
Pandangan sang Mama tertuju pada botol - botol minuman yang sudah kosong, tergeletak begitu saja di lantai, dan juga bekas remah - remah serta kantong bungkus makanan ringan bertebaran di atas meja. Nyonya Wilson menggelengkan kepala melihat tingkah laku minus putrinya, yang tak diketahui oleh siapa pun kecuali dirinya.
"Jadi Mama kesini hanya mau menanyakan soal Anthony?" cibir Tiffany.
Dia tak suka Mamanya datang dan mengganggu waktu santainya, semalam dia sudah menghabiskan waktu bersama Bryan di club dan berlanjut hingga pagi di penthouse-nya. Pagi hari di saat mata dan kepala masih berat, Mamanya sudah menyuruh sopir menjemput dan mengantarnya ke rumah keluarga Peterson.
"Dan juga memastikan kalau kelakuanmu sudah lebih baik!" jawab Nyonya Wilson ketus.
"Aku menghubungimu berkali - kali tapi kamu tak merespons. Kenapa kamu tak menghubungiku setelah pulang dari rumah Peterson?" selidik Nyonya Wilson.
Oh'ya?
Mana ponselnya? Malas beranjak, Tiffany meraba - raba sofa dengan tangannya. Nah, ini dia! Benar saja! Ada lima belas panggilan tak terjawab dan pesan beruntun dari mamanya. Ah, dan juga notifikasi dari seseorang yang mungkin bisa menghiburnya malam ini.
"Bagaimana kondisi Anthony? Lebih tepatnya, aku ingin tahu bagaimana hubungan kalian!" tanya Nyonya Wilson lagi, alisnya terangkat tinggi. Tak ada senyum di wajahnya yang masih cantik berkat perawatan mahal dan rutin yang biasa dilakukanya.
"Nah itu dia! Anthony tak mengingatku. Dan yang menjengkelkan adalah dia terang - terangan menolakku." ucap Tiffany berapi - api. Dia bangkit dari tidurnya dan duduk dengan wajah cemberut.
Rasanya sungguh menjengkelkan saat dirinya tak bisa membaca ekspresi calon suaminya kemarin. Biasanya ekspresi para pria yang berkencan dengannya begitu mudah di baca, terlihat dari sorot matanya. Apakah kagum, penasaran atau bergai-rah?
Tapi Anthony? Tak ada.... Tidak ada satu pun dari ketiga kata tadi ada dalam tatapan Toni sekarang.
Sialan!
Nyonya Wilson mendengus. "Ini semua salahmu kan? Aku sudah menyuruhmu untuk menemuinya saat ada kabar kalau Anthony kembali. Aku dengar dia memang amnesia. Orang amnesia seperti dia harus diisi kembali memory-nya dengan hal - hal yang baik. Sudah seharusnya kamu terus berada di dekatnya, supaya dia bisa mengingatmu kembali." Raut wajahnya menunjukkan rasa kesal luar biasa terhadap putrinya.
Tiffany mengangkat bahunya acuh, tangannya mulai bergerak - gerak di atas layar ponselnya. Mengetik pesan kepada 'temannya'.
PRAK!
"HEY, MAMA! HOW DARE YOU ARE!" maki Tiffany pada Mamanya yang tiba - tiba saja menyambar dan membanting ponsel mahalnya. Bagi Tiffany, ponsel adalah hak dan teritorialnya, tak ada seorang pun boleh melanggarnya.
(Beraninya kamu!)
"Jauhi teman - teman kencanmu, dan kembalilah kepada Anthony Peterson. Keluarganya kaya dan terpandang, masa depannya jelas. Kamu tahu kan bagaimana bagusnya masa depan Wilson dan Peterson kalau kalian menikah." sahut Mamanya tak mau kalah.
"Don't worry, Mama. Aku suka melihat para pria menatapku kagum dan bertekuk lutut padaku. Aku berjanji padamu untuk membuat Anthony kembali padaku." Ucap Tiffany tak tahu malu.
Dia mengerlingkan mata, sambil menjilat bibirnya sens-ual. Lagi pula, Anthony tak ingat kejadian terakhir sebelum dia hilang ingatan. Ini adalah sebuah keuntungan bagi dirinya. Dia akan memikirkan cara untuk mendekatinya.
__ADS_1
Nyonya Wilson menarik napas dalam - dalam, dia mendongak menatap langit - langit ruangan. Ada rasa bersalah menyelusup di dalam hatinya.
Tiffany diinginkan baik oleh pria atau pun wanita. Kesan pertama para wanita saat melihat Tiffany adalah cantik dan mengagumkan. Sedangkan para pria akan berdecak kagum melihat kecantikannya yang nyaris sempurna.
Siapa sangka persaingan antar anggota keluarga, tuntutan orang tua dan pertengkaran kedua orang tua serta kekerasan rumah tangga membuat Tiffany melepaskan emosinya ke hal - hal yang negatif.
Tiffany tidaklah sempurna seperti penampilan luarnya.
***
Tuan Peterson berdehem keras, membuat seisi ruangan terlonjak kaget. John, Toni dan Tiff serempak menoleh. Suasana ruangan yang mencekam, membuat orang tua itu tidak betah.
"Excuse me, an old man is easily to get tired."
(Permisi, orang tua mudah lelah.)
"Ada yang bisa saya bantu, Grandpa?" tanya Tiffany ramah, dia bangkit dari duduknya.
Tuan Peterson menggelengkan kepalanya. "Tidak, terima kasih. Ada John yang bisa membantuku." Telinganya mendadak risih mendengar panggilan Grandpa dari Tiffany, sepertinya beliau mulai ketularan Toni. Antipathy terhadap Tiffany.
"Saya siap sedia membantu beliau, Nona."
Diam - diam tanpa kentara, John memperhatikan penampilan Tiffany. Gadis itu lebih langsing dari saat mereka bertemu. Tetap menawan seperti biasa. Tiffany juga berulang kali memutar love bracelet cartier di pergelangan tangannya.
'Dia gugup.' pikir John.
Matanya melirik ke arah Toni yang sama sekali tidak tertarik. Dia kembali menyibukkan diri dengan ipad di tangannya, membaca grafik - grafik yang tertera di sana.
Tuan Peterson melirik ke John dengan tatapan bertanya, "What's next? Breakfast already done."
(Berikutnya apa ini? Sarapan sudah usai.)
Menyadari tatapan Tuan Peterson, John menoleh dan langsung mengangkat bahu tanda tak mengerti.
"Ngomong - ngomong soal Anthony... , saya sangat sedih dia tak lagi mengingatku." Ucap Tiffany, matanya mengerjap seperti menahan air mata yang hampir jatuh ke pipinya. She's such a drama queen.
"Saya tahu kamu datang... untuk Toni... " jawab Tuan Peterson.
"Eh, Toni? Maksud Grandpa, apakah Anthony?" tanya Tiffany.
__ADS_1
Tuan Peterson mengangguk. Sejak Eliana tinggal di rumahnya, Tuan Peterson jadi ikut - ikut memanggil cucunya dengan panggilan Toni, terkesan lebih dekat dan akrab.
"Wow! Nama Toni juga enak di dengar. Baiklah, mulai sekarang juga akan memanggilnya dengan sebutan Toni."
'Nope, tak perlu. Toni hanya akan dipakai oleh orang yang dekat denganku saja. Aku tak suka sembarang orang menyebutku Toni." sahut Toni cepat.
Hati Tiffany mencelos. "Bukankah sebentar lagi kita akan menikah? Aku adalah orang terdekatmu, Honey." lirih Tiffany, dengan suara bergetar seperti menahan tangis. Raut wajahnya begitu kecewa dan patah hati.
Tuan Peterson jadi merasa sungkan, biar bagaimana pun Tiffany masih calon cucu menantunya. Mata tuanya memperhatikan penampilan Tiffany. Gadis itu memakai pakaian yang sopan, rambutnya tidak berwarna aneh - aneh dan make up-nya natural. Tuan Peterson bahkan mengagumi kulit Tiffany yang putih mulus, hidung mancung dan mata yang bersinar memancarkan kecerdasan.
Namun kehidupan sebagai businessman, bisa membuatnya merasakan perbedaan antara Tiffany dan Eliana. Ketulusannya. Mungkin Eliana tak secantik dan secerdas Tiffany, tapi ketulusannya bisa diadu.
'Cantik dan cerdas bisa dipoles, ketulusan tidak bisa tumbuh begitu saja.' ~Tuan Peterson~
"Tapi aku mau kita harus berpikir ulang mengenai pernikahanmu dan aku." jawab Toni. Terdengar dingin dan tanpa perasaan, meski air mata Tiffany sudah mulai mengalir.
"Kenapa? Amnesia bukan berarti menghentikan rencana pernikahan kan? Kamu bisa terapi supaya mengingatku kembali." lirih Tiffany.
"Bukan amnesia yang menjadi masalah, Nona Tiffany. Tapi aku tak punya perasaan apa pun padamu saat ini."
"Aku akan membantumu mengingat kembali cinta kita."
"Thanks. Tapi aku rasa tak perlu."
"Kenapa?"
"Karena aku memang tak mau mengingatnya lagi."
Bersambung....
Note:
Antipathy atau pratirasa adalah rasa ketidaksukaan untuk sesuatu atau seseorang, kebalikan dari simpati. Kadang-kadang timbul tanpa adanya penjelasan sebab-akibat yang rasional untuk individu yang terlibat.
Love bracelet cartier : nama jenis gelang mahal, merk cartier. Harga sekitar 112jt sekian.
__ADS_1