
"Hey Al, kenapa tiba - tiba menyusul kami kesini? Siapa yang memberitahumu tempat tinggal kami? Sama siapa kesini? Sendiri? Jam berapa kamu sampai disini?" Eliana memberondong Alex dengan rentetan pertanyaaan yang tadi juga sempat diberikan oleh Toni pada Alex. Dan sekarang pertanyaan itu keluar dari mulut Eliana, seperti senapan yang memuntahkan peluru.
"Wow! Wow! Satu per satu, Eli." seru Alex sambil mengangkat tangannya seperti orang menyerah. Tanpa sengaja, dia menangkap tatapan membunuh dan penuh ancaman dari Toni yang sedang memarut keju untuk ditabur diatas garlic bread.
Alex menelan ludahnya dan meralat. "Pelan - pelan ngomongnya, Kakak ipar."
Eliana menarik Alex untuk duduk di meja makan bersama Toni. Diatas meja makan sudah terhidang beberapa macam menu. Oatmeal, potongan buah dan madu, garlic bread, omelet, rosti (kentang parut yang digoreng), poached egg (telor rebus setengah matang atau tiga perempat matang, dimasak tanpa cangkang), telor mata sapi, roti bakar oles alpukat dan juga bacoon. Selain itu, Toni juga menyiapkan beberapa macam minuman seperti jus jeruk, satu poci teh yang tadi sudah dibuatnya dan satu poci kopi serta su-su dan gula yang disajikan terpisah.
Untuk tiga orang, porsi yang tersaji sudah seperti pesta. Tapi ternyata Toni dan Eliana mampu menghabiskan apa saja yang tersaji di meja makan. Aktivitas fisik yang telah dilakukan oleh mereka, tanpa sadar membuat mereka membutuhkan makanan lebih untuk mengembalikan energi yang terbuang semalam.
Melihat cara mereka berdua makan, selera makan Alex jadi terpacu. Dia ikut - ikut bersemangat mengisi perutnya dengan makanan banyak - banyak.
"Jadi Grandpa yang menyuruh kamu datang kesini?" tanya Eliana yang asyik dengan sepotong roti gandum dan poached egg diatasnya. Dia menaburkan garam dan merica diatas poached egg-nya.
Alex mengangkat alis dan melirik sekilas kearah Toni. "Hm... iya... "
"Ada pesan apa untukku? Kenapa Grandpa tidak meneleponku langsung saja?" tanya Eliana to the point. Namun semua pertanyaannya disampaikan dengan nada santai dan tak sedikit pun tersirat nada sinis atau pun curiga. Seakan pembicaraan mereka ini hanyalah percakapan basa basi.
Alex melirik Toni yang duduk di hadapannya. Tak jauh berbeda dengan Eliana, Toni punya pertanyaan di matanya. Dia terlihat menunggu jawaban dari Alex karena tadi pertanyaannya belum dijawab oleh Alex gara - gara Eliana tiba - tiba muncul. Mau tak mau, Alex membuka alasannya datang kesini secara mendadak.
"Ya, Grandpa memintaku untuk membantu Toni menjaga Eliana. Dia khawatir kejadian waktu itu terulang lagi. Bukankah lebih banyak orang lebih baik?"
__ADS_1
Sebelah alis Toni terangkat, dan rahangnya mengeras. Tatapannya penuh intimidasi.
"Sorry, Toni. Itu bukan kata - kataku, aku hanya mengucapkan perkataan Grandpa." Alex menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada. "Yah, intinya Grandpa kepikiran terus. Dia tak mau lagi kecolongan seperti waktu itu." Alex mengucapkan kalimat terakhirnya dengan hati - hati. Tak ingin mengingatkan Eliana kembali pada kejadian nahas hari itu.
"Jadi kamu itu bodyguard kami, huh?" geram Toni. Dia menatap Alex dengan pandangan tajam, jelas - jelas tersinggung dengan perkataannya. Berani sekali mereka meragukan kemampuannya. Selama di Australia ini, Toni bahkan sudah mau patuh kepada Grandpa untuk menggunakan bodyguard setiap kali berpergian di tempat ramai. Tak sedetik pun dia berani meninggalkan Eliana seorang diri.
Alex menegakkan punggung. "Ya. Demi keselamatan Eliana." jawabnya dengan mantap seperti tentara yang siap maju perang.
Kedua laki - laki itu saling bertatapan dengan pandangan seolah ingin menerkam satu sama lain. Mendadak suasana ruangan terasa mencekam, Eliana menoleh ke Toni dan Alex bergantian.
Apa yang sedang terjadi dengan kakak beradik ini?
Astaga! Sepertinya Grandpa memindahkan masalah di Lakewood ke Australia.
"Kamu tahu kalau aku melakukannya untukmu, Eliana! Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan." suara Grandpa terdengar tegas dari speaker ponselnya. Eliana protes mengenai kedatangan Alex di rumah mereka saat ini.
Eliana menghembuskan napasnya. "Iya, aku tahu kalau maksud Grandpa baik. Hanya untuk berjaga - jaga. Tapi mengirim Alex kemari? Sepertinya berlebihan, Grandpa... " keluh Eliana. Tangannya memijat - mijat pangkal hidungnya, pening.
"Memangnya kenapa? Alex bisa menjagamu saat Toni ada keperluan tertentu."
"Tapi aku jadi merasa tidak enak sama Toni, Grandpa." rengek Eliana.
__ADS_1
"Lho dia kan sudah menjadi adik iparmu. Adik Toni itu adikmu juga kan?" Tuan Peterson malah bertanya pada Eliana, heran.
Eliana kembali menghela napas, masalahnya tidak sesederhana yang dipikirkan oleh Grandpa. "Toni itu orangnya posesif, Grandpa. Apa Grandpa lupa kalau mereka pernah berkelahi karena aku?" suara Eliana terdengar putus asa.
Tuan Peterson terkekeh. "Eliana, aku khawatir padamu. Apa kamu tahu kalau sebenarnya suamimu belum benar - benar bisa meninggalkan pekerjaannya saat ini? Bagaiamanak kalau ternyata dia ada perlu ke suatu tempat?" Siapa yang akan menjagamu?" tanya Tuan Peterson.
Eliana diam dia tak bisa menjawab pertanyaan Tuan Peterson.
Menyadari Eliana tidak ada respons, Tuan Peterson, dengan lembut, melanjutkan kata - katanya. "Kalian menikah dan melakukan perjalanan serba mendadak. Tentu saja ada satu dua hal yang harus dia tangani di sela - sela vacation kalian. Ada beberapa hal yang mungkin harus ditangani oleh suamimu." Tuan Peterson mengucapkannya perlahan - lahan, kata demi kata seperti seorang bapak yang menasehati anaknya.
Apa yang dikatakan Tuan Peterson memang ada benarnya. Dari penampakan luar, Toni terlihat santai dan menikmati liburan bersama dirinya. Tapi Eliana menyadari kalau otak Toni terus berputar, bekerja. Beberapa kali dia terbangun tengah malam dan memergoki Toni sedang mengerjakan sesuatu di laptop atau tabletnya.
Suaminya itu bekerja tengah malam, diam - diam tanpa sepengetahuannya. Mungkin begitulah hidup seorang CEO, dengan mobilitas dan tuntutan kerja yang tinggi. Sepertinya cepat atau lambat, Toni akan kembali ke mode bekerjanya yang super sibuk. Seperti saat mereka belum saling mengenal.
"Tapi... Alex juga punya kesibukan sendiri. Kenapa harus mengurusi aku?"
"Alex tidak masalah, Eliana. Tanggung jawabnya tidak seperti Toni. Dan dia sangat senang saat aku menyuruhnya menemanimu. Dia kesepian disini."
Kalau Tuan Peterson sudah bersabda, tidak ada lagi yang bisa melawan. Terpaksa semua harus patuh. Terpaksa mereka beradaptasi dengan suasana yang kadang kala terkesan aneh.
Kedua laki - laki itu saat ini sedang berada di ruangan yang berbeda. Toni ada di ruang tamu dengan tabletnya, sedangkan Alex meminjam peralatan gym untuk melakukan physical exercise. (Latihan fisik)
__ADS_1
Kedatangan Alex hari ini berhasil membatalkan niat Toni untuk mengajak Eliana ke The Great Barrier Reef. Salah satu terumbu karang terbesar dimana kamu bisa menikmati scuba diving, snorkeling, dan melihat kehidupan laut yang penuh warna dan eksotis.