
Meeting Room at Wilson Group,
"Akh!" des-ahan Tiffany bergema didalam ruangan, kepalanya terdongak, cahaya lampu menyiraminya, dia memejamkan mata ketika Bryan membawanya terbang ke langit.
Salah satu rekan bisnisnya itu merunduk, mengecup bibir Tiffany sambil berbisik, "Hold your moan. Jangan sampai mereka curiga, Tiff. We can play while waiting, hm?" Kemudian matanya memandang Tiffany dengan sorot memuja.
Tiffany menyukai perasaan diinginkan dan dikagumi oleh para kaum pria.
Dia menahan agar tak ada suara keluar dari mulutnya, matanya melirik ke arah jam dinding. Sebentar lagi meeting akan dimulai, mereka tak punya banyak waktu. Tapi dia ingin mencobanya dan tak berhenti sebelum mencapai garis finish.
Ya. Dia sedang melakukan hal tabu di kantor bersama rekan bisnis sekaligus teman hang outnya. Bryan sengaja datang lebih awal supaya mereka bisa sekedar saling 'menyapa' sebelum meeting dimulai.
Geraman tertahan terdengar dari belakangnya, tegang dan meng--g@ir@hkan. Pintu ruangan bisa terbuka sewaktu - waktu dan mengekspose kegiatan mereka, but it's challenging. Memacu adrenalin Tiff semakin tinggi.
Tiff mengubah posisi mereka, dia berbaring diatas meja rapat yang besar.
"Do me harder... deeper... " perintah Tiff sambil terengah. Mereka harus cepat.
Bryan menoleh ke arah jam dinding, dia harus benar - benar menyelesaikan semuanya. Atau mereka akan ketahuan! Sebentar lagi meeting akan mulai, dan orang - orang itu akan ssgera berdatangan ke ruangan ini.
A nice quickie before meeting.
Lalu Bryan berinisiatif menarik kaki Tiff, he wants to go deeper untuk memudahkan mereka lebih cepat memasuki garis finish.
"GOSH." umpat Tiff diantara gulungan ombak yang mulai menerpanya. Rasa takut akan ketahuan memberinya sensasi tersendiri.
"Rub yourself." sahut Bryan ditengah - tengah usahanya untuk menyenangkan Tiffany.
Kedua kaki Tiff terentang bersiap menerima setiap gerakan Bryan. "Aku hampir lupa." Diantara gelombang yang menerpanya, Tiff berkata, "Bersikaplah biasa dan sopan padaku di depan siapa pun terutama di hadapan kedua orang tuaku, Bryan. Jangan coba - coba memanfaatkan rahasia ini untuk memojokkanku."
Tiff menatap Bryan yang berdiri menjulang diatasnya dengan tatapan penuh ancaman. Baginya, Bryan sama saja dengan pria lain yang dekat dengannya. S3x machine!
"Uhmm... Nope, Tiff. Resikonya terlalu besar bagiku kalau sampai ini terbongkar... sshhh." Bryan menekan Tiff semakin dalam, semakin intense.
Tiff tersenyum puas, mendapatkan kesepakatan dari Bryan. "Let's go again, Bryan."
Deritan meja yang bergoyang ditingkahi dengan suara Tiffani dan hembusan napas keras Bryan. Mereka berdua sedang bekerja keras untuk mencapai finish bersama - sama.
"I'm cumming!" seru Tiffany.
"Me, too... argh... "
TOK TOK TOK!
__ADS_1
Bunyi ketukan menghentikan semua aktivitas mereka. Keduanya segera berbenah.
***
"Jadi kapan kamu akan menengok Tuan Peterson?" Tanya Tuan Wilson.
Meeting terpaksa ditunda karena big boss datang dan ingin berbicara dengannya. Lebih tepatnya, meeting digantikan oleh Papa Tiffani dan sekretafisnya. Sementara Tiffany dengan berat hati menemui Papanya.
"As soon as I can." sahut Tiffani acuh tak acuh.
Dia mencoba duduk di kursinya dengan tenang meski tak nyaman dengan tubuhnya yang lengket. Apa boleh buat, kalau Papanya sudah bicara, maka akan susah untuk disela. Terpaksa dia harus menahan diri.
"St. Mary memberi kabar kalau Tuan Peterson collapse dan dia di rawat disana. Biar bagaimana pun dia pengganti ayahnya Anthony. Kamu harus menengoknya. Jangan sampai hubungan kita dengan Peterson rusak. Aku beralasan kamu sedang sakit karena shock calon suamimu menghilang."
Suara Tuan Wilson terasa seperti lagu lama yang membosankan di telinga anaknya, sementara Tiff merasakan sisa - sisa aktivitasnya mulai membanjir keluar. Membasahi underwe@r yang dikenakannya secara terburu - buru.
Hampir saja tadi mereka terpergok jika tidak bergegas merapikan diri. Untung saja mereka tidak melepas semuanya hingga dengan cepat memakai kembali pakaian dalam dan merapikan penampilan.
"Calon suamimu, Anthony... "
'What?'
Tiffany memiringkan telinganya, ketika samar - samar telinganya menangkap nama pria yang pernah disukainya. Anthony Peterson.
"Aku bertanya kepadamu, apa kamu akan meneruskan hubunganmu dengan Anthony?"
"Papa bilang tadi kalau dia juga masuk rumah sakit? Kenapa?" Tiffany balik bertanya. Dia ingin membaca situasi lebih dahulu sebelum memberikan keputusan.
Terus terang menghilangnya Anthony sama sekali tak membuatnya tertekan, dia justru merasa bebas bergaul dengan pria mana pun tanpa khawatir ketahuan oleh calon suaminya.
Mengenai gosip?
Pengaruhnya sebagai aktivis wanita dan juga anak keluarga Wilson, membuatnya dengan mudah menutup segala macam skandal. Apalagi dia pintar memanfaatkan 'kelebihannya' sebagai wanita untuk memperoleh tujuan tertentu.
"Anthony mengalami amnesia, dugaannya karena kecelakaan... " Tuan Wilson menggantung kalimatnya. Dia mengusap - usap dagunya.
"And, then?" tanya Tiffany. Untuk orang yang ingin tahu, wajah Tiffany terlihat datar tanpa gejolak emosi apa pun.
"Peterson sudah menemukan cucunya beberapa waktu lalu dan membawanya pulang. Anehnya dia tak memberiku kabar sama sekali mengenai ditemukannya Anthony itu." Tuan Wilson nampak berpikir.
"Sama sekali tak ingat siapa pun?"
"Peterson bilang begitu. Dan dia bermaksud menunda pernikahan kalian hingga cucunya benar - benar pulih. Bagaimana menurutmu?"
__ADS_1
"Apa Papa yakin dia tak ingat apa pun? Siapa pun? Papa sudah bertemu dengannya?" Tifanny memberondong Papanya dengan pertanyaan.
"Aku belum menemuinya, Peterson melarangku menemui Anthony karena sedang beristirahat setelah terapi. Aku sudah cek dan menurut data dari rumah sakit sih benar kalau dia hilang ingatan."
Tiffanny manggut - manggut, ada sedikit lega karena pernikahannya di tunda. Namun dia juga kesal karena Toni kembali lagi ke kota ini.
"Baiklah, aku akan mengunjungi calon suamiku dalam beberapa hari ini." kata Tiffany enteng tanpa beban.
Melihat ekspresi Tiffany yang biasa saja, Tuan Wilson mengerutkan keningnya. Tak terlihat sedikit pun rasa khawatir.
"Jangan bilang kalau kamu masih berhubungan dengan kembaran Anthony." ucap Tuan Wilson dengan nada tajam.
"Adik Anthony, Papa." jawab Tiffany sambil memutar bola matanya.
Papanya seringkali menyebut Alex sebagai kembaran Anthony. Wajah dan perawakan mereka begitu mirip kalau dilihat dari jauh. Berbeda lagi dengan Tiffany, baginya kakak beradik itu adalah dua kutub yang berbeda. Alex bisa menyelaraskan antara business dan kesenangan. Berbeda dengan Anthony yang businessa adalah business.
Tuan Wilson mendekatkan kepalanya ke wajah Tiffany. "Jadi benar kamu masih berhubungan dengannya?"
"Kenapa tidak boleh? We're just friends." jawab Tiffany, dia menggigit lidahnya supaya tak keceplosan kata - kata selanjutnya.
'with benefit.'
"Kamu tahu? Hidupmu akan lebih nyaman kalau menikah dengan Anthony. Masa depannya lebih bagus dibanding Alex."
Tiffany mendengus dan tertawa ironi. "Cih, sejak kapan Papa peduli padaku? Bukankah ini pernikahan bisnis?"
Bersambung ya....
Beberapa kata memang typo untuk menghindari sensor ya Gaes. 🤭
Note :
Friends with benefit \= Teman Tapi Mesra
A nice quickie \= s-e-k--s kilat 😝😚
Challenging \= menantang
Prefers a bad boy than the conservative one \= lebih suka yang sedikit nakal daripada yang kuno.
__ADS_1