
A crazy Alex!
Eliana memaki - maki dalam hati, dia benar - benar merasa tak enak pada Tuan Peterson. Belum sempat Eliana bereaksi, pria itu sudah menyeretnya berjalan memutar melewati Grandpa-nya. Sepertinya berniat untuk mengajak Eliana duduk bersamanya di meja makan.
Eliana melirik Tuan Peterson dan mengirim sinyal SOS. Dia tak mau ada salah paham, apalagi kalau Toni sampai tahu. Banyak mata di ruangan ini, pelayan pun berseliweran. Yang paling penting adalah Eliana tak mau perasaan Toni tersakiti.
""LEPASKAN DIA, ALEX!"
DEG!
Suara itu menggelegar dan bergema di ruangan luas dan langsung mengaktifkan mode diam seisi ruangan. Selama beberapa detik, semua berhenti. Eliana terpaku. Tuan Peterson duduk diam di kursi rodanya dan Alex pun berdiri di tempatnya, genggamannya pada Eliana mengendor.
Eliana yang lebih dulu pulih dari kesadarannya, buru - buru menarik tangannya dengan cepat. Dengan gerakan slow motion, dia menoleh.
"Eh, Toni... "
Wajah Toni terlihat lelah dan tak suka. Bola matanya memerah, sudut matanya menyipit, memandang Eliana dengan sorot curiga. Rahangnya keras, ekspresinya seakan mau mengajak perang.
Eliana menghembuskan napasnya. Toni marah.
Dia meletakkan pot kecil yang sedari tadi dipegangnya di kursi terdekat. Kemudian melangkah mendekat pada Toni dan membuka mulutnya. "Toni-- "
Kalimat Eliana terputus saat kedua tangan kokoh Toni menariknya masuk dan mendekap erat dirinya. Toni seperti baru saja menemukan miliknya yang hilang.
Laki - laki itu memejamkan matanya, merasakan hangatnya Eliana dan menghirup aroma rambut Eliana dalam - dalam. Memastikan kalau ini bukan halusinasi atau pun mimpi. Ah, tak salah lagi. The missing puzzle already found. He feels complete. And relieve.
(Puzzle yang hilang sudah ditemukan. Dia merasa lengkap. Dan lega.)
•
"Maaf, Tuan. Percayalah, Tuan besar sedang mengatur semuanya demi kelangsungan Peterson.
"Bull-- sh-it!" maki Toni. Baginya semua pembohong, tak ada yang berpihak padanya. John, Grandpa dan Dokter Livia, tak seorang pun memberitahunya soal Eliana. Sesaat dia memang lupa, tapi tidak bisakah seseorang mengingatkannya?
Dia, Toni, berjanji pada dirinya sendiri tak akan pernah melupakan Eliana. Sebanyak apa pun dia lupa, maka sebanyak itu pula dia akan kembali ingat pada Eliana. Dan sekarang waktunya untuk kembali ke Eliana. Back to Eliana, his home. Toni menghempaskan tubuhnya ke jok mobil, dan memerintah sopir untuk membawanya ke gedung dimana helipad berada.
Wajah John memucat, tak boleh seorang CEO bertindak impusive seperti ini. Ada reputasi diri sendiri dan nama perusahaan yang harus dijaga. Orang - orang yang akan ditemui, bukanlah orang sembarangan. Mereka semua punya jabatan penting di negara ini.
"Saya akan atur waktu untuk menjemput Nona Eliana asalkan Tuan bersedia menyelesaikan agenda hari ini dan besok. Hari selanjutnya bisa saya re-schedule." Tangan John memberi kode kepada sopir untuk menunggunya selesai bernegosiasi dengan Toni.
__ADS_1
Toni mendengus. Dia diam sejenak, tak berkomentar apa pun terhadap sopir yang belum juga menjalankan mobil. Mencoba berpikir dari kaca mata dan kursi seorang CEO Peterson Corp. Melihat Tuannya sedikit tenang, John menyingkir dan menghubungi Tuan Besarnya. Tak sampai dua menit, dia sudah kembali ke Toni.
"Baiklah, berangkat sekarang ke Lake Wood dan bawa Eliana kemari. Pakai saja helikopter supaya cepat." perintah Toni.
"Maaf, Tuan. Tuan besar sudah berpesan kalau saya harus mengajak Nona Eliana ke rumah utama. Tak baik Tuan Muda terlihat berdua bersama Nona Eliana sementara rencana pernikahan dengan Nona Tiffany masih terus berjalan."
"Go to hell kau, John!" umpat Toni kesal luar biasa. Pekerjaan versus Eliana... Aaaargh!!
John hanya bisa mengelus dada, terserah mau dimaki seperti apa pun, dia ikhlas asalkan Tuan mudanya mau patuh.
BRAKK!
Toni keluar dari mobil dan melampiaskan kekesalannya dengan membanting pintu mobil keras - keras.
"Oke... aku prepare untuk meeting pertama. Setelah itu langsung maraton tanpa jeda. Majukan semua jadwal. Aku mau semua selesai sebelum besok malam." Dada Toni naik turun karena emosi.
"Hah? Tuan... "
"No debate, John." ucapnya lagi saat melihat John mulai membuka mulut dan berbicara. "Besok malam aku harus menemui Eliana."
Final!
Semua harus dilakukan dengan cermat dan tepat.
•
Eliana mengusap lembut punggung Toni dan langsung melerai pelukan Toni. Dia bisa merasakan dua pasang mata menatapnya dengan dua ekspresi yang berbeda.
Tuan Peterson dengan tatapan 'terserah apa maumu, Toni'... Grandpa gave up. Tangannya mengurut pangkal hidungnya, kepalanya pusing. Merasakan tanda - tanda akan ada peperangan Toni versus Alex.
Sementara di sebelah Tuan Peterson, Alex memasang ekspresi heran bercampur gusar. Dia kesal pada Toni yang begitu datang langsung memeluk perawat cantik yang diincarnya. Dari dulu selalu begitu, Toni selalu dengan mudah mendapatkan apa pun keinginannya. Toni si nomer satu sedangkan dirinya si nomer dua.
"Maaf, aku tidak sempat memberitahumu apa - apa." ujar Toni, dia mengusap wajahnya yang terlihat lelah.
"It's okay. Kita bisa bicara nanti. Kamu tidak mau menyapa Grandpa dulu?"
Eliana mengingatkan Toni dengan lembut dan penuh kasih sayang. Dia sedikit menggeser tubuhnya, memberi jalan supaya Toni mendekat ke Tuan Peterson.
Semua gerakan Toni dan Eliana tampak slow motion di mata Alex, perlahan tapi pasti, api mulai menyala di dalam hatinya.
__ADS_1
SRET!
"Ayo kita keluar Eli, biarkan mereka berbincang." Tangan Alex sudah merangkul Eliana, ketat. Hingga tak ada jarak antara tubuh Eliana dan Alex.
Heh?!
BUGH!
Eliana benar - benar terkejut, semua terjadi begitu cepat dan tak terkontrol.
Alex merangkulnya. Sebuah tangan kokoh menyentaknya keluar dari lengan Alex. Dan tau - tau Alex tersungkur di lantai, dia mengusap bibirnya yang berdarah dengan punggung tangan.
Sejurus kemudian Alex langsung bangkit berdiri sejajar dengan Toni, dengan pandangan menantang.
Eliana menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Sesaat dia berlari menuju Tuan Peterson, khawatir kalau orang tua itu shock karena pertengkaran kedua cucunya. Baru setengah jalan dia sudah berhenti dan menengok ke arah dua pria dewasa yang sedang berhadap - hadapan.
Mata dan mata bertemu, penuh kebencian. Rahang Toni mengeras. Dagunya sedikit terangkat menunjukkan sikap arogan saat matanya menyipit menatap adik laki - laki yang telah di stempel menjadi rival. The other side of Tony. Cold and fierce.
Panik!
Eliana panik, dia berdiri di tengah - tengah. Diantara Tuan Peterson dan dua pria yang sedang berseteru. Bingung harus kemana, mengajak Tuan Peterson keluar ruangan atau melerai pertengkaran.
Bola matanya berlarian liar kearah Tuan Peterson, kemudian berpindah ke Toni. Dan juga, ke Alex. Berganti - ganti. Tak tahu harus bagaimana.
Ya ampun!
Ya Tuhan!
Bagaimana ini? Kenapa begini? Toni memukul Alex? Oh, astaga... Astaga!!!
Bersambung ya....
Note :
1. The other side of Tony \= sisi lain seorang Toni
2. Cold and fierce \= dingin dan garang
__ADS_1