan... " potong Toni cepat.


Ugh!


Serangan itu datang kembali, kepalanya mulai terasa berdenyut. Sial! Ini selalu terjadi setiap kali dirinya mencoba mengingat sesuatu.


Toni menghirup napas untuk merelaksasi otak dan pikirannya.


"Anda tak apa Tuan?" Tanya John cemas. Ekspresi datarnya berubah menjadi khawatir, Toni mendekat.


Rasa sakit di kepala Toni mereda. "Tetap disana dan jangan melihat kearahku, John. Aku tak mau Eliana melihatku bersamamu." katanya.


"Tuan besar memberi saya perintah untuk membawa anda pulang, Tuan."


Toni diam saja, dia memasukkan kedua tangannya ke saku celana, kakinya menendang kerikil yang ada didekatnya. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, seolah - olah sedang menunggu seseorang.


Tampak Eliana sedang lesu dan melamun, duduk termenung di bangku taman sepertinya dia sedang ada masalah. Otak Toni segera berputar, memikirkan kemungkinan - kemungkinan apa yang terjadi pada Eliana.


"Kita bicara besok, John. Ada yang harus aku lakukan." kata Toni. Dia harus segera menemui Eliana.


"Tapi, Tuan... "


"Aku tidak akan kabur, temui aku dibelakang gedung apartment. Aku yakin, kamu sudah menyelidiki dimana aku tinggal." potong Toni cepat, kakinya sudah berjalan menuju bangku dimana Eliana duduk.


"Tuan."


"Jangan ikuti aku lagi! Ini perintah!" desis Toni. Dia menghentikan langkahnya dan berkata tanpa menoleh, "Bilang ke Grandpa, aku akan menemuinya besok."


Bersambung ya....

__ADS_1


NOTE:


1. Ventriloquism \= ventroquisme \= ilmu yang mempelajari tehnik berbicara dari perut tanpa menggerakkan bibir, hingga suara itu seolah - olah berasal dari suatu barang atau berasal dari tempat yang jauh.


__ADS_2