
"Ayo tidur." bisik Toni setelah mematikan hairdryer, tangannya mengelus rambut Eliana yang sudah dia keringkan. Helaian halus itu lolos di antara jari tangannya, Toni menyukainya. Dia suka rambut Eliana, kulit Eliana dan juga tubuh Eliana.
Eliana menunduk, kakinya sudah terbalut sandal kamar dan tubuhnya terasa hangat di tutupi oleh kimono handuk yang tebal dan hangat.
"Kenapa?" tanya Toni, nadanya terdengar sedih dan sedikit kecewa. Ternyata tak semudah itu menghapus trauma Eliana, dia menangkap keraguan di dalam mata Eliana.
"Aku mau tidur sendiri saja... Apa boleh?" tanya Eliana akhirnya. Dia mendongak pada Toni yang berdiri di sebelahnya, hanya memakai handuk tipis yang terlilit di pinggangnya.
OH!
Toni menarik napas dan menghembuskannya perlahan. "Apa kamu yakin mau sendiri?" tanya Toni dengan ragu - ragu. Dia yang tak yakin untuk meninggalkan Eliana sendiri.
Eliana menganggukkan kepala, tangannya menarik kimono yang dipakainya supaya lebih rapat. "Only for today. Aku ingin sendiri."
"Baiklah." Toni mengalah, dia tak mau memaksakan kehendaknya pada Eliana. Saat ini yang menjadi prioritasnya adalah menuruti semua keinginan Eliana, membuatnya merasa nyaman. "I'll bring you to bed."
(Aku akan membawamu ke tempat tidur.)
Eliana mengangguk.
Toni membimbing istrinya itu keluar dari kamar mandi dan membantunya naik ke tempat tidur. Kemudian menyelimuti Eliana hingga wanita itu merasa nyaman.
"Kamu yakin tidak mau aku temani malam ini?" Tanya Toni. Matanya melirik ke sisi kosong tempat tidur besar yang seharusnya menjadi saksi cinta mereka malam ini. "Aku tidak akan menyentuhmu sampai kamu mengijinkannya. Kalau kamu mau, aku akan menemanimu saat tidur."
Eliana terlihat bimbang. Toni nampak ragu untuk meninggalkan istrinya.
'I just wanna hug you when we're sleeping.'
(Aku hanya ingin memelukmu saat kita sedang tidur.)
Tapi ternyata, rasa enggan itu masih mencengkeram perasaan dan hati Eliana. Ketakutan itu kembali muncul. "Maaf, Toni... "
"Hhhh... okay, tidak apa - apa." Toni mencoba memahami perasaan Eliana, semua ini tak mudah baginya.
Eliana jadi merasa bersalah, tapi dorongan untuk menghindar dari Toni lebih besar. "Maaf, Toni." Tangannya terulur, menyentuh pipi Toni. "Aku janji... besok aku sudah kembali seperti semula." Suaranya terdengar lembut, membuat Toni sedikit lebih tenang.
Telapak tangan Eliana terasa hangat menyentuh rahang Toni, mengelus bulu - bulu halus sepanjang garis wajahnya. "Aku tidak akan pernah memaksamu melakukan apa pun. Aku cuma khawatir padamu, Eliana. Kapan pun kamu membutuhkan, jangang pernah ragu atau pun segan, karena aku ada di kamar sebelah."
__ADS_1
Eliana tersenyum. "Terima kasih, Toni... "
Toni mengusap kepala Eliana. "Can I get a good night kiss then?"
Eliana tertawa kecil, membuat Toni merasa bahagia. Akhirnya, dia berhasil membuat istrinya tertawa. Tawa pertama setelah kejadian itu.
"Of course, My husband." Eliana menarik wajah Toni mendekat dan memberinya ciuman selamat malam dengan lembut.
*
Aneh, benar - benar aneh! Tadi dirinya ingin sendiri. Sekarang begitu Toni keluar dari kamar, Eliana malah tak bisa tidur. Matanya terbuka lebar menatap langit - langit kamar. Dia tidur terlentang, melihat sekelilingnya.
Toni tadi mematikan lampu kamar tapi membiarkan gorden kamar sedikit terbuka supaya cahaya lampu taman bisa menyusup masuk melalui jendela kaca dan menciptakan suasana redup di kamar yang ditempati Eliana.
Tak ada suara apa pun di mansion ini, sepi dan sunyi. Membuat Eliana semakin merasa sendiri.
Detik berganti menit, Eliana makin gelisah. Perasaan berdosa menyergapnya, istri macam apa yang memilih tidur sendiri dan tak mau bersama suaminya? Istri macam apa yang menunda melakukan kewajibannya untuk membahagiakan suami?
Toni terlalu baik kepadanya. Lembut, perhatian dan tidak memaksakan apa pun kepadanya. Menuruti keinginan istrinya, meski mungkin saja bertolak belakang dengan keinginan hatinya sendiri.
Eliana melempar selimut, menepis khawatir dan ragu. Dia menurunkan kakinya dari tempat tidur yang terlalu besar untuk dipakainya seorang diri. Dia kembali ke kamar mandi untuk bersiap - siap. Dirinya tak akan ragu lagi, mEmberikan apa yang menjadi hak Toni, suaminya.
Sementara itu di kamar sebelah, yang berukuran lebih kecil dari kamar utama, Toni juga tak bisa tidur. Dia gelisah, namun berusaha untuk memejamkan mata sambil berharap kantuk segera datang menghampiri. Lelaki itu menghibur dirinya sendiri dan terus merapal mantra.
'Evertything's gonna be okay, will be okay. Tomorrow is a better day.'
(Semuanya baik - baik saja, akan baik - baik. Besok adalah hari yang lebih baik.)
Toni berbaring terlentang, pikirannya melayang, memutar ulang kembali setiap detail apa yang dilakukannya untuk mempersiapkan pernikahannya dengan Eliana. Semua sudah sesuai dengan rencananya, tidak ada yang terlewat. Toni bahkan sudah merancang malam pertama romantis dan berkesan di cottage. Dia sudah membayangkan apa saja yang akan dilakukannya bersama istri tercinta.
Toni berguling ke kanan kiri di ranjang berukuran king size, hingga kelopak matanya mulai memberat. Kantuk sudah mulai datang saat pintu kamar terbuka. Cahaya lampu dari koridor masuk melalui pintu yang terbuka, menerangi kamar Toni yang gelap.
Siluet tubuh Eliana jatuh di lantai kamar saat dia masuk tanpa suara.
"Toni... "
Toni tidak bergerak, dia tidur dengan posisi miring dan memunggungi pintu kamar.
__ADS_1
"Toni... " panggil Eliana. Tangannya menyentuh punggung Toni yang polos, laki - laki itu tidur tanpa pakaian lengkap.
"Hm?" Toni berbalik. Matanya menyipit karena cahaya lampu dari koridor terasa menyilaukan.
"Eliana?"
Toni tergeragap, kaget dan khawatir. Dia langsung beringsut dari posisinya, hendak menyalakan lampu kamar. Tapi Eliana menahannya. "Jangan, aku malu."
"Oh... "
Cup!
Tanpa peringatan, Eliana langsung mencium Toni. Kecupannya lembut, tanpa keraguan. Kegelisahan yang dari tadi melingkupinya, kini menguap begitu saja.
Kecupan lembut Eliana seperti air hujan yang menetes di hati Toni yang gersang. Toni memejamkan mata, menikmati cinta yang diberikan oleh Eliana. Baru saja Toni membuka mulut hendak membalas ciuman Eliana, wanita itu mundur. Menyudahi ciuman mereka.
Seketika Toni membuka mata, ada rasa kecewa menyusup di hati Toni. Dia ingin lagi, tidak akan pernah puas.
Eliana berdiri di tepi tempat tidur, namun ada yang membuat Toni lebih terkesima. Penampilan Eliana. Mata Toni menatap inchi demi inchi dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapan kagum seorang laki - laki yang sedang jatuh cinta dan takjub. Tatapan yang diinginkan oleh setiap wanita.
"Kamu pakai bajuku?" tanya Toni, saat melihat kemejanya yang tampak oversized di tubuh Eliana.
Toni mengangguk dan tersenyum manis, dia berdiri dan mendekat kepada Eliana. Tangannya membelai pipi Eliana dengan hati - hati seolah sedang memegang barang yang mudah pecah.
Eliana memejamkan mata, merasakan hangatnya tangan Toni. "Aku pinjam bajumu, karena belum mempersiapkan apa pun untuk malam ini." bisiknya.
STRIKE!
Kata - kata Eliana menghapus sesuatu yang menjadi batas diantara mereka. Bagaikan mendapat jackpot, Toni langsung merengkuh Eliana dan membawanya ke dalam ciuman yang dalam....
Bersambung ya....
SECURITY ALLERT!!
Next chapter, specilal buat 21+ ya, Gaes 😜
Let me show the evil side of mine.
__ADS_1